Insecure

Kalau kata temen sih ada dua hal yang banyak sekali terdapat dalam tubuh manusia yaitu ego dan lemak.

Jujur pas dengar apa yang dia katakan itu antara bikin ketawa dan tertampar, yang akhirnya saya sadar bahwa memang dalam diri manusia ego itu sangat tinggi sekali dan ego itu benar-benar membahayakan sifatnya negatif seperti yang sekarang saya rasakan.

Akhir-akhir ini saya merasa sangat insecure tapi ini bukan masalah asmara karena kalau masalah itu udah selesai saya sudah tahu harus jalan kemana. Insecure yang saya rasakan saat ini menyangkut soal pekerjaan. Jujur saya menikmati pekerjaan saya, saya menikmati profesi sebagai seorang jurnalis disebuah TV besar. Tapi kemudian ada beberapa hal yang kemudian membuat saya bertanya, sudah puaskah saya? 

Puas itu memang bagian dari ego, ego saya memang lagi tinggi-tingginya, saya tidak tahu sudah berbuat apa? berkontribusi apa? sudah membuat karya apa? semua pertanyaan itu muncul dan saya tiba-tiba merasa tidak berguna. 

Perasaan tidak berguna itu muncul karena saya merasa terasing, merasa teralienisasi (jelas soalnya saya masih manusia, kalo udah jadi alien pasti merasa ‘termanusiasi’), Itu hal yang paling membuat saya merasa insecure saat ini.

Oke let me explain, jadi saya bergabung di sebuah desk (istilah didunia kewartawanan yang berhubungan dengan fokus liputan) yang cukup aktif berdiskusi, sayangnya karena saya jarang mendapat penugasan yang berkaitan dengan desk tersebut saya merasa tertinggal, gak tau apa-apa dan ujung-ujungnya merasa tidak berguna karena tidak berkontribusi apa-apa. 

Sempat saya dipasangkan dengan salah satu koresponden yang sangat aktif dalam satu liputan, tema liputan yang spesifik lebih tepatnya karena saya juga memiliki ketertarikan yang sama. Sayangnya setelah itu saya tidak pernah mendapat penugasan yang sama, saya sering ditempatkan di tempat-tempat lain yang ujung-ujungnya saya mengeluh dalam hati, selalu mengeluh dan jujur mengeluh itu tidak enak, lebih ke berdampak negatif ke diri sendiri. Keluhan saya karena saya tidak menyukai liputan yang lain selain desk yang saya inginkan,  saya tidak mengerti ekonomi, saya tidak mengerti tentang olahraga tapi saya meliputi hal-hal tersebut yang menurut saya membosankan. 

Jujur banget pengen balik lagi meliput hal-hal yang saya senangi, tapi setelah saya ngobrol dengan kawan saya malam ini, dia mengatakan bahwa ini masalah ego, mungkin saja kantor menilai saya harus belajar di tempat lain dulu sebelum kemudian balik lagi ke desk yang saya inginkan, mungkin saja saya harus memang berpindah-pindah ke desk yang lain untuk upgrade skill, upgrade ilmu saya, upgrade isu-isu yang lain. Dan mungkin ini salah satu cara untuk keluar dari zona nyaman, karena menurutnya zona nyaman itu adalah bahaya laten. Kita jadi tidak tahu hal-hal lain diluar kita, hal-hal lain disekitar. Memang itu bahaya sih karena sebagai wartawan harusnya kita tahu banyak hal, selain hal yang kita senangi. 

Sial tiba-tiba saya menangis gara-gara ini, karena memang saya tidak ingin mengerjakan hal-hal yang tidak saya sukai. Saya masih bertanya kenapa saya harus menjalani ini sedang yang lain ‘ditanam’ di satu isu sampai matang, jadinya saya merasa jadi ‘produk setengah matang’ and it sucks! 

Kawan saya mengatakan zona nyaman itu bahaya laten dan lagi-lagi ini adalah masalah ego saya, hanya pikiran saya saja. Jadi harus tetap berpikir positif. Kita bisa menilai diri kita sendiri, tapi ada orang lain yang juga bisa menilai diri kita dari apa yang mereka lihat. Sedikit banyak saya sadar, setelah ngobrol dengan kawan saya itu, bahwa kita bekerja dengan orang lain dan ada banyak pertimbangannya, tidak selamanya kita terus menerus mengerjakan hal-hal yang kita inginkan, kecuali kita bosnya!

 Ada banyak hal positif  yang bisa saya ambil dari ini semua, salah satunya bisa dapat fellowship dan ini menjadi tantangan juga buat diri saya sendiri untuk membuktikan bahwa saya mampu kok jika dipindah ke desk lain.  Nah! saya sudah bisa bilang bahwa saya mampu untuk ada di desk lain. 

Perjalan masih panjang, baru 2 tahun aja di sini udah ngeluh kayak gini, padahal mungkin ini adalah tantangan dari kantor, yang tidak pernah saya sadar jika kantor ingin melihat saya jauh lebih maju. Setidaknya kelak ketika saya bertemu dengan orang lain dan kita berbincang hal-hal diluar apa yang saya senangi, saya mampu untuk menjawab jadinya tidak malu-maluin diri sendiri khan, masak wartawan bego sih!

Walaupun dalam diri sendiri masih ada perasaan tidak rela sih, namanya juga manusia ya pasti ada perasaan tidak rela. Perasaan tidak rela itu yang menimbulkan rasa negatif sih sebenarnya dan balik lagi, ego kita menutupi hal-hal positif, ego kita itu menutupi hal-hal baik yang disiapkan semesta. Orang-orang di sekitar kita adalah orang-orang yang dikirimkan oleh semesta buat bantu kita untuk mencapai apa yang harusnya kita capai.

Poin dari panjangnya tulisan ini adalah “Kill your ego and keep your positive attitude!”

Thank you Mbak Sisim for a great conversations tonight 😛 

Advertisements

di balik pintu

Di balik pintu itu,

sebuah ruang yang kering meranggas terbakar terik hari, senja tak jua datang

ruang yang menanti hujan, agar teduh bisa dirasakan barang sejenak

ruang yang entah diberi nama apa, ada di balik pintu itu

ruang yang lengang, yang angkuh menjulang diantara menara-menara lain

ruang yang berubah menjadi suar bagi yang sesat di belantara tanya

Di balik pintu,

tak ada apa-apa pun tak ada siapa-siapa yang tinggal

meski kisah tertoreh di dinding di balik pintu, penulisnya telah larut dalam rindu yang membunuhnya pelan-pelan, mengubahnya menjadi sarang laba-laba yang ditenun waktu

jika kau berkenan, berbaliklah dan berbicaralah apa yang telah kau lalui di hari kemarin, tentang musim dingin di senja yang abu-abu, tentang hujan di negeri pelangi.

berbaliklah dan ingat lagi, percakapan di pagi yang menggigil, dan tentang kota yang terburu-buru,

di balik pintu itu,

hanya ada rasa dingin yang menyeruak, dan seorang asing yang menanti hingga dia berubah menjadi laba-laba.

Yang berulang

Fase kehidupan selalu berulang; lahir, tumbuh, menjadi dewasa, bekerja, menua lalu menutup mata. 

Diantara fase itu, kita yang memilih untuk berjalan pelan atau berhenti lalu menunggu, atau bahkan berlari. Kehidupan semonoton itu, perasaanlah yang membuatnya sedikit berwarna. 

Seperti saya, yang bepergian dari satu tempat ke tempat lain, pulang hanya untuk menukar isi ransel. Jika ada jeda, rasanya enggan untuk sekedar bangun dan merapikan tempat tidur. 

dan pagi ini saya duduk menatap dari ketinggian, kota yang sibuk membangun jalur-jalur beton agar yang pergi bisa kembali pulang, agar yang tinggal tak lagi menanti. 

Bandar Lampung, 23 September 2017