Di musim kesekian

Senja telah berlalu dimusim ketika kau membalikkan punggungmu

Musim hujan terhenti di timur ketika anginku tak lagi mampu menyapamu

Di musim-musim berikutnya aku belajar mengeja hal-hal lain yang bukan tentangmu, meski terkadang abjadmu muncul disela-sela malam.

Di musim lainnya, tak lagi kudapati dirimu, bahkan kabut pun tak lagi menyerupai bayangmu.

Dan di musim setelahnya, aku menggenggam hal lain yang tak lagi serupa denganmu.

Musim-musim tanpa senja dan aku baik-baik saja. Musim yang tak lagi menanti hujan dan aku masih baik-baik saja.

Musim demi musim berlalu dan aku masih terus baik-baik saja, hingga di musim yang kesekian kau kembali berdiri dihadapanku dengan senyum yang sama dengan tangan yang masih dingin.

Di musim yang kesekian membawaku kembali mengeja namamu yang ternyata belum aku lupakan. Di musim kesekian aku kembali menelusuri ingatanmu dan tiba-tiba rasa sakit menyeruak, memenuhi udara. Rasa sakit yang selalu tak kuhiraukan, rasa yang kupendam dalam balutan kalimat ‘semua akan baik-baik saja’

Di musim yang kesekian ini aku mendapatkan jawaban mengapa kau pergi, mengapa kau pergi, mengapa kau pergi.

Di musim yang kesekian dan rasa sakit yang terpendam memberiku jawaban bahwa aku tidak pernah ada dihatimu, tidak pernah menjadi musimmu, tak mampu menjadi senjamu. Bahwa aku hanya hujan yang mengganggu harimu dan anginku hanyalah desir yang penuh debu.

Di musim yang kesekian

Aku hanyalah musim dingin yang ingin kau lupakan

Setelah lima tahun

Setelah lima tahun akhirnya kita bertemu lagi, berbincang lagi, bertatapan lagi…setelah lima tahun. Kamu masih sama saja, cara jalanmu, setiap perkataanmu, senyummu, dan tanganmu yang dingin yang dulu pernah menggenggam tanganku. lima tahun lalu kamu menghuni sebagian hati dan pikiranku, meninggalkan jejak yang jujur hingga detik ini masih sering aku jaga, agar waktu tak bisa menghilangkannya begitu saja.

Aku pernah berkata, waktu adalah karib dan saat kamu pergi aku masih akan baik-baik saja. Dan ya, ketika malam itu aku berdiri dihadapanmu, aku merasa jauh lebih baik. Sejenak kuulurkan ingatanku tentangmu, tentang kita yang harus berhenti, tentang kamu yang pergi, dan tentang aku yang terus menyimpan tanya.

Masih saja, aku masih harus menahan rasa yang membuncah didada saat melihatmu. “Sial, dia masih sama tak banyak berubah.” Umpatku dalam hati.

Setelah lima tahun, aku sudah berjalan lagi, meski kadang sering kukunjungi kenangan itu hanya untuk mengingat kembali hal-hal yang menyenangkan, mengingat kembali detik kepergianmu dan bagaimana aku mencoba untuk tetap baik-baik saja.

Setelah lima tahun dan kau masih saja menyimpan luka yang tak pernah kau obati. Bahkan luka itu terus membesar.

Apa kau bahagia? tanyaku. Dan kau hanya tersenyum.

Setelah lima tahun, rasanya aku ingin memelukmu dan berkata “bagilah bebanmu denganku, sama seperti lima tahun lalu. Beban yang tak sedikitpun kau izinkan aku untuk memegangnya.”

Setelah lima tahun,

Akhirnya kau menjawab semua tanyaku, tentang keputusanmu pergi, tentang mengapa kita harus berhenti, tentang kamu yang hilang dan aku yang menunggu.

Semua pertanyaan yang selama ini tidak pernah aku tanyakan, karena tak ada keberanianku untuk bertanya.

Setelah lima tahun…aku lega…

Wis, Indonesia Jo

Ngana so rupa orang Jawa do sekarang,” ucap seorang kawan. Saya bingung, seperti orang Jawa bagaimana yang dia maksud.

ngana bicara bahasa Manado, mar depe logat Jawa, Manado murtad,” jelasnya lagi sambil tertawa. (Kamu berbicara dengan bahasa Manado tapi logatnya Jawa).

Kami pun tertawa.

Setelah hampir 11 tahun tinggal di Semarang, pastinya cara saya berbicara berubah; meski dirumah masih berbicara dengan bahasa Manado.

Saya dan saudara-saudara saya merupakan ‘produk’ dari dua budaya yang berbeda; bapak berasal dari Jawa, ibu yang campuran Manado-Makassar. Bisa dibayangkan betapa gado-gadonya keluarga kami.

Selain budaya yang berbeda, dirumah pun agama kami beragam. Mulai dari Islam, Kristen hingga kepercayaan ala orang Manado. Setiap tahun pasti kami merayakan lebaran dan natal, ada ketupat disamping pohon natal so biasa.

Indonesia itu ada di keluarga kami. Saya juga yakin ada di keluarga-keluarga lain, karena jika berbicara mengenai Indonesia tidak melulu soal Jawa, tapi juga Papua. Tidak hanya Islam, tapi juga Kristen bahkan aliran kepercayaan.

Tidak semua orang bisa menerima keberagaman dan perbedaan. Saya ingat, sewaktu saya pindah ke salah satu SMA negeri di Semarang, salah seorang guru bertanya asal saya. Saya pun menjawab Manado, karena saya pindah dari kota itu.

“oh kamu orang Manado,” tegas guru saya.

“Bukan, saya orang Indonesia yang berasal dari Manado,” jawab saya.

“Manado itu, kok kamu ngeyel,” ucap guru saya dengan mata melotot.

lha bapak saya Jawa kok. Jawa, Manado itu Indonesia, jadi saya Indonesia,” ucap saya juga sedikit marah. Sedikit saja marahnya, mengingat status yang masih menyandang ‘anak baru’ di sekolah itu.

“bocah kok ngeyelan, muleh kono neng kampungmu,” kata guru saya dengan menggunakan bahasa Jawa yang tidak saya pahami.

Meskipun bapak saya Jawa, dirumah kami tidak pernah berbicara dengan bahasa Jawa. Satu-satunya bahasa Jawa yang kami gunakan adalah dalem yang kami ucapkan jika dipanggil oleh bapak atau ibu.

Teman sebangku saya pun mengartikan kata-kata guru saya. Setelahnya saya pun beranjak berdiri menuju meja guru dan berkata: “Ngana jo pigi jauh nyanda usah bale nyanda bae ngana pe cara jadi guru.”

Guru saya terlihat bingung dan bertanya apa yang saya maksud. Saya pun bilang kepadanya cari tahu sendiri, karena seperti yang dia bilang sebelumnya, guru itu maha tahu.

Keberagaman itu ada disekitar kita. Sayang sekali jika dari tempat yang dianggap bisa membuat kita jadi generasi penerus bangsa, mendidik dengan cara seperti yang guru saya lakukan.

Konflik antar agama dan suku yang kian marak merupakan tanda gagalnya mental kita yang tidak siap dengan perbedaan. Kita sering melihat agama kita yang paling benar, suku kita yang paling unggul. Saya pun berpikir, Hitler udah pindah ke Indonesia ya?

Sudahlah, berhenti bertanya “apa agamamu?” “asalmu darimana?”
Cukup jawab wis Indonesia jo!

Karena Indonesia itu bukan kamu, bukan kulo, atau ngana, atau beta. Indonesia itu bukan Islam dan Jawa saja. Indonesia terlalu luas dan susah didefinisikan, karena Indonesia itu beragam.

Oleh Irine Wardhanie, Mahasiswa Sanata Dharma Jogjakarta.
Ditulis untuk diikutsertakan dalam lomba menulis kreatif, Festival Media AJI.

Marah

Saya tidak pernah semarah ini, bahkan tidur dalam keadaan marah pun selalu saya hindari. Tapi sekarang keadaan berubah. Malam dilalui dengan perasaan marah yang melelahkan hingga pagi tiba saya harus berusaha untuk menganggap semua baik-baik saja.

Saya menjadi seorang yang membenci dengan hebat, memiliki dendam yang kuat, hingga perasaan itu menjadikan saya sebagai seorang pemarah.

Saya benci pada orang yang menulis banyak hal tentang kemanusiaan tapi nyatanya mereka lebih busuk dibandingkan bangkai. Ingin sekali menampar wajah mereka!

Ketika saya bilang ” saya dilecehkan,” dan mereka hanya berkata “itu hanya becanda saja, jangan berlebihan,” saat itu saya ingin sekali memotonng lidah mereka, menyayat tangan mereka dan mencongkel mata mereka agar tak lagi berbicara, menulis, dan melihat hal-hal yang sebenarnya tak pernah mereka bela dan yakini.

Anjing, bahkan makian tersebut terlalu baik bagi pengecut macam mereka. Anjing masih berani untuk membela apa yang mereka yakini, yang mereka jaga, sedang pengecut hanya sembunyi dibalik topeng ketenaran.

Saya marah. Marah hingga dada ini mau meledak..

Laki-laki dan Permohonan untuk Jatuh Cinta

Aku hanya ingin jatuh cinta lagi Rin. Jatuh cinta kepada perempuan yang bisa selalu membuatku tertawa, jatuh cinta tanpa syarat. 

“Kau tau apa yang aku minta di depan Ka’bah?” tanyamu.

“Tunggu, jawabannya agak lama karena saya harus bertanya sama Tuhan dulu soal doamu,” ucap saya setengah bercanda sambil mengisi botol air mineral dengan air zam-zam.

“Udah penuh nih, yuk balik ke rombongan,” ajak saya.

“Aku mau jatuh cinta Rin. itu doaku,” ucapmu tiba-tiba.

Saya merasa ada yang bergetar di dada, sedikit perasaan takut dan bertanya-tanya mengapa doa seperti itu yang kau panjatkan? Apakah Tuhan telah memberi tahu perempuan seperti apa yang akan membuatmu jatuh cinta?

Saya menatapmu, laki-laki yang berdiri didepanku penuh dengan luka masa lalu.

“Ayo,” ujarku sambil berjalan mendahuluimu.

****

“Aku pernah terluka, meninggalkan seseorang tanpa alasan. Sekarang aku menyesal,” ujarmu di suatu malam.

“Apa kau pernah jatuh cinta Rin?” tanyamu.

Cukup lama aku terdiam. Mencoba berpikir jika hubungan yang aku jalin di masa lalu bisa diartikan bahwa aku pernah jatuh cinta. Seperti apa rasanya? apakah jatuh cinta itu adalah perasaan aneh yang menjalar, menggelitik seluruh tubuh? Apakah seperti itu.

“Pernah,” jawabku singkat.

“Dan tidak bertahan lama, entah dia atau aku yang memutuskan pergi. Aku tidak nyaman di sebuah hubungan,” jelasku.

“Wah..kamu kacau juga,” ujarmu.

Aku cuma tertawa.

Kau lalu bercerita, mengenai masa kecil yang menurutmu tidak menyenangkan, mengenai cita-cita yang tak terwujud, tentang dendam yang kau rasa masih menganga di dada, hingga perasaan bersalah pergi dari kehidupan seorang perempuan yang telah menunggumu. Pergi begitu saja.

Siapakah kita? Dua pesakitan yang sedang berbincang mengenai luka, tentang lalu dan ketakutan tak beralasan.

****

“Aku ingin jatuh cinta Rin,” ucapmu.

“Saat aku berdoa untuk jatuh cinta, ternyata aku jatuh cinta pada masa laluku,” lanjutmu.

Kali ini aku menatapmu tajam, seolah-olah apa yang baru saja kau katakan hanya sekedar lelucon. Lelucon yang ingin sekali aku tertawakan, tapi tidak bisa.

“Temui dia, katakan apa yang dari dulu ingin kau katakan,” ucapku.

Ada rasa sakit menjalar, hingga membuatku merasa berat untuk bernafas.

“Tidak mungkin,” ucapmu lagi.

“Temui dia, ucapkan maaf, kamu laki-laki tidak boleh jadi pengecut. Temui dia,” tegasku.

Kamu menatapku dalam. “Aku mohon untuk bisa jatuh cinta, tapi tidak mengira seperti ini,” katamu lirih.

“Temui dia, katakan apa yang mau kamu katakan. Kau bisa berjalan lebih tenang,” ujarku.

Lama kita diam, angin malam semakin tidak ramah, membuatku menggigil.

“Temui dia, tapi ingat apa pun keputusanmu, layaknya api, kau akan terbakar didalamnya.” ujarku sambil beranjak berdiri.

“Kamu tinggal memilih, api seperti apa yang membakarmu, tapi jangan pernah menyesal.”

Aku meninggalkanmu terdiam di malam itu. Entah kau sadar atau tidak, api yang kau pilih telah membakarku.