selalu ada senyum di balik bencana #1

selalu ada cerita dibalik bencana…itu yang saya rasakan hari ini..sensasi jadi relawan bencana merapi tetap saja hal ini adalah pengalaman menarik…

Jumat (5/11) kampus meliburkan semua mahasiswanya karena hujan abu yang lumayan lebat dari semalam. sebelumnya (4/11) merapi mulai beraksi lagi….mbah merapi batuk-batuk lagi, dan saya kehilangan momen untuk evakuasi bareng anak-anak mapasadha padahal udah nunggu dengan ranger satannya natas dari pagi sampe malam untuk bantu back-up tenaga ternyata pas kita udah pada pulang malah bencana dimulaiiiiii…sayaaaa cembuuuurrrruuuu…….aaahhhhh tidak ikut evakuasi, tidak merasakan sensasi relawan…entahlah…tapi saya hanya ingin ada disana bareng mereka merasakan hujan abu merasakan jadi abu-abu….aaarrrgghhh sudahlah sudah lewat juga!

balik lagi ke hari jumat yang diliburkan ini…sempat kuliah sih tapi jam 8 kuliah translation selesai dan saya masih dalam keadaan misuh-misuh alias marah-marah karena nilai mid-test tidak sesuai harapan (setaaaannn!!!!), menuju lantai 2 student centre sanata dharma, masuk kedalam ruang natas dan mulai lagi misuh-misuhnya, tiba-tiba datang mas Bange (anak mapasadha) yang manggil-manggil “Yem..Peyem…lagi selo rak” (Yem…Peyem ada waktu gak) aku jawab “iya mas butuh tenaga ya?” ujarku… dan anak-anak mapasadha butuh 10 orang buat bangun tenda komando di kampus paingan yang semalam jadi posko pengungsian mendadak…setelah menelpon kiri-kanan dan naik-turun tangga buat nyari “korban” akhirnya dapat juga, alhamdulillah! tapi disaat yang bersamaan datang mas Sempal yang juga anak mapasadha butuh paling tidak 2 orang untuk assessment di GOR Mlati bareng Pak Koci dan Mas Muka…”sekalian bawa aqua” katanya, akhirnya saya memutuskan akan dibagi 2 tim, yang cowok semua bangun tenda di paingan bareng anak-anak MS (Media Sastra), saya dan Laras naik ke GOR Mlati bareng pak Koci dan mas Muka, Putri jaga pos natas dan jadi penghubung natas, mapasadha dengan relawan-relawan lainnya.

kita berangkaaaaatttt…….
selama perjalanan saya ngobrol dengan laras menikmati pemandangan jalan kota Jogja yang berselimut debu…aaahhh berasa di Eropa saja ujarku…tapi ini salju yang bisa merobek-robek paru-parumu, beda dengan di Eropa yang paling cuma kedinginan aja kata Laras …hahahah..bodoh sekali saya!!

perjalanan ini menegangkan sekali sodara-sodara….karena jarak pandang cuma 5-7 meter saja dan kadang-kadang cuma 2 meter saja…haduh Tuhan apa pula ini…..untungnya Laras adalah “tukang ojek” yang handal hahahah jadi saya mempercayakan keamanan dan keselamatan saya padanya *sambil berdoa dalam hati dan membayangkan rasa sakitnya klo jatuh dan “mencium aspal yang dipenuhi abu merapi*

sampai juga akhirnya di GOR Pangukan sleman
kondisi yang kacau, koordinator pengungsi yang berasal dari PMI Jogja sudah kewalahan dan belum ada relawan yang masuk

GOR Pangukan Sleman
gak dapat tempat lorong toilet pun jadi-GOR Pangukan

kondisi yang kacau dan para pengungsi yang tidak bisa diatur karena berebut barang bantuan membuat saya mulai gilaaaa…aaahhh Tuhaaaannnnn…..*tanduk iblis mulai dikeluarkan*

baiklah ceritanya akan dilanjutkan lagi nanti yaa…masih banyak cerita tentang “bencana” yang menyenangkan ini jadi tunggu saja cerita dan foto-foto yang akan saya posting…..

Advertisements

One thought on “selalu ada senyum di balik bencana #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s