komitment dan kebebasan dalam hubungan

kemarin saya mendapat sms undangan pernikahan dari seorang kawan lama. agak kaget juga karena kemarin saya sempat berkirim kabar dengannya via pesan pendek dan dia sama sekali tidak menyinggung mengenai rencana pernikahannya itu.

ini bukan pertama kali saya mendapat undangan dari pernikahan teman, namun yang selalu menjadi tanda tanya bagi saya adalah mengapa mereka memutuskan menikah saat masih usia muda? saya masih bingung dengan konsep sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan (atau mungkin juga bagi para queer), karena bagi saya ketika kita memutuskan untuk berkomitmen pada seseorang, maka kita harus “merelakan” sebagian dari kebiasaan-kebiasaan, atau yang ada di diri kita untuk hilang atau berkompromi dengan pasangan kita.

being single is a fun, carreer is a must and marriage is a choice

yup! kalimat itu yang cocok bagi saya, yang menobatkan diri sebagai seorang pecinta kebebasan.

daftar dibawah ini adalah deretan hal-hal yang bisa merenggut kebebasan

A. kategori pacaran 

1. jalan kemana pun selalu berdua, so bored!

2. mau pergi kemana aja harus ijin dulu

3. apa pun yang kita lakukan harus laporan dulu sama pacar

4. paling susah kalo pacar udah ngambek apalagi karena cemburu, berasa kiamat aja

5. jarang nongkrong, dilarang merokok, dilarang begadang, dilarang ini, dilarang itu…

B. kategori pernikahan

karena saya belum menikah maka ini hasil penglihatan dan pengamatan saya saja yaaa…

1. menikah adalah sebuah tuntutan yang merampas hak (terutama perempuan) dalam menikmati hidup

2. Oke menikah memang adalah perintah agama, tapi apakah menikah bisa menjamin hidup kita akan bahagia?

3. bagaimana jika kita bosan dengan pasangan kita? bayangkan kita harus hidup dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, mendengar suara yang sama, cacian yang itu-itu saja, senyuman yang begitu saja…kita manusia yang memiliki program “bosan” yang tertanam dalam otak kita. tidak mungkin kita menikah lalu cerai, lalu nikah lagi, cerai lagi….jadi buat apa menikah kalo begitu?

4. lalu sebuah tanggung jawab yang menjadi kewajiban rutin. kewajiban lahir dan batin

saya tidak mencoba menjadi skeptis dalam sebuah hubungan, beberapa fakta yang ada dalam daftar diatas adalah sebuah bentuk penjajahan atas nama “hubungan”

komitmen? saya masih belum bisa mengerti dengan kata komitmen dan prakteknya. apakah dengan kita mengucapkan kata “saya sayang kamu” ato “kita pacaran” adalah sebuah komitmen yang cukup menjamin tidak ada yang tersakiti?

seperti kata seorang kawan “karena hati tidak bisa dimiliki dan tidak ada komitmen yang pasti dalam sebuah hubungan, jadi let it flow saja”

ya memang hati itu tidak bisa dimiliki, karena hati yang kita punya satu. saya jadi ingat dengan perbincangan dengan kawan lama saya, saat itu saya dan dia menikmati sore di pinggir stasiun tawang semarang

kawan saya:….jadi kapan kamu kenalin pacarmu ren?

saya: hah???

kawan saya: jangan bilang kamu gak punya pacar? haduuhhh kamu ngapain aja ren di jogja?

saya: hah? penting ya punya pacar? dijogja kuliah lah

kawan saya: gak ada yang nyantol sama sekali ren?

saya: layang-layang kali nyantol…gak ada

kawan saya: kenapa gak ada?gak ada yang cocok?kenapa bisa?

saya: duuhh kamu kayak petasan…karena lebih enak sendiri

kawan saya: jangan terlalu keras pada diri sendiri, kadang kamu butuh seseorang untuk berbagi, untuk menopang kamu, jangan karena pernah terluka sangat hebat kamu tidak mau berbagi hati dengan orang lain

saya: males….bahas yang laen aja

….apa memang kita butuh orang lain untuk menopang kita? bagi saya orang lain hanya sekedar “pelabuhan” untuk disinggahi, disapa dan berbincang. karena saya merasa bisa mengontrol apa yang ada dalam diri saya. buat apa seseorang jika kita bisa punya banyak orang. jika saya sedih hanya tinggal memencet deretan angka di ponsel saya dan berbagi kesedihan saya. jika saya jatuh akan banyak tangan yang akan menopang saya, begitupun sebaliknya saya siap jadi penopang bagi siapa pun kawan yang butuh “tongkat” untuk berdiri.

bukan karena pernah terluka di masa lalu, namun saya belajar jika bisa kita selesaikan sendiri maka selesaikanlah sendiri, jika bisa mendapatkan banyak mengapa harus puas dengan satu.

itu saya…

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s