maaf bu, sore tadi aku membentakmu

sore tadi aku membentakmu bu, maaf….

tapi aku tau maaf itu tidak cukup untuk merubah apa yang ada dipikiranmu, dan maaf itu juga tidak cukup untuk merubah apa yang menjadi niatku. aku tetap akan pergi bu, pergi ketempat asing yang belum pernah kaki ini rasakan, pergi menghirup udara yang belum pernah aku hirup dan pergi menatap mata dari orang yang belum pernah aku kenal…

sore tadi aku membentakmu bu, maaf…

aku hanya tidak mengerti apa yang ada dipikiranmu, apa yang ibu makan sore tadi, udara apa yang sudah meracunimu, atau air apa yang terserap dalam perasaanmu sehingga ibu bukan seperti ibu yang aku kenal dulu, bukan ibu yang biasa membiarkan aku bermimpi dan menghidupi mimpi itu, bukan ibu yang aku kenal dulu yang mengerti akan jiwa-jiwa bebasku dan membiarkan aku terbang mengejar apa yang menjadi angan-anganku

ibu, maaf sore tadi aku membentakmu….

dan aku tau maaf itu tak akan cukup karena ada goresan dihatimu, tapi aku tetap ingin pergi bu, karena ini mimpi yang sudah lama aku tanam dan kini waktunya untuk aku semai…aku tidak pergi ke konser band rock bu, aku pergi ke belahan lain negeri ini yang asing dan damai, tidak usah khawatir, karena ini beda dengan konser band rock yang penuh hingar. aku pergi tidak untuk menjadi durhaka bu, tapi aku pergi untuk berbagi isi otakku…

maaf bu karena sore tadi aku membentakmu…

apa karena aku seorang anak perempuan, dan karena itu aku harus menjadi seorang perempuan pada umumnya? seperti apa perempuan itu bu? seperti apa aku harus berperilaku dan berpikir? dulu ibu selalu bilang “jangan pernah berkata sakit jika tidak pernah jatuh, dan jangan pernah bilang manis jika tidak pernah mencicipinya” itu yang tertanam dipikiranku bu, kata-kata itu yang menimang aku hingga aku dewasa.

maaf bu karena sudah membentakmu sore tadi…

itu karena aku kaget bu, kaget dan terpukul mendengar kata-kata yang meluncur dari mulutmu, kata-kata yang tidak pernah aku bayangkan akan meluncur dari seorang wanita yang berjiwa bebas dan kuat sepertimu, kata-kata yang menghantam semua mimpiku,

“pokoknya kamu tidak boleh meninggalkan jawa…titik!!”

kata-kata itu yang menghantam aku dan pikiranku, aku tidak bisa membayangkan bahwa seumur hidup aku harus hidup di pulau yang bagi aku adalah penjara….

maaf ibu, aku membentakmu…

apa aku harus selalu berada disini bu? apa aku harus meminta pendapatmu bu? ada apa dengan identitas perempuanku bu? apa aku harus pakai rok, tinggal dirumah kemudian bekerja didapur? apa karena aku seorang perempuan dan aku tidak pantas untuk menjelajahi sisi lain hidup ini bu?

maaf ibu, sore tadi aku membentakmu….
tapi aku tetap akan pergi bu,
maaf
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s