Catatan Refleksi #3

seharusnya hari minggu (24 Juli 2011) saya menuju kalimantan tengah untuk sebuah tugas dari salah satu NGO yang bergerak di perlindungan dan penyelamatan satwa liar khususnya orang utan (center for orang utan protection-COP). setelah seminggu mendapat latihan dan pembekalan, saya mendapat kehormatan untuk berangkat ke kalimantan tengah tepatnya di desa Tura untuk mengajar adik-adik yang tinggal disana dan juga melakukan pendampingan untuk masyarakat di desa Tura agar tetap mempertahankan tanah leluhurnya agar tidak jatuh ke tangan para perusak hutan yang ingin menggantikannya dengan pohon-pohon sawit. 

harusnya minggu kemarin saya sudah dalam perjalanan, sayangnya orang tua saya terutama ibu saya tiba-tiba berubah pikiran dan melarang saya untuk pergi. alasan-alasan yang bagi saya tidak rasional, argumen-argumen saya dan bahkan keinginan saya untuk tetap pergi malah memicu pertengkaran antara saya dan ibu saya. di kamar kos saya, kami malah bertengkar hebat dan ini yang membuat saya paling malu adalah pertengkaran kami menarik perhatian dari teman-teman sekos saya. yaaa, saya adalah orang yang paling tidak bisa menahan emosi, ya memang saya yang paling tidak tahan jika harus mendengar sebuah bentakan, saya hanya ingin ibu saya tau keinginan untuk pergi dan terlibat dalam kegiatan sosial seperti ini, bukan cuma sekedar keinginan semata, tapi ini bagian dari mimpi saya, mimpi untuk hidup dan berinteraksi dengan masyarakat yang tidak pernah saya kenal bahkan budayanya juga. 

saya hanya ingin pergi, tapi ibu saya menuntut saya untuk tetap tinggal dengan alasan bahwa saya anak perempuan. 

saya dan ibu, kami memang jarang sekali untuk ngobrol, jarang berkomunikasi, sekalinya kita berdiskusi atau berkomunikasi akan selalu berakhir dengan pertengkaran. saya tidak tau harus seperti apa, bagaimana dan jadi apa didepan ibu saya. 

yang menjadi refleksi saya untuk peristiwa ini adalah: 

1. saya harus lebih banyak diam dan mendengar, bukan berarti untuk menuruti kemauan orang lain, tapi agar saya bisa mengkomunikasikan apa yang saya mau dan inginkan, karena banyak hal yang menyangkut diri kita yang harus kita kompromikan dengan orang lain, trutama keluarga. 

2. mungkin memang belum waktunya saya berangkat ke kalimantan, karena saya masih memiliki banyak tanggungan tugas yang sudah menjadi komitmen saya sebelum bergabung dengan COP.  saya masih punya tanggungan di 2 kepanitiaan acara kampus, masih harus latian nari dan masih harus menemani dan mendampingi adik2 saya, dan tanggungan janji dengan teman2 di komunitas twitter.

3. saya masih harus belajar lebih banyak di kota ini, jika benar-benar ingin fokus bekerja sosial, saya harus bisa menyelesaikan kuliah saya agar saya bisa menjadi apa yang saya mau, dan membuktikan bahwa saya cukup dewasa untuk bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri. 

4. bukan penghargaan atau pujian yang ingin saya dapatkan, tapi cukuplah orangtua saya paham bahwa ini adalah cita-cita saya, untuk itu saya harus bisa memberi pengertian kepada mereka, dan membuktikan bahwa saya sudah dewasa. caranya dengan berkomunikasi yang baik dan bijak, dan semua itu butuh waktu dan proses yang lama. 

 

hidup ini bukan hanya tentang kita, tentang diri kita, tapi tentang kita dan mereka, dan saya tetap yakin suatu saat tidak hanya melihat langit, tapi akan menyentuhnya….

the power of dream, and i believe God bless the dreamer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s