mengapa saya memilih orang utan, mengapa bukan manusia

“kenapa kamu lebih memilih menolong orang utan dibandingkan menolong manusia yang jelas-jelas sedang membutuhkan bantuan kita?”

Setelah menyelesaikan pelatihan selama seminggu dari tanggal 11 Juli – 17 Juli 2011 yang diadakan oleh Centre for Orang Utan Protection (COP) bersama 17 kawan lain yang datang dari berbagai kota, malam harinya saya mampir ke basecamp dikampus yang hampir 2 tahun ini berfungsi sebagai tempat saya “berproses” dan “belajar” tentang organisasi dan tentang dunia mahasiswa (dan juga tempat “istirahat”). selama seminggu itu pula saya tidak datang ke

poor baby

basecamp yang biasa kami sebut dengan rumah dan itu juga yang membuat kawan saya bertanya-tanya, lalu saya pun menceritakan tentang pelatihan yang telah saya jalani, tidak lupa berbagi informasi tentang kondisi orang utan. seminggu di pelatihan, seminggu bersekolah dengan kawan-kawan baru, dan seminggu dicekoki dengan berbagai fakta tentang orang utan membuat saya bersemangat berdiskusi dengan kawan saya pada malam itu.

reza hold baby orang utan

lalu ditengah-tengah diskusi, dia mengajukan pertanyaan yang membuat saya harus diam dan berpikir sesaat untuk mencari jawabannya. pertanyaan itu juga yang membuat saya (sampai sekarang) masih mencari-cari jawaban yang tepat dan bisa meyakinkan saya (dan dia) mengapa saya ikut dan terlibat dalam kegiatan ini? mengapa saya memilih bekerja secara sukarela untuk menolong orang utan? mengapa saya tidak ikut bersama mereka dan terlibat menolong satu kelompok masyarakat yang sedang terancam nasibnya? bagi saya pertanyaan itu adalah pertanyaan reflektif, pertanyaan yang membuat ingatan saya mundur lagi ke masa-masa awal bergabung dan mengikuti pelatihan di COP.

Di COP kami tidak hanya mendapatkan teori tapi juga kami diajak melihat langsung keadaan para satwa di kebun binatang dan perdagangan satwa di pasar burung agar bisa membuat analisa tentang keadaan para satwa. Tidak hanya tentang satwa, beberapa penyelia juga berbagi pengalaman mereka pada saat rescue orang utan dan saat harus menghadapi birokrasi pemerintahan yang dipersulit. Para penyelia juga berbagi tentang cerita saat mereka dianggap melakukan pekerjaan yang aneh dan dianggap aneh. “Hey kita memang aneh lalu kenapa?” ujar mas Hardi, kepala sekolah COP.

Sawit yang membuat mereka (kawan-kawan COP) dianggap aneh, dan saya pun dianggap aneh oleh kawan-kawan dikampus. Apakah kita sekumpulan orang-orang aneh? Apa yang kita kerjakan itu aneh? Aneh dari sudut pandang apa dan siapa? Bukankah semua yang ada didunia ini bersifat relative, aneh dan normal, haram dan halal, panas dan dingin, semua itu tergantung sudut pandang siapa yang mengalaminya. Aakkhh saya mulai meracau, maaf.

Bagi saya ini bukan keanehan, jika pada jaman penjajahan Belanda dulu diterapkannya politik etis bagi warga pribumi, mengapa kita tidak menerapkan politik etis kepada alam dan satwa? Kita sudah terlalu banyak mengambil dari alam kenapa kita tidak mencoba untuk “balas budi?” otak saya pun berimajinasi, seandainya sawit itu tidak tumbuh di hutan Kalimantan, saya dan kawan-kawan di COP tidak akan jadi orang aneh karena tidak ada orang utan yang kehilangan rumah, sawit itu tidak salah, yang salah adalah sawit tumbuh di lahan yang salah dengan cara yang salah, kalau sawit bisa ngomong pasti dia juga akan bilang “maafkan saya ya orang utan, apa daya manusia-manusia yang punya kekuatan untuk menanam saya disini”

Ketika rasa kemanusiaan saya dipertanyakan

“kenapa kamu lebih memilih menolong orang utan dibandingkan menolong manusia yang jelas-jelas sedang membutuhkan bantuan kita?”

Saya pernah memposting pertanyaan itu di grup COP School Batch #1, dan teman-teman COP merespon dengan cukup baik, “menyelamatkan orang utan dan habitatnya juga akan menolong manusia dari bencana ekologi” kata bang Ali. Dan salah seorang siswa bernama Ipoel pun mengingatkan kami bahwa di COP sebelum menolong orang utan, COP lebih dulu menolong manusia. Ini bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan yang kelak akan ditugaskan kepada kami diakhir program sekolah ini, selain terjun langsung untuk menyelamatkan orang utan, kami juga diminta untuk mengadakan program edukasi dan kampanye agar para manusia sadar bahwa lingkungannya terancam. Ini juga bisa dilihat dari kegiatan COP yang melakukan “PDKT” dengan masyarakat adat di pulau Kalimantan (istilah kerennya winning the hearts) untuk bekerja bersama-sama menolak pembabatan hutan dan menolak perkebunan kelapa sawit.

if the orang utan can said he would say "set me free"

Sawit itu seperti tambang, sawit juga merusak seperti tambang, sawit tidak hanya merusak alam dan ekosistemnya, tapi juga merusak masyarakat dan tatanannya, menggusur dan merubah budaya masyarakat adat menjadi masyarakat pekerja, masyarakat kelas bawah, masyarakat budak. Masihkah pantas mempertanyakan rasa kemanusiaan kita? Maaf teman-teman saya mulai ngawur disetiap kata-kata saya ini, tapi saya ingat mas Hardy pernah mengatakan agar kita tidak usah berteori, yang kita butuhkan adalah tindakan, dan bagi orang lain kita sekarang ini adalah orang-orang aneh yang rasa kemanusiaannya ada dibawah rata-rata, itu teorinya, prakteknya? Kita buktikan saja pada mereka. =)

Hari terakhir pelatihan di COP, saya yakin, saya dan para siswa yang lain punya kesan dan kenangan yang sama, kisah yang sama. Dan saya juga yakin meskipun kita berangkat dengan latar belakang dan niat yang berbeda untuk bergabung di COP tapi hasil akhir yang kita capai akan sama, tujuan yang akan kita raih akan sama. Saya mendapat kehormatan untuk pergi ke Tura, Kalimantan Tengah bersama salah seorang siswa, Roedy Sahala Silaban, yang akrab dipanggil Laban. Ini kesempatan yang menurut saya tidak akan datang lagi. Sayangnya memang belum waktunya saya kesana, orang tua saya bersikeras melarang saya untuk pergi. Meskipun saya marah dan menangis berhari-hari itu tidak akan merubah pendirian mereka.

Kata Ismail Agung, dalam puisi yang dia kirim untuk memberi semangat kepada saya yang gagal berangkat ke Tura, bahwa jarak antara sedih dan senang itu hanyalah sebuah garis. jika kita ingin merasa senang lihatlah keatas dan gapai lagi impian yang sempat terhambat. Saya yakin dan percaya, dimanapun kita berada selama kita yakin dan tidak takut mewujudkan mimpi kita, meski semua orang ragu terhadap apa yang kita lakukan, kita pasti bisa mewujudkannya.

Mengutip kata-kata Intan, salah seorang siswa COP school, “saya punya mimpi, saya ingin mewujudkan mimpi saya karena saya tidak mau hidup dalam mimpi saya”

celebrate the dream...

Dan saya tidak sabar menunggu saat kita berkumpul lagi, melihat kearah dinding di rumah mas Daniek yang penuh dengan catatan harapan dan impian kita, mengejar lagi harapan dan mimpi yang belum terwujud. Dan kita akan selalu berteriak Orang Utan….COP!!!!

Jadi kawan-kawan kenapa kita lebih memilih orang utan dibandingkan manusia?

 

 

 

 

 

 

Doc: Centre for Orang Utan Protection

 

 

 


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s