intelektualitas kosong

semakin bodoh semakin banyak ingin tahu, semakin ingin tahu semakin tidak tahu apa-apa

ini adalah kata-kata yang diucapkan oleh dosen filsafat saya Rm. Harry di kelas Logika. Awalnya saya tidak paham apa yang beliau maksud, sampai akhirnya pelajaran dari pengalamanlah yang membuat saya mengerti maksud dari kata-kata beliau.

intelektualitas kosong, hmm….ada alasan saya menulis dengan judul itu, alasan utamanya adalah: menulis judul adalah hal yang paling galau dibandingkan dengan status jomblo (lol), alasan lainnya adalah hasil curhat seorang kawan saya di siang hari saat matahari membakar kota jogja. saat itu dia bercerita mengenai rasa tersinggungnya atas ucapan kawan-kawannya (yang juga kawan saya) yang membuat kami yakin bahwa ilmu yang  dimiliki, pengetahuan yang dipunya itu adalah akar yang membuat mereka merendahkan orang lain.

jadi kawan saya (sebut saja X) curhat bahwa dia merasa kecewa atas perkataan kawan-kawan (sebut saja W, Y, dan Z) yang menghina dia karena motor bututnya, dengan gampang dan dengan nada merendahkan (menurut X) bahwa W, Y, Z menyuruhnya meminta motor baru  sama orangtuanya,, karena motor yang sudah butut itu sudah tidak layak pakai, bahkan maling pun tidak akan mencuri motornya yang butut itu.

ini bukan masalah motornya yang butut atau baru, tapi ada nilai sejarah dibalik motor itu. motor itu simbol jatuh bangun keluarganya X dan bagi dia motor itu adalah segalanya karena dibeli dengan gaji pertama ayahnya. dan saat ini pun keluarga X sedang dalam masa sulit, karena sejak ayahnya di-PHK dia pun harus bekerja paruh waktu untuk tambahan uang saku.

dan bagi saya, meski dalam situasi bercanda pun tidak selayaknya seorang kawan berbicara seperti itu. saya tidak mencoba memberikan pembelaan pada X, namun saya pun pernah diperlakukan sama seperti itu. saat itu saya berpikir bahwa orang-orang yang bersikap seperti W, Y, dan Z adalah orang-orang yang justru harus dikasihani. karena mereka sudah kehilangan harta yang paling berharga, EMPATI. 

mereka yang berkata seperti itu adalah orang-orang yang selalu menghabiskan wakktunya untuk membaca berbagai literatur, mulai dari karya sastra orang terkenal sampai tidak terkenal sekalipun, sampai bacaan filsafat. Karl Marx, Nietzhe, Pramudya Ananta Toer, Freud, dan banyak lagi (yang bahkan sebagian besar saya tidak tahu karyanya) sudah habis dilahap oleh mereka. mereka menghabiskan waktu untuk berdiskusi, hidup secara komunal, dan sebagainya, namun itu tidak membuat mereka peka akan keadaan salah seorang kawan mereka.

seperti kata Pram,

adil sejak dalam pikiran

bagi saya itu mustahil, dan hanya sampai pada tataran teori saja. keadilan ada jika kita masih memiliki empati, tidak usah jauh-jauh atau repot untuk konsolidasi menentang proyek tambang yang merugikan orang kecil, jika masih saja merendahkan orang lain. tidak usah repot teriak-teriak soal rasa kemanusiaan, jika masih saja menghina kawan sendiri. karena kata adalah senjata, kata Seno Gumira Ajidarma, dan memang kata adalah senjata untuk menunjukkan sejauh mana kita memahami ilmu yang kita punya dan mengamalkannya tidak hanya lewat perbuatan,tapi lewat kata. dan disitulah kita dinilai.

saya pun mengerti maksud dosen saya, Rm. Harry, kita tidak akan pernah bisa menjadi “pintar”, karena awalnya ketika kita tidak tahu mengenai seusatu, rasa ingin tahu kita pun mendorong untuk mencari tahu, namun saat kita sudah tahu saat itulah ego terbesar manusia muncul; merasa paling pintar, dan itulah tanda dimana kita tidak tahu apa-apa. kosong, intelektualitas kosong.

Empati adalah ilmu yang tidak bisa kita pelajari hanya dengan membaca buku, tapi bisa kita dapat dengan membaca diri kita sendiri.

Advertisements

One thought on “intelektualitas kosong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s