keputusan itu…

Jogja, 31 Oktober 2011 

jazz mben senen, secangkir coklat dan obrolan ngalor-ngidul dengan kawan-kawan. bertukar pikiran sampai curhat gak jelas, dan akhirnya pembicaraan itu mengarah pada “jadi siapa pacarmu Ren?” aku (seperti biasa) menjawab “deeuuhh waktu buat diri sendiri aja gak cukup apalagi buat pacaran”. dan kawanku itu pun berkata bahwa ini bukan masalah ‘waktu’ tapi perkara ‘masa lalu’ yang tidak mau aku tinggalkan. dan pembicaraan itu menjadi ajang ‘ceramah’ bagiku, aku tidak tau kenapa mereka menyinggung masalah yang memang sangat aku hindari

aku merasa sudah cukup dengan sendiri, karena aku merasa sendiri itu lebih baik dan mengapa harus berdua jika semua bisa kita selesaikan sendiri? bukan…bukan itu alasannya, aku hanya tidak mau menggantikan posisinya dengan orang lain…dan…aku tidak mau jadi lemah lagi…

aku begitu keras pada diriku sendiri, mengingkari perasaan yang aku lindungi, aku begitu angkuh..ya aku tidak mau ada yang masuk dan mengobrak-abrik isi otakku….

dan pada akhirnya aku harus memutuskan, ini bukan masalah waktu tapi lebih untuk memaafkan diri sendiri…apa aku masih bisa merasakan perasaan yang sudah lama tidak aku cecap? karena yang tersisa hanyalah sakit dan aku sudah terbiasa dengan sakit yang ditinggalkan dia dan mereka…

apa aku bisa berdamai dengan diri sendiri? entahlah

1 November 2011,

kamu bilang aku perempuan yg susah diluluhkan, kamu bilang butuh waktu untuk jadi kunci…
kalo aku bilang aku gak mau diluluhkan gimana?
kalo aku bilang kamu gak membutuhkan kunci gimana?
karena aku tidak mau diluluhkan dan pintunya sedang mempersilahkan kamu masuk….
kalo aku diluluhkan aku akan jadi lemah, jadi kalo aku nanya ke kamu “kamu mau jadi partner ku gak? kita jadi tim, dan apa kamu mau jadi bagian dari rencana2 printilanku?”
ini juga jawaban atas teori cewek yg hanya bisa ‘wait and see’
tidak semua cewek menunggu, tapi bisa jadi inisiator, karena butuh sebuah kata ‘ya’ atao ‘tidak’ untuk menyusun/melengkapi rencana2 hidupnya….
whatever your answer, text or call me….
sincerely,
irine

itu adalah pesan yang aku kirim pada seseorang yang belum lama ini aku kenal melalui akun facebook-nya…kita bertemu disalah satu kegiatan perlindungan satwa, entah apa yang ada di otakku saat itu…saat aku terbangun, yang terlintas dipikiranku hanyalah mengirim pesan padanya…

aku tidak mau dipilih, karena akan terlihat lemah…perempuan pun punya hak untuk memiliki dan mengutarakan perasaannya…

damn!! ini terlalu cepat…dan seharian itu aku menunggu respon darinya. hasilnya? nothing…. ya sudah kalo begitu aku harus menyusun rencana-rencanaku sendiri….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s