aku pikir semua akan baik-baik saja

aku pikir hidupku akan baik-baik saja, ‘bersembunyi’ di kota kecil ini, mewujudkan satu per satu mimpiku yang sempat tertunda bahkan ada yang berantakan. aku pikir semua akan baik-baik saja, aku bisa menata lagi hidupku di kota kecil ini dan menyembuhkan lukaku dan mendefiniskan kembali ke-AKU-an ku. ya, memang semua baik-baik saja, semua berjalan dan aku pun bisa menata keping-keping hidupku yang berantakan. perlahan aku mulai melupakan dia, melupakan rencana besar kami, melupakan semua kisah 7 tahun bersama, meski aku tidak benar-benar melupakannya namun akhirnya aku bisa berdiri dengan kakiku, perlahan mencari definisi diriku dan aku yakin bisa merumuskannya kelak.

di kota kecil ini aku bertemu dengan banyak orang, dengan banyak kisah dan dengan banyak pengalaman. di kota jogja ini aku mulai bisa mengerti apa artinya KESEMPURNAAN saat aku harus kehilangan banyak dalam hidupku, saat semua yang sudah aku dan dia rencanakan harus berubah sedang aku tidak siap menerimanya. aku mengerti bahwa kesempurnaan itu ada dari sebuah KETIDAKSEMPURNAAN.

di kota ini aku membangun menaraku yang baru, dan aku membuat benteng yang kokoh. aku tidak ingin ada yang masuk karena ruang dalam menaraku itu tidak ingin menerima orang lain. dan selama 2 tahun aku membentenginya, kokoh dan makin kokoh. karena di dinding menaraku masih ada dia, masih ada cerita tentang dia, tentang aku dan dia. sampai akhirnya aku sadar dan aku menghapus namanya dari dinding menaraku, karena kami sudah ada di jalan yang berbeda. jarak pun tercipta antara aku dan dia.

aku pikir hidupku akan baik-baik saja kini, dan ya memang semua baik-baik saja. dan saat aku menginjinkan orang lain masuk dan mengukir namanya di menaraku, aku masih merasa baik-baik saja. semua berjalan baik-baik saja, sehari, dua hari, seminggu dan sebulan dia sudah mengukir namanya di dinding menaraku.

tapi tidak, aku tidak baik-baik saja. perasaan takut disakiti, perasaan takut kehilangan, perasaan bersalah mulai menghantuiku, serupa kabut yang turun bersama gelapnya malam. dan aku takut….menghantui aku…membayangiku….

ini sama saat aku harus melepas kisah 7 tahun ku….kisah yang ini sama, dan aku takut…dia telah mengukir namanya di dinding menaraku, tapi mengapa aku tak pernah bisa membantunya meruntuhkan temboknya, dan mengetahui dia masih terjebak dalam memori  masa lalunya itu menyakitkan aku.

aku hanya ingin berkata padanya, jangan tinggalkan aku, karena aku tidak siap dengan kehilangan, bahwa aku tidak siap untuk memulai lagi dari awal. dan aku tidak siap dengan kekecewaan. aku ingin bilang jangan pergi, berikan aku kesempatan…..

tapi aku harus siap. menaraku mungkin akan kosong dan aku harus siap dengan badai……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s