Catatan Untuk Mas Dhani

Untuk mas Dhani yang merasa nyaman di traktir nasi goreng sapi

 

Dear mas Dhani,

Terimakasih sudah mendengarkan aku menangis untuk kesekian kalinya. Terimakasih buat ‘tamparan-tamparan’ kecilmu yang selalu memaksa aku dan otakku bangun dan tetap berada dalam jalur yang waras.

Ya, aku gadis yang cengeng mas, rapuh dan sok kuat. Hanya bisa diam dan memendam amarahku, dan semalam semuanya meledak, meledak menjadi aliran air mata yang membuat sistem tubuhku berhenti dan aku hanya bisa bilang “gak tau”.

Aku hanya tidak siap dengan sebuah konsep kehilangan mas, tidak siap dengan fakta harus memulai lagi. Aku pernah kehilangan orang yang sangat aku sayangi, dan aku marah mas, marah dan kecewa pada diriku, pada dia dan pada entahlah…hanya marah, kecewa dan benci saja. Itu saja yang aku rasakan. Aku pernah hampir kehilangan keluarga yang sangat aku sanjung, dan sekali lagi aku merasakan marah itu datang mas, serupa kabut, tipis tapi membuat aku hilang arah. Dan kamu tahu, aku datang padamu dan menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan mas, menangis.

Seperti yang pernah kamu katakan padaku “inti setiap pertemuan adalah perpisahan” sampai kini aku masih belum bisa memaknai kata-kata itu.

Aku pikir semua akan baik-baik saja, bahwa menerima orang lain menempati ruang yang lama kosong dan berdebu, bisa membantu aku meredam marah dan mengobati kekecewaanku. Tapi aku dan dia seperti dua orang peragu yang bertemu saat semua gelap dan tidak tahu harus melangkah kemana.

Ya, aku tidak jujur pada diriku sendiri dan bagaimana bisa aku jujur pada dia sedangkan dia pun sedang berusaha mendefinisikan dirinya.

Diantara aku dan dia ada jarak yang dibangun dari bayang-bayang masa lalu. Ketakutan saling melukai itu ada mas, dan itulah pondasi hubunganku dengan dia.

“…bahwa Tuhan tahu apa yang menjadi kelemahan kita, sehingga Dia memberi kita cobaan pada titik lemah itu sehingga kita bisa menjadi kuat”. Itu yang kamu katakan padaku semalam mas.

Mas Dhani, bagaimana bisa kamu bangun kembali dirimu setelah menghadapi badai yang merusak? Bagaimana bisa kamu tegak dan menghadapi matahari yang terik? Sedangkan aku merasa nyaman dalam gelap mas, memendam semuanya, karena jika meledak aku hanya akan menyakiti mereka.

Kamu benar, tak sepatutnya aku menunggu orang lain datang dan menyelesaikan masalahku. Tak sepantasnya aku larut dalam penyeselan dan menjadi tumbal dari sebuah kekecewaan.

Dan kamu tau mas, setelah semalam menangis ditelepon itu, setelah berbagi cerita dengan Sita; aku memutuskan akan berjalan dengan luka. Aku tau kamu pasti bilang bahwa aku masokis. Ya memang, tapi itu semua butuh waktu mas, untuk bisa saling jujur dan memaafkan diri sendiri atas semua kekecewaan yang lama mengendap dan menjadi batu dalam cerita ini.

Terimakasih mas Dhani sudah menyediakan kuping mu untuk mendengar tangisanku..

Sincerely,

Gadis yang (katamu) selalu membuat nyaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s