tentang natas tentang keluarga

sore tadi lembaga pers mahasiswa (LPM) natas universitas Sanata Dharma Jogjakarta mengadakan musyawarah luar biasa untuk memilih pengurus baru periode 2011/2012. kenapa harus mubes luar biasa? karena beberapa agenda kerja yang sudah direncanakan untuk tahun ini molor dengan amat sangat, sedangkan pihak kampus menuntut kami (dan juga unit kegiatan mahasiswa lainnya) untuk segera mengajukan rencana kegiatan dan anggaran (RKA) untuk tahun depan atau untuk kepengurusan yang baru. karena menyangkut masa depan  dan demi kesehatan organisasi jadi kami memutuskan untuk mengadakan musyawarah luar biasa.

akhirnya, setelah musyawarah dan sedikit penjelasan mengenai latar belakang musyawarah luar biasa ini, maka pemilihan pengurus baru pun dimulai, dan seperti yang sudah kami rencanakan dan sudah kami setting bahwa yang maju untuk menjadi ketua adalah marsianus bathara atau yang biasa dipanggil dengan tara, lelaki kecil, keriting dan kurus mirip senthir atau lampu minyak, ini memang memiliki sesuatu yang “istimewa” selain syarat utama menjadi pemimpin umum (PU) lpm natas adalah harus jomblo, tara memang memiliki komitmen dan dedikasi terhadap natas, organisasi yang hingga saat ini telah memberikan banyak kepada kami, khususnya saya secara pribadi.

berbicara mengenai natas dan komitmen, tidak terasa sudah dua tahun saya bergabung dalam organisasi ‘aneh’ ini.  kerjaannya adalah menulis, menulis, dan menulis. kalau saya sih kerjaannya main, main dan main atau nongkrong, nongkrong dan nongkrong….hahahha….tidak, kerjaan kami lebih tepatnya adalah bersikap pesimis dan sinis terhadap segala sesuatu. namun itu tidak membuat kami jadi orang yang antipati melainkan membuat kami lebih banyak bersikap kritis, mempertanyakan segala sesuatu dan mencari poin kebenaran didalamnya. natas adalah rumah kami, rumah saya, rumah yang membantu saya mendefinisikan saya secara utuh. natas-lah lubang persembunyian saya saat saya ada di titik nol dan mencoba untuk kembali memetakan jalur saya….disini otak saya di-dekonstruksi secara habis-habisan tentang saya, tentang mereka, tentang dia dan tentang hidup. sikap sinis dan pesimis itu membuat mata saya mulai terbuka tentang kenyataan dan itu membuat saya kembali bertanya tentang tujuan saya….

dua tahun lalu, saya diwawancarai oleh Richi, dan dua tahun lalu saya masih jadi seseorang yang membuat jarak dengan konsep idealis, saya masih ada dalam kelompok penganut paham hedonisme populer tingkat akut. pikiran saya masih pragmatis. dan selama dua tahun otak ini dipenuhi oleh realita-realita yang harus saya dan kawan-kawan yang lain tahu, dan kemudian menuliskannya.

selama dua tahun itu pula saya banyak belajar mengenai arti sebuah keluarga, karena kita semua adalah anak rantau dengan segala latar belakang dan konsep pikiran yang berbeda, harus berbagi ‘ruang’ yang sudah sempit yang kami beri nama “rumah”. saya masih ingat dengan jelas, saat saya dan kawan-kawan menjelajah kawasan taman sari jam 11 malam dan membuat video uji nyali versi natas dengan richi sebagai hantu dan pepet sebagai pesertanya, menatap bintang di rel kereta api stasiun lempuyangan dan saling kirim-kiriman sms yang ngawur satu sama lain. berbaring di bawah jembatan lempunyangan dan membuat puisi galau bertema cinta. tara dan pita juga tidak luput dari kegilaan kami, saat mereka tidur dengan lelapnya di pinggir jalan lempuyangan, kami meninggalkan mereka dan semua orang yang melewati jalan itu berhenti karena penasaran apa yang terjadi dengan dua makhluk itu. dan saat orang tanya kami hanya berkata bahwa mereka adalah korban tabrakan gerobak sampah…hahahhaha…..

ritual simbok atau diskusi sambil mabok pun jadi rutinitas kami. tempat awal simbok ini di kontrakan japra, dimana saya satu-satunya wanita (secara fisik katanya) yang bergabung dalam ritual ini, sedang pita dan veta lebih memilih tidur di kamar japra, yang sebelumnya dirapihkan dulu karena tau kita mau datang, padahal kamar aslinya berantakan sodara-sodara!! otak rasanya bekerja lebih baik saat dipengaruhi oleh minuman surga itu.

selain itu ada jembatan paingan, jembatan yang sering kami kunjungi kalo ada salah satu diantara kami memiliki masalah (yang lebih sering masalah percintaan) dan kemudian nyanyi-nyanyi sambil simbok rame-rame. ada juga pohon laknat, tempat kami merayakan kawan yang sedang berulangtahun, dengan cara mengikat orang yang sudah bertambah tua itu, memakaikan kain yang menutupi kepalanya, dan kemudia disiram, ini dilakukan saat kantin sedang rame-ramenya, tidak perduli jenis kelamin, semua harus merasakan pohon laknat itu.

bukan keluarga namanya kalo tidak ada badai yang menguji ketahanan tembok rumah itu. kepercayaan dan rasa memiliki satu sama lain diuji pada saat itu. itulah untuk pertama kalinya saat melihat kunem marah dan sangat emosi, karena sebelumnya dia tidak pernah menunjukkan emosinya. dan untuk itulah pertama kali saya melihat veta dan pita bertengkar hingga saling menyakiti lewat kata-kata. mereka tidak memaki, hanya mengutarakan kekecewaan mereka satu sama lain. selama ini saya melihat mereka adalah dua orang yang saling mengagumi dan juga saling iri pada saat yang bersamaan. dan untuk pertama kalinya saya harus melihat natas pecah, tidak ada lagi keluarga, tidak ada lagi rumah, hanya ada kubu-kubu yang saling melihat dengan tatapan marah dan kecewa. dan butuh waktu bagi natas membangun lagi temboknya, tembok kepercayaannya.

dua tahun sudah….seperti sebuah siklus, ada yang datang dan ada yang pergi. dan sore ini, japra, pepet, dan dimas memutuskan untuk keluar dari rumah natas. mereka memilih jalan lain tapi bukan rumah lain kata mereka. mereka hanya ingin melihat dunia luar dengan bekal yang sudah diberikan oleh natas selama ini. semuanya pun berputar seperti film tua yang usang…tawa, canda, arogansi, debat, idealisme, dan semua yang sudah kami rasakan. saya dan kawan-kawan lain masih ada di rumah natas hingga nanti akhirnya kami memang harus pergi, kami akan melihat orang-orang yang datang dan pergi, dengan segala mimpi dan cita-citanya mengenai rumah…..

karena natas adalah rumah ketika dunia menolakmu, dengan idealisme-mu, dengan tanganmu dan dengan pilihanmu…karena natas adalah rumah ketika gelap datang dan kamu tak mampu terlelap….karena natas adalah rumah bagi kamu yang selalu bertanya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s