cerita: kisah penutup

29 November 2011

malam itu kita bertemu, berbincang di sela-sela kesibukanku mengawasi pengunjung galeri. di luar gerimis, oh bukan sudah hujan rupanya, dan kamu menggenggam tanganku.

“kamu mau ikut aku ke lantai 3 atau mau menunggu disini?” tanyaku sambil merapatkan kancing jaketku

“aku ikut saja” jawabmu

dan kita pun menapaki satu demi satu anak tangga di galeri itu, kamu masih tidak melepaskan genggamanmu, meski kadang aku menarik tanganku, kamu terus menggenggamnya.

sepanjang malam itu kamu menemaniku menjaga galeri, mengawasi pengunjung yang datang, kadang ikut membantuku memandu pengunjung yang bertanya. aku heran bagaimana bisa kamu mengetahui seluk-beluk karya seni yang dipamerkan di galeri itu? aahh katalog, itu jawabannya. aku sempat memergoki kamu membaca dengan serius katalog itu dan kamu sempat berkeliling seorang diri di dalam galeri.

sudah waktunya tutup, dan kamu membantu aku dan kawan-kawanku merapihkan galeri, mematikan semua alat-alat elektronik di galeri dan memastikan semua karya seni itu sudah rapih dan aman. setelah berpamitan dengan kawan-kawanku, aku mengajakmu duduk sebentar di pendopo yang terletak disebelah barat galeri, hanya lampu temaram yang menyinari pendopo itu, kesan angker dan mistis karena pohon beringin yang berdiri tegak persis didepan pendopo membuat aku urung menapakkan kaki kedalamnya. namun sekali lagi genggaman tanganmu yang kuat mencengkram tanganku, mengajak aku memasuki pendopo itu, langkah tegasmu memastikan semua akan baik-baik saja. ya semua baik-baik saja, karena masih ada 2-3 orang di pendopo itu yang sedang asyik tenggelam didepan komputer jinjing mereka.

“jadi, kamu masih sama saja seperti dulu…masih menyukai dunia seperti ini?” tanyamu

“dunia seperti apa? bukankah kamu sudah tau aku menyukai dunia ini” ujarku

dan kamu hanya tertawa…

“why you are so serious? aku hanya mencoba sedikit berbasa-basi, malam ini kamu kaku sekali.” ujarmu.

dan aku hanya tersenyum “ah perasaan kamu saja Bi…” kataku

aku merasakan tatapan matamu menatap diriku begitu dalam, dan aku seperti bisa membaca pikiranmu, aahh bukankah kita bisa saling membaca pikiran satu sama lain? karena aku sudah sangat mengerti kamu, 7 tahun bersama bukan waktu yang singkat, 7 tahun bersama aku dan kamu seperti jiwa yang terbagi dalam bentuk yang berbeda.

“bagaimana dia?” tanyamu sambil mengalihkan pandangan, menatap ke arah pohon bringin didepan pendopo.

“bagaimana apanya?” tanyaku berpura-pura tidak mengerti maksud pembicaraannya.

“dia, ceritakan tentang dia yang sudah memasuki ruang-ruang kosongmu” jawabmu sambil menatap mataku.

aku menemukan beribu tanya dibalik mata yang dibingkai kaca bening. mata yang pernah aku nikmatin dalamnya, mata yang pernah aku selami misterinya.

aku menarik napas panjang…

“dia…aku masih berusaha mengenalinya, masih berusaha mengerti ceritanya, dan masih berusaha mendefinisikannya…” jawabku.

“apa kamu mencintainya?”

aku menatap matamu, “apa akan ada bedanya?” tanyaku

“entahlah, apapun jawabanmu, kamu sudah mengijinkan dirinya memasuki ruang-ruang dalam dirimu, aku hanya berpikir bagaiman bisa?”

“maksudmu?’ tanyaku

“bagaimana bisa? aku pikir kamu tidak akan pernah menginjinkan orang lain memasuki dirimu, setelah aku, kecuali aku…” ujarmu sambil mencengkram tanganku.

“sakit…” kataku. dan kamu hanya merenggangkan sedikit genggaman tanganmu, tidak kamu lepaskan.

“sudah cukup lama kita terjebak dalam memori masa lalu, sudah terlalu lama kita pulas dalam cerita itu, sudah lama berlalu dan kita masih bisa merasakan luka itu, masih basah, tapi waktu yang mengantarkan kita untuk memilih, terus terjebak atau berani keluar?” kataku

“suatu pagi aku bangun dan merasakan sebuah kehilangan yang amat sangat, perasaan yang pernah menyelimuti aku, menghantuiku, dan disaat yang sama ada sedikit perasaan penuh dari sebuah ruang lain dalam diriku, aku merasakan perasaan itu, perasaan yang membuat aku merasakan sebuah sensasi dalam perut dan pikiranku, dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya di sudut pikiranku…” ujarku.

“aku mengirimkan pesan padanya mengikuti naluriku, seperti yang kau tahu aku tidak ingin menjadi pihak pasif, namun bukan berarti aku ingin menjadi yang aktif. aku tidak ingin dipertimbangkan, ditimbang, atau dinilai, aku juga tidak ingin didekatin lalu jika tidak sesuai ditinggal begitu saja, karena aku bukan barang, tak ada sifat materi dalam diriku yang bisa diberi penilaian. aku hanya ingin berdiri sejajar, menjadi partner, dan kita akan menerabas jalan bersama”. lanjutku.

“kamu tidak berubah, masih sama dengan yang aku kenal, aku pikir dia yang meminta dirimu…” ujarmu.

“ya…dia memintaku, namun dia pun masih menjaga jarak, dan aku saat itu aku berpikir jika aku hanya diam aku akan kehilangan atau aku akan dinilai” jawabku.

“lalu kenapa dia?” tanyamu

“entahlah, seperti yang aku bilang aku merasakan perasaan kehilangan dan perasaan penuh disaat yang bersamaan, aku tidak tahu mengapa dia…mengapa bukan yang lainnya, yang sudah lama mengenal aku…dan seperti yang aku bilang padamu, aku bukan materi yang bisa dinilai, dan dia dengan jujur meminta untuk masuk kedalam ruangan yang pernah kau huni”. jawabku.

kau lalu menatap mataku….”perempuan yang ada dihadapanku saat ini, pantaskah untuk aku lepas” ujarmu.

aku hanya bisa diam dan kemudian menunduk sambil mengigit kuku-kukuku.

“ada apa denganmu?” tanyamu.

“i’m okay…” jawabku

“no you’re not…lihat kamu mulai menggigit kuku, aku tidak suka..lihat aku…” ujar mu sedikit tegas.

“bukalah” katamu sambil menyodorkan sebuah kotak coklat

aku pun menerimanya, dan membuka isinya. aku tau itu bukan kotak coklat yang biasa kau bawakan untukku, bukan pula sekotak puzzle  bergambar bebek kesukaanku, tapi itu kotak kenangan kita yang selama 7 tahun kita rangkai dan menjadi sebuah cerita.

berpuluh-puluh lembar surat, kartu pos, foto-foto, ratusan tiket nonton entah festival film, konser musik, atau tiket bioskop; batang-batang bunga yang kelopaknya ada didalam botol kecil kedap udara, mata uang asing, potongan coklat yang disimpan dalam plastik; lembar-lembar tissue yang bertuliskan pesan rindu dan sayang, dan tiket perjalanan.

semua masih rapih tersimpan dalam kotak karton yang kita beli di pedagang kaki lima saat kita merayakan hari jadian kita. semua masih lengkap dan aku menemukan sebuah surat pemberitahuan mengenai hari yang telah kita rencanakan…sayang takdir tidak pernah mengijinkan kita memiliki hari itu. tanganku gemetar, menahan agar aliran air mata tidak luruh, menahannya agar tidak mengalir dari sudut mataku.

“aku masih menyimpannya, entah kenapa…” ujarmu

aku menatap nanar kearah kotak itu “mari kita hancurkan saja, ini kenangan yang menyakitkan” kataku

aku melihat matamu dan ada sekilas rasa terkejut dan pelan kamu bertanya “semudah itu…?”

“lalu? sudah kita harus menyudahi cerita ini” kataku

“aku ingin mengenangmu…ijinkan aku mengenangmu sebagai orang yang sama yang datang padaku dan memberikan hatinya, orang yang sama yang selalu mengucapkan selamat pagi dan memberi kecupan selamat malam. orang yang sama yang merelakan aku pergi dan memberikan aku semangat, yang memiliki kehangatan dalam senyumnya, dalam tawanya yang selalu aku rindukan. orang yang selalu aku mimpikan untuk kukecup dan kupeluk”. ujarmu.

“dia sudah tidak ada…orang itu tidak ada…” kataku

“masih, dia masih sama, masih dalam kehangatan yang sama. dia masih serapuh dulu, gadis yang tegar dan kuat masih ada. dia ada dihadapanku…pantaskah untuk aku lepaskan?” jawabmu.

aku hanya diam

“aku tidak ingin melihat kamu terluka, cukup sudah aku melihatmu terbaring lemah dihari itu, dihari kamu menggenggam tanganku, dihari kamu memohon untuk aku tetap tinggal dan dihari untuk pertama kalinya aku mendengar kamu berkata bahwa kamu lelah..” ujarmu.

“Bi…” kataku lirih.

“aku hanya ingin mengingat semua tentangmu, tentang sikapmu, tentang pikiranmu…aku hanya ingin menaruhmu dalam ruang ingatanku saat aku mulai lelah dan seperti biasa kamu datang dan mengajak aku menikmati kelelahan itu. kamu yang mengajarkan aku untuk selalu santai dan kamu yang selalu mendengarkan marahku…seperti biasa…” ujarmu sambil mencengkram tanganku

“Bi…sudahlah…jangan diingat..” pintaku

“aku akan terus mengingatmu dengan keanehan-keanehanmu, dengan keajaiban kecilmu, dengan kejutan-kejutanmu, aku masih ingat dan selalu berharap bahwa kamu akan datang menemuiku dan memberi aku kejutan seperti yang biasa kamu lakukan. aku akan ingat kebebasanmu, sikap bebasmu, dan aku masih bisa merasakan bahwa aku adalah satu-satunya orang yang istimewa bagimu, karena kamu memperlakukanku sangat istimewa, kamu selalu meyanjungku, menghujaniku dengan cintamu..apa aku pantas melepaskanmu?” ujarmu mulai emosi.

“kenapa kamu bisa melepaskan aku? beritahu aku?” tanyamu

siapa yang bilang aku melepaskan kamu? seandainya kamu tau, penyesalan terbesarku adalah melepaskanmu

“aku harus melepaskanmu, karena memang harus, ini bukan tentang kita Bi, tapi tentang mereka…” jawabku.

lama kita terdiam, meresapi semua emosi-emosi yang telah kita pendam

“sudah malam..aku akan mengantarmu kembali ke penginapan” ujarku.

“apa kamu mencintainya?” tanyamu

“Bi…” aku mulai gelisah.

“jawab Rin…jawab saja” pintamu

” i love him Bi…i love him…” kataku pelan

“no you don’t!” katamu

“yes i do….” jawabku setengah menahan tangis

“love can’t describe what love is…” ujarmu

“aku telah menerimanya, telah mengijinkannya masuk kedalam ruanganku Bi, aku mencintainya…mencoba memberikan seluruhnya Bi…” jawabku.

“mari kita pulang….” kataku sambil memegang tanganmu.

sepanjang jalan kita hanya terdiam, dan saat itu aku sudah tidak bisa membaca pikiranmu…atau memang aku yang sudah tidak ingin mengetahui apa yang kamu pikirkan? entahlah.

sesampainya ditempat penginapan,

“apa dia mencintaimu Rin? mencintaimu sama seperti aku mencintaimu? apa dia pernah terluka Rin?” tanyamu

aku diam…entah jawaban apa yang bisa kuberikan padanya, karena aku tidak tahu dan tidak yakin dia yang disana juga mencintaiku. dan aku pun sudah tidak bisa menahannya lebih lama, aku menyerah, dan airmata pun mengalir dari sudut mataku. Bi menarikku kedalam pelukannya

“aku takut Bi…takut…” uajrku sambil menahan tangis.

“aku takut akan kehilangan lagi, aku takut karena dia masih berada di dunianya Bi, dia tidak menginjinkan aku memasuki dirinya utuh, aku takut Bi, sakit itu ada lagi…ketakutan itu ada lagi…kukira cukup aku kehilanganmu…” ujarku.

Bi memelukku erat…

“apa yang harus aku lakukan Bi? karena aku tidak tau siapa aku baginya Bi….apa yang harus aku lakukan?” tanyaku

“kamu tidak harus melakukan apa-apa, karena dia akan mengerti kamu, mengenal dirimu tidak cukup sulit, dan mencintaimu sangat gampang, berikan dia ruang yang utuh Rin….sanjung dia, tenangkan dia…kamu tidak perlu membuktikan apa-apa….kamu sudah memilihnya, waktu Rin…beri dia ruang dan waktu…itu saja” jawabmu.

dan aku melepaskan pelukanmu, kamu menghapus sisa-sisa airmata di pipiku…

“sudah jangan menangis, kamu dan dia akan baik-baik saja, pulang dan beri kabar padanya kamu baik-baik saja…” ujarmu

“..dan aku sudah memenuhi janjiku, menemani dirimu sampai kamu mampu berdiri lagi…” lanjutmu

dan disinilah kita….kita telah menghancurkan semua kenangan-kenangan yang sudah usang itu, kita akan memulai lagi dari awal, tidak akan pernah melihat ke masa lalu….

dan disinilah kita, saat malam mulai merayap, gerimis yang menggiring dingin, dan kita menutup cerita ini

“sampai jumpa Bi…” kataku…..

dan kamu pun tersenyum……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s