lubang kedua

lambat laun kau akan meninggalkanku. lalu doa apa yang paling tepat jika aku dermaga bahkan pantai yang purba yang sering diserang rindu? pada tubuhku tertancap mercusuar berkedip-kedip memanggil kalian pulang. ia juga adalah isyarat bahwa diam-diam aku tidak rela kehilangan. kadang aku berpikir akankah ada seseorang yang memahamiku seperti pembaca buku yang tekun, mencintaiku dengan hati-hati dan mendoakan seolah masih percaya pada hal-hal gaib. apa di usia dewasa kita masih percaya pada halhal semacam itu. hal-hal yang serupa tanah dijanjikan pada malin yang rantau? 

Entahlah, tiap kehilangan adalah lubang yang dalamnya sejauh jarak antara terminal rusak dan bus yang menjauh. aku sering berharap semoga kesedihan adalah tamu dari luar kota yang singgah sementara. namun sebagai tamu yang tak kita kenal betul perangainya. barangkali ada yang tercuri dan sulit didapat lagi. 

*puisi karya Adin, laki-laki yang membuatku mencintai sastra…laki-laki yang menenggelamkan aku dalam labirin sastra, laki-laki sahabatku….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s