Aufa, ini tentang kamu Fa

entah mengapa sore tadi aku memikirkan kamu Fa? heran juga ya, sudah berapa lama kita tidak ketemu? sudah berapa lama kita tidak ngobrol Fa? hmmm sebulan? dua bulan? 4 bulan? aiiihh aku lupa Fa…terakhir kemarin kita ketemu selepas nonton film di i:boekoe dan kamu memaksaku untuk menemanimu minum karena kamu baru saja bertengkar dengan pacarmu, kamu juga memaksaku pergi untuk menemui kawanku dari gerakan anarchy karena kamu ingin tau tentang gerakan itu, dan akhirnya aku membiarkan kalian tepar tak berdaya dibawah pengaruh minuman itu…

Aufa, laki-laki yang aku kenal entah bagaimana awalnya…apa kamu masih ingat? kalo tidak salah gara-gara kawanku yang juga kawan sekaligus seniormu di LPM Ekspresi-UNY sering bercerita tentang kamu yang suka nulis dan tulisanmu yang selalu dimuat di majalah budaya itu…apa namanya pun aku sudah lupa dan aku yang penasaran seperti apa wujudmu…dan entah siapa yang memulai, namun kita sering ngobrol ngalor-ngidul tentang sastra, tentang perempuan tentang islam lewat jejaring sosial…..dan saat kita akhirnya bertatap muka hanya senyum akrab yang terpasang diwajah kita, seolah kita memang sudah lama saling mengenal….

17 Januari 2012

“Rin, jangan lupa malam ini ada peluncuran buku dari LPM Ekspresi” sms dari Tara mengingatkan aku tentang undangan dari kawan LPM Ekspresi-UNY dan memang sudah menjadi tugasku sebagai koord.jaringan kerja di natas untuk datang menghadiri setiap undangan entah itu dari LPM atau organisasi lain.

“yoooiiii….ini aku jemput adikku dulu, abis itu langsung ke Ekspresi” balasku.

hujan deras, aku harus berteduh berkali-kali agar tidak basah, karena aku tidak suka pakai jas hujan yang lebih mirip kostum makhluk antah berantah…toh jas hujan tidak mampu melindungiku dari hantaman-hantaman air hujan itu

dan selama perjalanan menuju kampusmu, kampus UNY; aku teringat kamu Fa, jangan salah ini bukan rindu, hanya tiba-tiba saja teringat kamu dan kelakuan ajaibmu…..

masih ingat tidak keinginan terbesar kamu ingin memiliki bulu selebat Ridho Roma? karena kamu ingin terlihat macho dan jantan. aku hanya tertawa, tak berhentinya aku tertawa mendengar keingananmu itu Fa. sampai pada satu hari kamu membeli minyak yang mereka sebut minyak firdaus di tukang obat pinggir jalan yang kau temui di pasar klithikan Jogajakarta….

“kamu percaya bisa punya bulu dengan minyak itu?” tanyaku

“iya” jawabmu dengan senyum lebar yang jadi ciri khasmu

dan aku hanya tertawa sampai gak kuat menahan badanku yang terguncang dengan hebatnya saat kau menunjukkan hasil minyak firdaus itu, bukan bulu yang kau dapat tapi ruam-ruam merah didada, namun dengan bangganya kamu menunjukkan padaku jejak-jejak hitam disekitar pusarmu yang menurutku menyerupai barisan tai lalat yang seolah-olah mengerubungi sesuatu…aku tertawa juga bergidik geli dan kamu hanya tersenyum kecut, membekap mulutku agar berhenti tertawa….

kamu memang ajaib Fa, kamu dengan sarung yang sering kamu pakai di kampus, dengan alasan lebih sejuk…kamu dan bakiak kayumu yang bising saat kau pakai namun itu jadi penanda kedatanganmu, karena aku bisa mendengar dengan jelas meski dari jarak sekian meter bahwa kamu ada disekitarku. siapa lagi yang mau pakai bakiak kayu kekampus kecuali kamu…..

aku masih ingat dengan jelas saat kamu tanpa angin dan badai mengajakku ngobrol karena kamu merasa mati kutu di rumah, di lingkungan pesantren rumahmu….duuhh kok aku masih belum percaya kalo kamu itu adalah produk made in pesantren ya?

dan hari ini Aufa, bayanganmu tiba-tiba menari di sudut pikiranku, yaa aku tiba-tiba ingin sekali bertemu denganmu Fa….dan malam ini aku datang kekampusmu, menghadiri acara peluncuran buku dari LPM-Ekspresi, LPM tempat bernaungmu, sial!! kalian sudah menerbitkan 2 buku dalam setaun terakhir ini….energi  darimana kalian bisa sangat produktif sekali? damn! umpatku dalam hati….dan hey malam ini adalah malam memaki bukan, karena buku kalian tentang caci-maki…..

aiiihhh Fa, kamu makhluk ajaib yang selalu membuatku terperangah….malam ini kamu memberikan aku sebuah alasan untuk menertawai dan mengolok-olok dirimu…..penampilan kamu yang berubah, rambutmu yang hitam dan halus itu ternoda dengan warna merah gelap…aaaahhh Aufa…kamu tidak ada bedanya dengan para anggota boyband yang sering nongol di TV dan membuat anak-anak labil itu menjerit histeris dengan suara mereka yang pas, pas banget hancurnya….

dan aku dengan semena-mena mengacak-acak rambutmu, yaaa…..kamu dengan rambut merahmu…..

Aufa….Aufa..kamu selalu memberikan aku alasan untuk tertawa dan mencelamu…..

kapan kita ngobrol lagi Fa? dan kapan kamu mengembalikan bukuku? Aufa, ayoo kita ngobrol….

Advertisements