catatan refleksi: ibu sumirah…

kita tidak akan pernah tahu saat kita membuka pintu untuk seseorang, saat itulah kita telah menolongnya, entah hidupnya, entah jiwanya…saat pintu terbuka bagi orang asing saat itulah luka dibalut….

namanya Sumirah, wanita tua yang tidak ingat kapan dia lahir.  Sumirah, wanita tua yang hidup sendiri,  wanita  yang membukakan pintu rumahnya saat aku menggigil kedinginan. tidak….dia tidak sekedar membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan aku masuk, tapi dia sudah menghangatkan jiwa-jiwa kosongku dan mengobati lukaku…namanya Sumirah…

pertemuanku dengan ibu Sumirah diawali dari niatku untuk menenangkan diri, hmm bukan sekedar menenangkan diri saja, tapi mencoba mencari jawaban-jawaban atas semua pertanyaan yang mengusikku beberapa hari terakhir.

siapa aku? cukupkah aku dengan menjadi aku yang sekarang? cukupkah aku menjadi seorang Irine Octavianti Kusuma Wardhanie, anggota LPM Natas, PPMI, dsb….? cukupkah aku menjadi anak kedua dari 4 orang bersaudara, yang dibesarkan dalam lingkungan militer dan sejak kecil selalu hidup nomaden dari satu kota ke kota lain? cukupkah statusku sebagai pacar dari seorang Ismail Agung?

malam itu, sabtu 21 Januari 2012, aku diliputi perasaan kosong yang amat sangat, dan aku hanya mengikuti naluriku saja…aku harus lari, entah lari dari apa, tapi aku hanya ingin lari saja. aku putuskan untuk berkeliling saja malam itu dengan motor biru-ku, memacunya dengan kecepatan tinggi selalu bisa membantuku kembali fokus dengan hari-hari dan rutinitas yang (biasa) aku jalani. tapi malam itu tidak, kecepatan tinggi tidak membantuku mengembalikan akal sehatku, malah mengantarkan aku menuju kedaerah yang sama sekali tidak aku kenal, tempat asing dan sepi.

berada ditempat asing yang tidak aku kenal di saat malam hari dan tanpa identitas karena aku tidak bawa dompet dan hape, membuat nyaliku menciut, yaa…aku seperti mengundang bahaya, memanggil masalah….tapi bukankah tujuanku adalah melarikan diri? menghilang sesaat dari dunia yang selama ini aku jalani dengan penuh tanya? yaa itu tujuanku malam ini…

hujan turun, dan aku yang terus memacu motorku sampai akhirnya aku menyerah dengan suhu dingin. segala macam pikiran buruk menghantuiku malam itu, aku yang seorang diri ada ditempat sepi dan asing sesuatu bisa terjadi, apapun bisa terjadi…

akhirnya aku menemukan sebuah rumah kecil yang hanya diterangi lampu minyak dan dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu…agak sedikit takut saat aku menginjakkan kaki dirumah itu, “siapa yang mau tinggal di rumah kecil dilingkungan sesepi ini?’ tanyaku dalam hati. namun rasa takut itu aku singkirkan, aku butuh tempat berteduh, tempat menghangatkan diri dari dingin hujan malam ini.

aku mengetuk pintu rumah kecil itu, tidak ada jawaban, sekali dua kali, sambil mengucapkan salam seperti orang-orang muslim lakukan, berpikir bahwa pemilik rumah itu adalah orang muslim yang mampu menjawab salamku…mayoritas dan kebiasaan di negara berpenduduk muslim terbanyak.

menunggu cukup lama dan akhirnya aku memutuskan untuk mengetuk pintu itu untuk yang terakhir kalinya. saat hendak mengetuk pintu aku mendengar suara orang dari dalam rumah, membalas salamku dengan lirih dan terkesan ragu, pintu rumah itu pun berderit dan terbuka, seraut wajah wanita tua yang keriput muncul dibaliknya, menatapku dengan mata kecilnya yang heran atau mungkin curiga terhadap aku, orang asing yang datang mengetuk pintu rumahnya saat tengah malam.

“maaf bu mengganggu, saya numpang berteduh” kataku sambil menggigil kedinginan…

mungkin melihat keadaanku yang basah kuyup membuat dia iba, maka dia membukakan pintu rumah kecilnya lebar-lebar dan mempersilahkan aku masuk. diberikannya aku handuk kecilnya yang sudah sobek dibeberapa bagian dan juga kaos dan jarik untuk aku agar bisa mengganti pakaianku yang basah….tak lama dia menghidangkan segelas teh hangat dan duduk disampingku…tatapannya menghujamku seolah-olah ingin menyelidiki siapa aku.

ibu itupun menanyakan namaku dan kemana tujuanku, dengan singkat aku memperkenalkan diriku tanpa memberitahu tujuanku karena aku tidak tau kemana tujuanku…

ada jeda yang cukup lama antara aku dan ibu itu, kemudian dia beranjak pergi sambil berkata akan memasak air sekaligus persiapan sholat subuh…aiihh sudah hampir pagi rupanya….aku melihat jam dinding yang tergantung di bilik bambu rumahnya, hampir jam 3 pagi…

aku mengikuti langkah ibu itu, berniat untuk membantunya sekaligus mencari kehangatan diantara tungku-tungku batu yang membara membakar potongan-potongan kayu…

didapurnya yang sederhana dan berlantaikan tanah, kami berbincang, berbincang untuk sekedar memecah rasa asing kami satu sama lain, menghapus rasa curiga yang masih aku liat dari matanya. kami berbincang, dan dia memperkenalkan dirinya sebagai Sumirah…yaa namanya Sumirah, ibu Sumirah

hidup seorang diri, dilingkungan yang sepi mengundang aku untuk bertanya pada ibu Sumirah. dan dia pun menceritakan tentang dirinya….

Ibu Sumirah dulunya adalah wanita yang memiliki segalanya, memiliki keluarga kecil dan hidup sederhana. sampai akhirnya kebahagiaannya itu harus dia lego atas nama keikhlasan dan pengorbanan. suaminya memutuskan meninggalkan dia dan ketiga anaknya demi wanita lain dan kemudian hijrah ke pulau kalimantan. Ibu Sumirah dengan ikhlas melepaskan suaminya…dan dia sampai kini masih menyimpan cintanya untuk suaminya, baginya kebahagiaan suaminya adalah kebahagiaannya juga…

aku hanya bisa menatap ibu Sumirah yang duduk dihadapanku, tatapan matanya kosong entah kemana pikirannya melayang…dia membuka lukanya…..

Ibu Sumirah pun harus berjuang membesarkan ketiga anaknya, seorang diri…dan kemudian dia harus merasakan lagi rasa kehilangan. dia harus kehilangan anaknya yang nomor dua, putranya meninggal, korban tabrak lari…ada sedikit genangan air di sudut mata ibu Sumirah saat dia menceritakan tentang anaknya ini…dia kemudian melanjutkan ceritanya, mengenai anak pertamanya yang selepas menyelesaikan sekolah tingkat pertamanya pergi merantau tapi tidak pernah pulang, dan anaknya yang bungsu yang diboyong suaminya pindah kedaerah lain dan tidak pernah lagi mengirim kabar kepadanya. 

suara azan mengumandang, ibu Sumirah mengajakku sholat, aku hanya menggelengkan kepala sambil berkata “saya tidak sholat bu…”

aku hanya melihat bu Sumirah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, bersujud saat yang lain terlelap….aaiihh sudah lama sekali aku tidak melakukan ritual itu…sudah lama….dan ada perasaan rindu yang menyelimuti dadaku…dulu aku adalah orang yang tidak pernah melalaikan ritual itu, selalu bersujud, meluangkan waktu sekedar menyapa sang Penguasa, berbincang denganNya…tapi sekarang, aku sudah lupa caranya berdoa…entah lupa atau mungkin…..aahh entahlah….

selepas menunaikan kewajibannya, bu Sumirah kembali mengajakku kedapur kecil miliknya dan menyiapkan sarapan….beliau kemudian bertanya padaku tentang aku, siapa aku dan kenapa aku bisa berada disini, dirumahnya….ceritaku bergulir, tentang aku, tentang perasaanku, tentang pencarianku mengenai hidupku, bagaimana aku bisa memaknai diri dan hidupku…aku bercerita kepadanya tentang ketakutanku akan sebuah konsep kehilangan, teoriku mengenai ruang kosong dan tentang rindu dan rasa bersalahku entah pada siapa atau apa….saat aku menceritakan semua bebanku pada ibu Sumirah, beliau hanya mendengarkan aku, sesekali tangan kecilnya mengelus tanganku, dan aahhh ada setitik air yang jatuh membasahi tangan ibu Sumirah…air mataku….

aku minta ijin pada ibu Sumirah agar bisa merebahkan kepalaku dipangkuannya, dan dia mengijinkannya…

“saya capek bu” ujarku kepada ibu Sumirah…

perasaan yang membuatku ingin lari sejenaklah yang membuat aku capek, dan aku sadar selama ini aku hanya sibuk untuk melarikan diri, tenggelam dalam rutinitas-rutinitas untuk sekedar mengobati luka-lukaku, mencoba mengisi ruang-ruang kosongku….tapi cara itu tidak pernah berhasil, malah seperti jebakan dan perangkap bagiku untuk terus melarikan diri….seperti lingkaran dan aku hanya berputar disitu-situ saja…

pagi pun datang, bu Sumirah mengajakku sarapan dengan lauk sederhana dan kemudian mengajakku mencari rumput dibelakang rumahnya….hari itu aku habiskan dengan ibu Sumirah, dengan hidupnya yang sederhana….

aku belajar banyak dari ibu Sumirah, tentang kehilangan, tentang ruang kosong, tentang hidup, tentang keikhlasan, dan tentang merelakan…aku belajar untuk mengerti bahwa semua akan pergi, orang yang kita sayangi, sesuatu yang kita hargai…bahwa waktu serupa mesin-mesin yang terus mendorong kita untuk merelakan….

takut..ketakutanku akan konsep kehilangan adalah benteng yang aku bangun hanya untuk melindungiku dari rasa sakit, sayang benteng itulah yang justru melukaiku…aku pernah merasakan kehilangan yang amat sangat dan hancur bersamanya, aku pun terjebak dalam lingkaran-lingkaran masa lalu, membuatku tidak ingin melepaskan apa yang aku punya….egois..iya…

hati itu serupa kuil, tempat dimana kesedihan dan rasa bahagia berbaur, karena hati tak bisa dimiliki dan takkan hancur meski sudah kehilangan berkali-kali…..

ibu Sumirah tidak pernah tahu bahwa ketika dia membukakan pintu rumahnya untuk aku yang sedang menggigil kedinginan, dan menyodorkan kepadaku baju untuk berganti pakaian, saat itulah dia seperti Tuhan yang memberiku jawaban dan membalut lukaku…ibu Sumirah tidak pernah tahu bahwa aku, gadis yang mengetuk pintu rumahnya adalah orang yang tidak sekedar meminta tempat untuk berteduh, tapi memintanya untuk mengisi kekosongan-kekosongan dalam hidupku…

Ibu Sumirah mengajarkan aku, bahwa mimpi itu kita, kebahagiaan itu kita….kita ada untuk membuat orang lain bahagia…dalam kesederhanaannya ibu Sumirah, sosok wanita tua yang sudah memberiku satu jawaban….melepaskan….

karena cinta itu membebaskan,  melepaskan mereka bukan berarti kehilangan, hanya mengantarkan mereka sampai pada titik apa yang ingin mereka tuju….

 

ketika orang yang aku sayangi akan pergi, dan memang dia ingin pergi, silahkan….karena itu hidup… people come and go, leave the mark and we’ll never be the same again…karena melepasnya adalah seperti menikmati keindahan dan pesonanya yang membuat aku menyayanginya dari jarak bayangan…..karena melepasnya adalah membuat dia selalu terlihat hebat di mataku….

sore, dan aku harus pulang, menemui hari-hariku seperti biasa…berpamitan pada ibu Sumirah dan memeluknya mengucapkan terimakasih atas ruang yang telah dia bagi denganku…atas ruang yang sudah mulai terisi dengan sesuatu yang mungkin akan aku sebut mimpi, yang akan aku panggil kebahagiaan…

kita tidak akan pernah tahu saat kita membuka pintu untuk seseorang, saat itulah kita telah menolongnya, entah hidupnya, entah jiwanya…saat pintu terbuka bagi orang asing saat itulah luka dibalut….

Advertisements

2 thoughts on “catatan refleksi: ibu sumirah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s