Kak Rosa…..aku padamu-lah

Rosa, namanya Rosa Dahlia Yekti Pratiwi…awal pertemuan kami adalah di selasar kampus sastra, Universitas Sanata Dharma. saat itu, tahun 2009 saya yang masih berstatus mahasiswa baru (padahal aslinya mahasiswa transfer) ngobrol-ngobrol dengan beberapa senior dikampus, mereka menceritakan seluk beluk kehidupan di kampus sastra sadhar, termasuk mba Rosa yang saat itu memanggilku ‘nduk’ panggilan khas orang jawa kepada perempuan yang lebih muda.

semakin hari aku semakin mengagumi sosok perempuan ini, Kak Rosa….dia yang kemudian mengenalkan saya pada kehidupan lain di kota Jogjakarta. jangan salah ini bukan kehidupan hedon ala kota besar yang pernah saya cicipi, juga bukan kehidupan hura-hura..tapi kehidupan lain dibalik kesederhanaan kota Jogjakarta… saat itu Kak Rosa mengajak saya ke Pingit untuk mengajar anak-anak disana…

sebelumnya Kak Rosa sudah menceritakan sekilas mengenai kondisi anak-anak di pingit, yang rata-rata adalah dari menengah kebawah dimana orangtuanya bekerja sebagai pemulung dan buruh. saat itu ada beberapa relawan lain yang udah datang, dan kelas akan segera dimulai. saat itu saya dapat kelas anak TK, materinya adalah mewarnai…sempat terjadi keributan antar anak kecil dan berakhir dengan tangisan kencang salah seorang anak.

hari pun berganti….2 tahun sudah saya mengenal perempuan ini, sampai akhirnya saya mengetahui bahwa dia adalah salah satu finalis ACI…tambah kagum saya pada kakak yang satu ini….dia pun menjelajah sisi lain Indonesia….tujuannya adalah Maluku

sepulangnya dari berpetualang dia membawa sebuah misi: 1 buku namanya…..dan selama 2 bulan dia, mas Anjar dan beberapa kawan lain pontang-panting menggalang dukungan untuk mewujudkan mimpi anak-anak di manusela dan maraina, Maluku…

membaca catatan perjalanan Kak Rosa yang harus membawa 1000 buku dan melihat melalui foto-foto kebahagiaan anak-anak di manusela dan maraina cukup membuat saya selalu menitikkan air mata….

thanks for giving me a chance to take a part in 1 buku project, masih akan ada sekolah-sekolah lain yang butuh orang-orang seperti kak Rosa…tidak perlu retorika cukup bermimpi dan mengambil celah kesempatan dalam mimpi itu……

surat dari adik-adik manusela

saya bangga mengenal Kak Rosa…..saya bangga berjalan bersama kak Rosa dan menyusun keping-keping mimpi…aiiihh tulisan saya ini acak-adul karena tidak ada ruang yang cukup untuk menggambarkan sosok seperti kamu Kak…..

tidak perlu menjadi kaya untuk membantu, karena hanya butuh mimpi yang sederhana, hanya butuh tangan untuk saling menopang dan menguatkan….

kak Rosa, terimakasih…..

kak Rosa aku padamu-lah

dan saya tidak sabar menunggu project perpustakaan di Pingit, di Code, dan tidak sabar melihat tumpukan buku yang akan dikirim ke Tambora……..woooooooooo *saya benar-benar berteriak saat menulis ini*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s