modernisasi —- eksitensi dan pencitraan = dehumanisasi

punya banyak teman itu membanggakan, bisa dibilang anak gaul, anak modern masa kini dan bla bla bla…hayooo liat jejaring sosial kita, terutama facebook dan twitter. berapa banyak teman yang kita punya?

di facebook saya punya 1, 5777 teman dan di twitter 623 followers dengan 358 following….apakah saya tau semua teman-teman saya di jejaring sosial itu? untuk di facebook saya bikin beberapa kategori, diantaranya :

  1. kenal mereka : 99 persen, yang satu persen harus muter otak dulu untuk ingat orang yang bersangkutan (ketemu dimana dan kenapa bisa jadi teman)
  2. cukup dekat : 70 persen, karena 30 persennya adalah teman sekedar kenalan saja
  3. bener-bener tau mereka secara personal : kurang dari 50 persen

kalo di twitter, saya follow orang-orang yang meskipun tidak saya kenal tapi saya pikir bisa memberikan informasi yang cukup penting bagi saya. lain halnya dengan followers saya, banyak diantara mereka yang tidak saya follow back meskipun saya cukup kenal dengan mereka. itu karena saya sering bertemu mereka dan cukup tau tentang mereka…..sebagian kecil dari orang-orang yang saya follow back adalah orang-orang yang pernah bertemu secara langsung….

itu jejaring sosial….cerita lainnya adalah seharian ini dikantor saya tidak bercakap-cakap dengan rekan seruangan saya, bukan berarti kami sedang marahan tapi karena kami menggunakan ‘ruang’ lain untuk bercakap-cakap —> Gtalk. padahal ya kita duduknya sebelahan lho, percakapan yang keluar adalah cuma ajakan makan siang. Dan di meja saat makan siang di sebuah warung lotek sederhana saja kami bisa bercakap-cakap lepas.

banyaknya teman di jejaring sosial bagi kebanyakan orang dan (mungkin) bagi saya sendiri adalah wujud dari eksistensi, yaaa manusia adalah makhluk sosial yang butuh orang lain dan kemudian pengakuan terhadap dirinya-lah yang membentuk eksistensinya sebagai manusia…tapi bagi saya bentuk eksistensi sekarang ini adalah eksistensi palsu….contohnya ini ya, kalo ada yang nanya kamu kenal sama si A gak? pasti kita mikir dulu yang mana ya? trus clue berikutnya adalah dia bilang yang ada di FB kamu, pasti akan ada berbagai kemungkinan jawaban…bisa jadi kita jawabnya “oh iya aku kenal dia” ato mungkin “oh hanya teman fb belum pernah ketemu” dan kemungkinan jawaban lainnya.

satu lagi yang paling sering saya pertanyakan adalah PENCITRAAN…secara sadar ato tidak sadar saat kita bergaul di dunia maya kita membentuk diri kita menjadi sosok lain, sosok kasat mata yang hanya dinilai melalui deretan huruf-huruf yang ada di twitter dan status kita di fb….

sering nih di timeline atau newsfeed saya banyak sekali menemukan orang yang sebenarnya didunia nyata dia tidak seperti itu, bedaaaaa 180 derajat….semua “aktivitas” nya di dunia maya hanyalah pencitraan dan yaa kita pun melakukan konsep pencitraan….di dunia maya kita bisa menjadi apapun ato siapapun…hebat yaaa *pasang muka miris*

eksistensi dunia maya dan pencitraan di dunia maya itu bisa berakibat fatal karena itu mematikan rasa kemanusiaan kita…pernah nih ya saya ikut kopdar sebuah jejaring sosial, kita semua kumpul tapi bercakap-cakapnya lewat jejaring sosial, ejek-ejekan juga lewat jejaring sosial, semua sibuk dengan gadget masing-masing…saya pun termasuk orang-orang yang sibuk dengan hape saya sendiri, sibuk reply dan retweet…..padahal gunanya kopdar untuk bercakap-cakap tatap muka..

mungkin karena kita selama ini bertemu dengan mereka seringnya melalui jejaring sosial sehingga saat bertemu rasanya kagok atau kikuk, sehingga kita merasa nyaman dengan cukup berbincang melalui jejaring sosial.

pernah nonton film Surrogate yang dibintangi oleh Bruce Wills ? di film tersebut menggambarkan bagaimana manusia tidak perlu keluar rumah untuk bersosialisasi karena para manusia tersebut sudah memiliki surrogate ato robot mereka masing-masing…robot-robot itulah yang mengambil alih fungsi manusia, seperti bekerja, bersosialisasi, membentuk keluarga dan sebagainya, sedangkan manusianya cukup berbaring saja, tinggal didalam rumah dan mengontrol ‘diri mereka’ dari rumah. kita bisa mendapatkan surrogate seperti apa yang kita mau, lebih muda, lebih cantik, lebih pintar, dan lebih-lebih yang lainnya yang tidak bisa kita dapatkan dengan hanya menjadi kita saja.

cerita di film Surrogate itu-lah yang menurut saya merupakan gambaran kita selama ini, akun-akun jejaring sosial yang kita punya adalah Surrogate kita untuk membentuk pencitraan dan eksistensi, bukan berarti saya anti jejaring sosial yaa…saya sih pengguna aktif jejaring sosial, cuma kadang-kadang ehmmm seringya sih merasa bahwa rasa kemanusiaan saya yang memanusiakan orang lain pelan-pelan mulai mati…

contohnya nih ya kita dengan seenaknya dan merasa bebas menggunjing atau bergosip ria atau memaki orang lewat akun jejaring sosial, kenapa tidak kita ngomong langsung didepannya aja? jadinya menjatuhkan citra seseorang khan ya….bedanya dengan ngomong atau menjelek-jelekkan orang di dunia nyata tuh hanya sedikit aja yang tau kalo orang itu menurut kita buruk, kalo di jejaring sosial mah sedunia bakal tau tuh…

modernisasi, tergantung bagaimana kita dengan bijak menggunakannya…bukankah untuk menggampangkan pekerjaan kita sebagai manusia tanpa mengurangi fungsi kita sebagai makhluk sosial yang benar-benar butuh manusia lain demi eksistensi kita sebagai manusia utuh…

sayang modernisasi sekarang ini membuat eksistensi kita menjadi eksistensi palsu demi sebuah pencitraan yang menurunkan kemampuan kita sebagai manusia…

jadiii…mari kita memanusiakan manusia selayaknya manusia……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s