reuni: waktu kita putar lagi, waktu untuk memaafkan

aku selalu berjalan melewati rumahmu dan berharap akan melihatmu berjalan keluar dari pintu dan berteriak memanggil namaku, sayang yang aku temui hanyalah rumah kosong tanpa penghuni…dan aku selalu berharap mendengar suaramu memanggilku seperti biasa, dan kita akan berjalan bergandengan kesekolah seperti biasa, seperti tahun-tahun yang biasa kita lewati…

19 Februari 2012,

hari ini hujan deras mengguyur kota jogja, meskipun hujan tapi tidak menghalangi niatku untuk kelayapan di malam hari, apalagi ini masih jam 7 malam…setelah seharian tadi cuma menghabiskan waktu di kamar kos, beresin buku dan kamar, gak bisa kemana-mana, gak bisa ngubis (kegiatan rutin tiap hari minggu pendampingan anak di Magelang) dan gak bisa kumpul sama teman-teman dari Coin a Chance….*pasang muka jelek tingkat iblis*, aku nekat menikamti hujan di malam hari kelayapan dengan si Biru, motor kesayanganku…dan akhirnya tujuan penjelahan malam hari adalah: Toko Coklat ternama di Jogjakarta…coklat monggo horeeee…sibuk milih-milih dan icip-icip coklat sekalian nanya rasa coklat yang unik apa (ceritanya ini survey buat ngirim ke pacar tersayang), hape pun berdering dengan nyaringnya dan oh ternyata bapak yang menelpon menanyakan kabar (aslinya ngecek  keberadaanku malam ini)…

setelah ngobrol sebentar ditelpon aku pun keluar dari toko coklat itu, rencananya akan melanjutkan kelayapan di rumah natas, tiba-tiba aku merasa ada yang memanggil nama kecilku “nina….” aahh mungkin hanya perasaanku saja. tapi kok aku merasa tidak asing dengan suara itu dan aahh sial ada yang menarik tanganku…ooh cari mati ini orang, gak tau ya aku sedang dalam keadaan galak akut?dan aku pun menoleh siap-siap memarahi orang yang sudah berani menarik tanganku.

“nina..” panggil pemilik suara itu

sistem di otakku mulai sibuk mencari tahu siapa orang yang berdiri dihadapanku, orang yang asing, aahh tidak sepertinya aku sangat mengenalnya…dan orang ini sudah memanggilku dengan nama kecilku, nama yang hanya diketahui oleh keluarga dan sahabatku dari kecil…aahh sahabat….hanya 2 orang saja yang tau nama kecilku ini…..

dengan ragu aku berkata

“maaf saya bukan nina…” dan mencoba untuk tersenyum.

“kamu nina, kamu udah lupa ya?” tanyanya dengan logat yang…aaahhh Tuhan…otakku tiba-tiba mengirim sinyal mengenai orang yang sedang berdiri dihadapanku ini….

sedetik, dua detik aku masih harus meyakinkan diri sendiri bahwa laki-laki yang berdiri dihadapanku adalah sahabatku, sahabat kecilku…..

dan tanpa peduli dengan keadaan sekitar, aku pun menghambur kepelukkannya sambil memanggil namanya….Sansan….itu namanya….nama sahabat kecilku, nama yang biasa aku panggil….Aku tidak percaya orang yang berdiri dihadapanku saat ini adalah sahabat masa kecilku….

8 tahun, ya sudah 8 tahun kami terpisah, kehilangan jejak…kehilangan cerita kanak-kanak…

“kok bisa kamu ada disini” tanyaku

“bisa dong, emang gak mungkin ya aku ada di Jogja” ujarnya dengan senyum khasnya, yang menonjolkan gigi gingsulnya membuatnya terlihat semakin ganteng…

aku pun mengajaknya duduk di emperan toko sambil menunggu hujan reda, tanganku tak lepas dari pegangan tangannya, dan kita mulai percakapan yang sepertinya masih canggung. aku dan dia kebanyakan hanya diam dan saling bertatap saja, seolah-olah ini adalah sebuah ketidakmungkinan, ketidakmungkinan bahwa kita bertemu di kota kecil ini, Jogja.

aaahh Jogja, tempat aku bersembunyi dan menyembuhkan luka, kota dengan kesederhanaannya mengajarkan aku untuk berdiri lagi, meski luka masih menganga…Jogja dengan kesederhanaannya membangunkan aku dari tidur panjang, dan cerita romantisnya menorehkan cerita baru dan membuat aku berani membuka pintu hati untuk orang lain, dan kini Jogja mempertemukan aku dengan sahabat kecilku. 

“udah agak reda, yuukk cari minuman hangat..” kataku sambil menarik tangannya. aku pun memacu si Biru menembus rintik hujan, untung saja hujan, jadi sahabatku bisa bersembunyi di balik mantel hujan karena dia gak pake helm. kami pun sampai di sebuah cafe  yang terletak di daerah gejayan, sebuah cafe kecil yang menyatu dengan toko buku.

“hmm pasti coklat panas yang kamu pesan….” tebaknya

“dan kamu pasti jeruk hangat gak pake gula..hebat aku masih ingat” seruku, mengingat kapasitas otakku agak terbatas dalam urusan ingat mengingat.

kita pun bercerita, tentang masa lalu, tentang ayunan, tentang apapun yang sudah terlewatkan….sampai akhirnya aku mengajakmu ke salah satu sudut kota favoritku….

tak berapa lama kita sudah duduk di emperan sebuah mall di Jogja..

“yaa telat kita..” kataku sedikit kecewa.

“kenapa?” tanyamu

“kehilangan momen saat para pekerja mall disini keluar dan saat lampu mall ini dipadamkan” jawabku

dan kamu pun hanya tertawa…

“aneh ya? aku suka liat suasana mall dari rame terus tiba-tiba jadi sunyi, sepi…tak ada nyawa dan gairahnya…” ujarku

“iya aneh banget, mall ya tetap mall sama aja kayak toko-toko lain” katamu

dan kita pun melanjutkan obrolan kita sampai akhirnya….

“kangen Uke, apa kabar dia?” ucapku sambil bersandar di tembok

“udah lewat Na, semuanya….” katamu

“semua gara-gara aku….coba aku gak sibuk, coba aku selalu balas suratnya..” kataku

“coba kamu berhenti menyalahkan diri sendiri…” jawabnya sambil memegang tanganku erat

dan mengalir semua luka dan rasa bersalah…mengalir semua cerita masa lalu kita……

kita; aku dan kamu akhirnya memutuskan membagi ayunan itu kepada gadis kecil yang datang di sore hari itu dengan syarat dia harus membelikan kita permen lolipop yang banyak, dan gadis kecil itu berlari…keesokan harinya dia datang dengan sekantong lolipop warna-warni, dan kita pun berbagi ayunan….ayunan kayu, mengantarkan kita untuk menggoreskan mimpi-mimpi kita… aku yang menyukai hujan, kamu yang mencintai senja, dan dia yang mengagumi laut….

kita menapaki waktu demi waktu, bukan cuma berbagi ayunan, tapi  juga berbagi genteng rumahku, tempat kita lelap saat terik membakar, berbagi tenda di depan halaman rumahnya, saat kita bermain seolah-seolah menjadi detektif…berbagi laut…menjelajah gunung….semua kita lakukan bertiga…

dan sampailah pada kehilangan pertama, gadis kecil yang datang dengan sekantung lolipop warna-warninya itu kembali pulang, pulang ke kota kecil tempat kita tumbuh dewasa…tidak, dia tidak pulang mengantar lolipop, tapi dia rebah, dia lelap…cantik…matanya terkatup, kelopak matanya menyembunyikan binar mata yang sering kita sebut bintang itu….dia lelap….

“maaf Na..” katamu tiba-tiba

“untuk apa?” tanyaku

“untuk waktu yang terbuang kemarin, untuk tidak berada disampingmu, untuk mengingkari janji kecil kita…” ujarmu

“aku salah, kamu salah….kita tidak saling menjaga saat itu, kita larut dalam masa-masa yang sebenarnya itu tidaklah abadi…” jawabku

“kenapa kamu tidak datang saat aku pesta perpisahanku?” tanyaku

“apa aku pantas datang? setelah pemakaman itu kamu bahkan tidak ingin berbicara denganku, melihatku dan memanggilku pun tidak…apa aku pantas datang? aku pikir kamu marah padaku..” ujarmu

aku terdiam…

“padahal aku mengharapkan kedatanganmu, kupikir kamu yang marah padaku, kupikir kamu kecewa padaku…setelah pemakaman Uke, aku bingung dan memilih untuk sendiri..”

kita ada di jalur yang sama, menghadapi kehilangan pertama, kehilangan sahabat….dan kita ada di tahap yang sama, KECEWA…yaa kita menyalahkan sesuatu yang tidak tau kenapa itu salah…kecewa pada waktu dan bersalah pada diri sendiri….

kita adalah dua orang sahabat yang menjauhi karena tak berani menghadapi masa depan….itu kita

“semua sudah lewat, aku sudah bertemu denganmu, akhirnya….jangan pergi lagi” pintaku sambil bersandar di bahu sahabatku….

“setiap hari semenjak kepergianmu aku selalu datang bermain sendiri dengan ayunan di TK itu, berharap kamu datang seperti biasa, jam 4 sore dengan celana pendekmu, dan kita, seperti biasa saling menantang untuk mengayun paling tinggi…setiap sore aku bermain sendiri….” katamu

“dan setiap pagi aku berdiri di depan pagar rumahmu, menunggu seperti biasanya, menunggu kamu memanggil namaku dan kita akan berjalan bergandengan menuju sekolah” lanjutmu

ada setitik air yang mengalir, aah waktu menyimpan semua rutinitas kanak-kanakku, rutinitas yang tiba-tiba aku rindukan…..

“kenapa kamu bisa mengenaliku diantara pengunjung toko itu? tanyaku

“karena kamu cuma satu-satunya, karena kamu adalah satu-satunya orang didunia ini yang mengucapkan kata ‘dalem’ dengan logat manado, dan kamu yang memiliki kaki indah menurutku, dengan tanda yang khas dibelakang lututmu, dan kamu yang selalu menyentuh tangan orang lain saat mengucapkan terimakasih…” jawabmu

“aku masih ingat semua tentang kamu dan sikapmu Na, karena selalu menyimpannya, karena kamu pernah bilang suatu saat diantara kita pasti ada yang pergi, dan kita harus janji tidak akan saling melupakan…” lanjutmu

“janji masa kecil….” ujarku

malam itu kita lewati dengan bercerita, mencoba menggali lagi kenangan masa kecil, tentang ayunan, tentang hujan, tentang senja, laut, sahabat yang pergi; Uke, yang kini semakin dekat dengan bintang, dia yang selalu menggambar rasi bintang, tentang langit….

“kapan kau pulang?” tanyamu

“secepatnya…saat tiba waktunya aku pulang” jawabku. dan aku bercerita tentang orang yang kini menempati ruang di hatiku, dan kini sedang berada di kota kecil kita. aku menemukan kamu terkejut, dan pelan kamu bertanya tentang dia yang di masa lalu, lalu aku hanya bilang semua berakhir…..aku sudah menggores cerita lain.

malam akan segera berakhir, aku pun menemanimu di bandara, menunggu hingga angka di jarum jam beranjak ke pukul 6 pagi, kamu akan kembali ke kota tempat kita tumbuh dewasa…..kali ini kita tidak akan saling mencari, karena kita akan memulai lagi dari awal…

 

Manado, 1994

“hai namaku Nina, aku suka warna ungu dan suka main hujan, boleh aku pinjam ayunanmu?” 

“aku Sansan, aku tidak perduli dengan warna kesukaanmu, kamu boleh main ayunan ini asalkan kamu mau jadi temanku selamanya” 

PS: Dear Uke, we love you….

Regards, Sansan dan Nina……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s