women’s international day – pendefinisian ulang terhadap keperempuanan

Selamat hari perempuan sedunia – 8 Maret 2012

hari ini 8 Maret 2012 adalah hari bagi perempuan di dunia, hari dimana mereka mendeklarasikan dirinya agar bisa mendapatkan haknya sebagai seorang manusia, individu yang bisa berdiri sejajar dengan kaum pria. dimulai dari gerakan para perempuan pekerja (buruh) di USA pada tahun 1910, gerakan kesadaran perempuan akan haknya pun menyebar ke negara-negara lain termasuk negara sosialis. yaa semua dimulai oleh perempuan pekerja yang menuntut haknya atas upah kerja yang layak.

perjuangan akan hak perempuan yang awalnya adalah perjuangan dari ranah ekonomi; pada masa industri para perempuan adalah sumber daya manusia yang ‘berharga’ karena bisa dibayar dengan upah yang murah, kemudian pada perkembangannya gerakan perempuan pun tidak hanya dalam ranah ekonomi, tapi sudah mulai masuk pada kesadaran akan hak perempuan untuk mendapatkan posisi yang sama dalam pendidikan, hukum dan bahkan reproduksi. dan hari ini, 8 Maret 2012 perempuan di dunia kembali berkumpul bukan untuk merayakan, namun untuk kembali mengingat sekian ratus tahun yang harus dilewati untuk bisa mendapatkan hak asasi sebagai manusia, sebagai individu, dan menyamakan status sebagai warga utama, bukan yang kedua atau yang terpinggirkan.

***

dunia ini adalah dunia maskulin, dunia patriarki yang bahkan sejarah pun ditulis dalam tinta kemaskulinitas; HISTORY….

pada suatu hari seorang kawan bertanya pada saya,

“menurut kamu diantara kata wanita dan perempuan, mana yang lebih memiliki makna positif?”

saya pun berpikir cukup lama, dan kemudian menjawab

“keduanya sama makna dan artinya….tapi entah kenapa kata perempuan konotasi-nya lebih rendah”

dan dia pun menjelaskan makna dari kata wanita dan perempuan

wanita adalah gabungan kata dari bahasa jawa wani dan tata yang berarti berani atau mau ditata (diatur), sedangkan perempuan berasal dari gabungan kata empu dan puan yang memiliki makna yang agung atau terhormat (puan adalah sapaan hormat untuk yang para femina atau yang berjenis kelamin perempuan dan empu adalah pengampu). ‘wanita’ lebih mengarah kepada menjadi objek, sedangkan ‘perempuan’ lebih bermakna kearah subjek.

wanita, objek yang mau diatur…jadi para wanita adalah orang yang bisa diatur, bisa ditata sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat atau norma sosial. sedangkan perempuan, yang awalnya memiliki makna yang tinggi kini mengalami perubahan makna kearah yang negatif. disebagian besar penggunaan kata dalam bahasa Indonesia, kata ‘wanita’ untuk kalimat positif sedangkan ‘perempuan’ untuk yang negatif.

contoh tidak ada kata ‘wanita jalang’ yang ada ‘perempuan jalang’ dan juga tidak ada kata ‘dasar wanita’ tapi yang ada ‘dasar perempuan’

nah itu dari penggunaan kata ‘wanita’ dan ‘perempuan’. sedang masih banyak lagi yang harus kita, saya dan perempuan-perempuan (saya lebih memilih menggunakan kata ‘perempuan’) lainnya harus tahu. apakah tuntutan kita sebagai makhluk kelas dua hanya sebatas di ranah ekonomi, pendidikan, hukum atau reproduksi?

bagi saya pendefinisian ulang akan eksistensi perempuan-lah yang harus kita cari dan gali lagi, karena selama ini gerakan-gerakan ke-perempuan-an itu berasal dari barat, sedang kita yang hidup di negara timur (dari versi postcolonial, dunia ini terbagi antara barat= kulit putih, dan timur = kulit berwarna) memiliki ciri khas sebagai seorang perempuan.

banyak yang bermain di kepala saya sebagai seorang perempuan, diantaranya adalah kolom pekerjaan di kartu identitas atau di formulir yang ada di Indonesia, banyak perempuan termasuk ibu saya menuliskan bekerja sebagai ibu rumah tangga. apakah menjadi ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan? kalau itu tergolong pekerjaan kenapa para ibu tidak dibayar? lalu kenapa tidak ada bapak rumah tangga, meskipun si bapak tidak memiliki pekerjaan sebagai pencari nafkah?

jadi apakah masih layak jika menjadi ‘ibu rumah tangga’ itu tergolong pekerjaan? karena pernikahan bukanlah sebuah industri, dan ibu rumah tangga bukan orang yang dibayar untuk melahirkan, mengurus anak dan suaminya.

perempuan adalah makhluk yang dibebani oleh ‘keharusan’ dan ‘kepantasan’ sedangkan laki-laki adalah makhluk yang dipenuhi oleh banyak ‘pemakluman’

perempuan dinilai dari cara berpakaiannya, cara bergaulnya dan banyak lagi sehingga ada istilah ‘perempuan baik-baik’ sedangkan laki-laki apapun yang mereka lakukan mereka akan dapat pemakluman..karena mereka laki-laki. selain itu masih banyak lagi beban-beban sosial yang biasa ada di masyarkat timur, contoh keperawanan adalah tolak ukur sebagai perempuan baik-baik.

gerakan perempuan bagi saya adalah melakukan pendefinisian ulang tentang identitas kita sebagai seorang perempuan, berani memilih tanpa ada beban apapun selain beban tanggung jawab terhadap diri sendiri. bahwa kita adalah individu yang bebas dari label-label sosial…bahwa apa yang sebaiknya diperjuangkan lebih dari tuntutan kesetaraan di bidang ekonomi, pendidikan, atau hukum…bahwa kita memiliki hak penuh atas akal dan tubuh kita yang sering kali menjadi objek saja. karena memang, perempuan tidak akan pernah bisa sejajar dengan laki-laki didunia patriarki ini, namun kita bisa sejajar sejak dari dalam pikiran, sejajar untuk sadar penuh sebagai individu bebas.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s