(masih) tentang perempuan

kemarin, 8 Maret 2012 saya datang ke depan gedung Kepatihan Jogjakarta untuk menghadiri aksi dalam rangka hari perempuan internasional…sesampainya di depan gedung Kepatihan Jogjakarta yang terletak di kawasan Malioboro, sudah rame dengan rombongan peserta aksi yang membawa beberapa atribut aksi yang umum seperti spanduk, bendera organisasi, dan atribut lainnya.

saya tidak ikut meneriakkan yel-yel, saya pun tidak turut serta dalam mengacungkan tangan bahkan bersuara pun tidak..saya hanya duduk di pinggir trotoar dan melihat para perempuan yang menyuarakan tuntutannya…ada alasan kenapa saya yang saat itu datang aksi tersebut hanya duduk diam dan memperhatikan saja.

saya masih bertanya-tanya tentang spanduk tuntutan beberapa perempuan yang aksi kemarin dalam rangka hari perempuan internasional…di salah satu spanduk tertera tuntutan agar perempuan bisa cuti hamil 9 bulan namun masih mendapatkan upah…

kenapa saya bertanya-tanya, karena saya bingung; kebingungan pertama adalah ini kalimat ambigu; makna pertama cuti hamil 9 bulan = selama hamil, perempuan mendapatkan cuti, makna kedua: memasuki periode bulan ke-9 perempuan mendapatkan cuti….

kebingungan kedua adalah….ini bener-bener bikin saya bingung, apakah sebegitu dangkalnya tuntutan para perempuan yang meminta haknya atas nama kodrat? hamil adalah kodrat, namun kodrat pun masih bisa kita pilih kan? sederhananya sih kehamilan itu sebuah kodrat, namun kita masih bisa memilih untuk tidak hamil toh ini tubuh kita sendiri….

tuntutan cuti hamil 9 bulan dan masih mendapatkan upah menurut para perempuan yang berdemo kemarin itu adalah agar kapitalisme dihapuskan..lalu apa bedanya mereka, para perempuan itu dengan kapitalisme? menggunakan alasan hamil untuk menuntut sesuatu….eerrr….bukankah itu salah satu bentuk industrialisasi sistem reproduksi ya?

menurut saya, gerakan-gerakan perempuan di Indonesia sekarang ini berkiblat dari gerakan perempuan dunia barat, padahal antara dunia barat dan timur ada sebuah garis tebal yang membuatnya berbeda….gerakan perempuan barat didasari atas kehidupan perekonomian mereka yang mengarah kedunia industri, sedangkan perempuan timur adalah proses pembentukan identitas dan karakter dalam budaya patriarki…bahkan di tiap daerah di Indonesia pun sebenarnya memiliki gerakan-gerakan perempuan yang berdasar pada tekanan budaya masih-masing daerah…yaa Indonesia adalah negara kompleks dengan berbagai kultur yang beda-beda.

bisakah kita merumuskan lagi tuntutan terhadap hak-hak perempuan yang sesuai dengan kultur masyarakat setempat?

okay tuntutan mengenai hak reproduksi, kesetaraan dalam pendidikan dan hukum, perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan itu masih bisa diterima karena memang dalam bidang-bidang tersebut perempuan ada dalam posisi yang lemah. lebih daripada itu, masih banyak lagi yang sebenarnya bisa kita ‘tuntut’…tapi apa? saya juga bingung…karena dunia perempuan, dinamaki dan kompleksitasnya pun saya masih harus banyak belajar….

karena perempuan-lah yang sebenarnya bisa menempatkan dirinya dalam posisi atas atau bahkan merendahkan posisinya dengan mengkomersialisasikan hal-hal kodrati, karena itu membuat para perempuan terlihat lemah dan manja…..

memang, dunia perempuan adalah dunia yang rumit….tapi saya bangga bisa menyelami kerumitannya….sudah saya masih bingung…tolong ada yang membantu menjawab kebingungan saya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s