siang ini………..aku membaca lagi masa lalu dan kini

duduk di meja kantor yang selama 3 hari ini sudah saya tinggalkan karena sibuk kuliah dan persiapan pertandingan Taekwondo….kertas-kertas yang masih berantakan di atas meja dan juga bungkusan makanan ringan yang (sebenarnya) tidak baik karena mengandung zat pengawet yang bisa bikin otak mengecil (menurut saya lho :p)

iseng-iseng, saya log-in di akun wordpress saya yang sudah lama saya tinggalkan, sekedar untuk membaca lagi, membersihkan “sarang laba-laba” yang tersangkut di kotak spam…..atau mungkin saja tiba-tiba saya ingin curhat dengan rangkaian huruf-huruf di akun saya ini.

sampai akhirnya ada notifikasi bahwa saya mendapatkan follower baru, seperti biasa saya pun mulai menjelajahi blog follower saya yang baru yang memiliki nama yang unik; beradadisini dan ternyata pemiliknya adalah mba Hanny salah satu founder CAC (coin a chance) kegiatan yang saat ini saya geluti, yaa masih di kegiatan sosial di bidang pendidikan juga.

LOVE BIT,

salah satu postingan mba Hanny yang langsung menarik mata saya untuk membacanya…isi postingannya adalah kutipan-kutipan dari cerita yang mba Hanny buat sendiri…

di tiap goresan kata-kata di blog mba Hanny mampu membuat saya menahan napas sekian detik dan memejamkan mata mencoba menahan tetes-tetes air agar tidak tumpah dari sudut mata saya…..cerita yang digoreskan mba Hanny sepertinya adalah cerminan kisah saya, (aahhh kadang-kadang kita pun sering merasa memiliki koneksi atau kadang sering memposisikan diri sama seperti kisah ini-itu).

ijinkan saya untuk sekedar mengorek masa lalu, dan merangkai masa kini lewat cerita…..

BANDARA,

cerita pertama yang saya baca….ya memang bandara adalah tempat yang paling menyedihkan, karena disana ada perpisahan, entah kapan yang pergi akan kembali…layaknya layang-layang yang dikait oleh benang tipis…rapuh….

aku dan lelakiku dulu terbiasa untuk berjumpa dibandara. aku menjemputnya dengan senyum dan mengantarnya pergi dengan pelukan, itu adalah ritual kami karena jarak, karena memang kami harus berjarak.

sampai akhirnya aku mengantarkan kepergiannya di bandara kota Jogja, aku tau dia tidak akan kembali, tak akan pernah kembali..aku menggoreskan cerita lain, begitu pun dia yang memutuskan mengejar mimpinya….

bandara memang tempat yang menyedihkan, karena disitu aku melihat laki-laki masa laluku membalikkan badan dan punggungnya pun menghilang diantara arus manusia……

Question Everything

“Are we praying to the same God?”

bahwa Tuhan adalah satu yang kita sembah, bahwa hanya namaNya saja yang berbeda, sayang didunia hanya mengenal hitam dan putih saja…aahh mereka tidak melihat pelangi, bukankah akan indah jika kita satu dalam keberagaman?

… Tuhan aku mencintai dia yang menyebut namaMu dengan lafal yang beda, yang lahir dari rahim budaya yang beda satukan kami dalam perbedaan…. 

doa terakhir yang kita ucapkan saat hujan mengguyur Jakarta  4 tahun lalu…..

hai, apa kabarMu Tuhan? aku ingin bercerita denganMu di sepertiga malam, sama seperti perintahMu pada Rasul dan pada para Nabi….apa kabarMu Tuhan? aku masih bersujud padaMu, menengadahkan tangan memohon ridhaMu dalam jalan yang aku pilih….

Tuhan, dia masih menangkupkan kedua telapak tangannya, membaca perintahMu dalam kitab yang diyakininya, bersiap saat lonceng gereja menggema….

Tuhan…aku dan dia menyebutnya dengan nama yang berbeda, dan bukankah itu indah?

yang kita kenal hanyalah hitam-putih saja, dan kini kami pun berjalan tak seiring lagi…..

enam dua puluh

 “tak ada saya-kangen-kamu atau kamu-sedang-apa atau apakah-kamu-sedang-memikirkan-saya. Sudah lama pikirannya tidak pernah diam.”

di kota kecil ini tempat yang tepat untuk diam, menghentikan arus pikiran, diam hanya diam saja….menikmati secangkir cerita lalu dan membungkusnya dalam kertas tissue, lalu disimpan dalam tas yang kemudian teronggok dalam sudut ruangan. 

tak ada lagi selamat pagi sayang, tak ada lagi kejutan saat senja, kecupan saat ulang tahun dan tangisan saat bertengkar…. pagi ini aku mencoba untuk membuka mata, ada lubang kosong gelap dan kehilangan itu sangat menyakitkan…

matahari pagi, aku tak pernah menyukai matahari, jadi sembunyi saja karena aku tau mau bersentuhan dengan teriknya…..

“ternyata, matahari pagi tak seburuk itu, tak seterik itu, jadi aku merengkuhnya dalam kehilangan, menyimpannya untuk memenuhi kehampaan…sudah, itu sudah cukup untuk berkata…selamat pagi, lalu berlari menghapus air mata….”

pulang

Perempuan itu berjalan dengan masa lalu di pundaknya. Beban itu memberatinya seperti rasa bersalah yang meninggalkan lubang besar dalam hidupnya. Lubang yang bisa dilihat oleh semua orang di dekatnya—kecuali oleh dirinya sendiri. Karena ia tidak merasa berlubang; ia tidak merasa kurang. Mungkin ia hidup dalam penyangkalan atau terlalu menggantungkan diri pada harapan. Mungkin ia masih ingin jatuh cinta meskipun sering merasa bahwa lelaki itu tak berhak atas kehidupannya.

dan pada akhirnya aku mengijinkan laki-laki itu memiliki hak atas hidupku……ternyata….

Lelaki itu berjalan dengan masa lalu di pundaknya. Beban itu terbagi dua; sama rata. Satu di bahu kiri—perempuan dari masa lalu yang tidak juga menjadi miliknya walau mereka telah lama menebarkan bara. Satu di bahu kanan—perempuan dari masa kini yang tidak bisa ia miliki karena ia masih percaya bahwa dua hati yang saling jatuh cinta pun masih harus tunduk pada norma-norma.

toh laki-laki itu kini memiliki hak atas hidupku, karena aku masih ingin jatuh cinta…dan aku berharap beban di pundak kiri laki-lakiku kini bisa hilang atau terlepas, atau ditinggalkan….karena aku pun akan menutup lubangku…..

Jarak.

Jarak punya caranya sendiri untuk memberi kita waktu. Memberi kita ruang. Membuat kita melihat lebih jelas.

mungkin waktu begitu cepat sampai akhirnya memutuskan merubah ‘aku’ ‘kamu’ menjadi ‘kita’. mungkin memang terlalu cepat karena ada ruang kosong yang harus dibersihkan, entah ruangmu, entah ruangku…

betapa jarak itu membuat kita seolah-olah dalam labirin, labirin yang membuat aku berhenti karena tersesat, lalu bingung dan kemudian hanya bisa menarik napas seolah dengan cara itu aku bisa menemukan jalan keluar. 

mungkin terlalu cepat untuk aku memberikanmu kunci itu, kunci untuk memasuki ruang kosong dan berdebu dalam diriku, dan mungkin terlalu cepat arus pikiranmu saat menerima kunci itu….

sudah, aku sudah menitipkan ruang itu kepadamu, dalam jarak yang terangkum yang inginnya kudekati dirimu, namun masih ada tembok tinggi menghalangiku untuk masuk ke area mu, untuk mendekatkan jarak. 

kutunggu dalam batas senja, agar jarak itu menjadi samar…..

setelah luka yang menganga, apakah bisa aku ulurkan perban untuk membalut lukamu? aku sudah ada disini, tinggal selangkah kita membuat jarak menjadi karib…

tenggelamkan masa lalu dalam samudra yang selalu kau kunjungi, ada aku di cakrawalamu, mampukah kita benar-benar menjadi kita?

ijinkan aku menggores jarak itu dengan bayangan agar saat gelap datang tak ada lagi jarak…..

Tapi jarak adalah teman yang baik. Pelan-pelan, jarak mengajari kita bahwa sesuatu yang indah akan tetap indah, baik ketika dilihat dari jauh maupun ketika dilihat dari dekat.

 melepaskan cinta

“Perempuan itu tak berkeberatan seandainya si lelaki hendak meninggalkannya”

pernah dalam satu masa aku merasa harus pergi sebelum dirimu yang meninggalkan, karena bagiku, tak ingin lagi ada lubang yang menganga….bukankah meninggalkan itu lebih mudah? 

lalu kemudian aku belajar, belajar untuk tetap tinggal dan menunggumu, menunggumu yang hanya diam dan selalu menengok kebelakang, padahal ada aku disampingmu….

ingin kusodorkan sepotong cerita tentang senja tapi kamu terlalu sibuk memikirkan hujan lalu….

dan aku pun duduk diam disampingmu, menantimu untuk kemudian menatap kedepan….

kadang ada ketakutan yang menyelimutiku saat kau berdiri, takut jika kamu akhirnya melangkah dan memutuskan pergi

ketakutan itu kutahan namun sampai kapan telaga ini mampu menahan derasnya rasa yang mematikan? 

pernah dalam satu kata aku memintamu untuk memutuskan, dan aku berkata semua akan baik-baik saja, bahwa aku masih bisa menghirup udara saat kau memutuskan untuk pergi…

namun kamu tetap duduk disampingku, dan aku tau, pikiranmu-lah yang melayang pergi….

hidup adalah rangkaian perjumpaan dan perpisahan, banyak kata hai dan sampai jumpa yang berpendar di udara, dan aku kini belajar dan yakinkan bahwa aku tidak akan pernah menahanmu untuk pergi

meski akan ada lubang toh akan ada perjumpaan lagi….karena aku pernah kehilangan, dalam badai yang hebat dan kehilangan itu yang memporak-porandakan gubuk kecil yang aku bangun, gubuk yang terukir dalam nafas mimpi

bukankan di dunia ini tidak ada yang benar-benar bisa kita miliki? jadi saat kau ingin pergi, pergilah, tapi katakan padaku agar aku bisa bersiap dengan lubang berikutnya yang akan kau tinggalkan

….perempuan itu siap melepaskan semua ketika waktunya tiba, dan mereguk bahagia selama kurun waktu yang masih tersisa (entah untuk berapa lama)….

PS: thanks mba Hanny for the beautiful piece of writing, ini menjadi catatan refleksiku, dan setelah menahan, akhirnya bendungan di sudut mataku pun jebol sudah….

Advertisements

4 thoughts on “siang ini………..aku membaca lagi masa lalu dan kini

      1. Dementia

        Heyy, saya pernah tak bisa mudik gara2 stasiun. Tepatnya, tiket yang dijual di stasiun ludes terjual jelang lebaran. hahahaha

      2. irine Post author

        hahahahhaa…..
        naaahh lhoooo, itu kurang kuat usahanya saingan sama para calo hahhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s