masih tentang KKN part 2

hari ini genap 2 minggu saya berada di dusun Jambu-Bangkong, dusun yang terletak di bawah kaki gunung Merapi Jogjakarta.

banyak hal yang saya pelajari dari kehidupan masyarakat disini, masyarakat yang sebenarnya sudah mapan secara ekonomi tapi masih memiliki masalah di bidang sosial.

pola masyarakat desa yang mulai modern, sikap individualis pun muncul…

ada satu hal yang menarik di desa ini, mengenai kehidupan salah satu keluarga yang bisa dibilang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat timur. tapi bukan tentang keluarga yang jauh dari konsep ideal dan norma masyrakat yang saya ingin ceritakan, tapi mengenai seorang anak bernama Levi yang hidup didalam keluarga itu.

selama 2 minggu saya memperhatikan interaksi masing-masing anak-anak di desa ini, termasuk perlakuan mereka terhadap Levi. ada penolakan yang cukup terang-terangan, seperti menolak dirinya untuk ikut lomba 17an, menolak bersalaman dengannya, bahkan menolak secara tegas untuk tidak duduk disampingnya saat sesi bimbingan belajar.

saya dan kawan-kawan KKN pun heran dengan sikap mereka terhadap Levi, bocah yang umurnya baru sektiar 4 tahun. hal yang tidak wajar menurut saya.  awalnya penolakan tersebut akibat sikap Levi yang nakal, tapi jika dibandingkan dengan anak-anak lain, Levi bahkan tidak pernah mengganggu temannya.

usut punya usut saya pun mengetahui jika Levi memiliki latar belakang yang tidak jelas,  ini akibat dari sikap ibunya yang memilih jalur diluar norma masyarakat.

saya pikir sikap masyarakat yang akhirnya ditiru oleh anak-anak mereka ini sangat tidak baik…anak-anak tetaplah anak-anak yang harusnya melihat dunia dengan penuh warna…jangan mengajari mereka untuk menilai atau men-judge orang lain dengan konsep benar dan salah….toh semuanya adalah konsep yang dibuat orang dewasa.

tapi Levi adalah anak kecil yang kuat. setiap saya melihat dia dan dunia yang dibentuknya, saya melihat sosok dewasa yang berusaha untuk merasa nyaman ditengah-tengah penolakan orang-orang.

sempat terlintas niat untuk mengadopsinya, dan niat ini sudah disetujui oleh orang tua saya yang memang mendambakan anak laki-laki. tapi kemudian seorang kawan menegur saya. dia berkata apakah dengan menjadi bagian dari keluarga saya kehidupan Levi akan lebih baik? karena Levi bukanlah boneka yang bisa kita bentuk semaunya.

“ibarat bunga liar di gunung, bukankah akan tetap indah jika dia tetap liar dan terus tumbuh di alam yang telah melahirkannya?”  kata kawan saya…..

iya, apakah dia akan tetap menjadi seorang anak kecil yang kuat seandainya bersama saya dan keluarga saya?

apakah dia mampu menerima dirinya saat menjadi bagian dari keluarga saya?

 

ahhh entahlah…..yaa saya percaya Levi akan belajar banyak untuk menjadi kuat, saya percaya bahwa dia akan ditempa oleh lingkungan yang menolaknya….bukankah dia adalah bunga yang paling indah yang tumbuh di alam…karena alam selalu menerimanya…..

dan hari ini saya melihat Levi tersenyum, senyum paling indah dan tulus yang pernah saya lihat……

 

PS: postingan saya tentang KKN ini tidak dilengkapi foto, karena koneksi internet yang hidup segan mati pun tak mau….. 😦 foto menyusul yaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s