merayakan kehilangan, menertawakan tangisan

Bila boleh sekali lagi
Ku ingin ulang kembali
Untuk akan’ menahan diri
Agar tak ada luka
Agar tak pergi*

“aku bukan menertawaimu, tapi kita tertawa bersama” ujar seorang kawan di sebuah warung kopi. lalu lagu Librani dari The Panas Dalam pun mengalun dari hape kawan saya….saya pun memakinya, bukan karena marah tapi memaki hanya sekedar untuk menghangatkan perasaan saja…saya memakinya karena dia membuat saya menangis lagi malam ini….

“kenapa sedih? apa orang lain harus tahu kamu sedih? tanyanya…

“mari kita nikmati saja patah hati itu” lanjutnya….

iya…bukankah segala sesuatu serupa perayaan? perayaan bukan hanya milik “mendapatkan” tapi “kehilangan” pun berhak atasnya….

dan disela tangis saya ada jeda untuk saya tertawa…

“saya lega, entah karena masih menangis atau karena mengetahui semuanya” kataku sambil mengambil tisu dan menyeka air yang mengalir di pipi….

kawan saya pun membacakan puisi yang ditulisnya saat dia patah hati

melupakan
 
kusimpan masa lalu di bawah lipatan kasur,
mengintipnya sebelum tidur
dan membawanya ke dalam lelap.
sebab bulan sendirian
dan rindu makin pekat, serupa gelap
yang tiba-tiba menghantui sebuah taman
di sudut hatimu.
 
mata siapa memendam duka, sebab rasa sakitmu
seperti meminta pembalasan. dan keadilan
dalam satu dan lain hal, adalah pengesahan
atas kesumat dendam.
 
masihkah ingatan mau mampir lewat karcis-karcis film,
bon restoran, dan foto-foto kusam. kekalkah kesendirian,
dalam tidur dan jagamu,
dalam lagu-lagu?
 
aku katarsis akan rasa suntukmu. aku kesedihan
pada tiap kenangan yang disapu hujan.
 
ini bukan patah hati yang pertama, memang tak semenyakitkan kisah lalu, mungkin karena tak terlalu banyak kenangan yang tercipta..tapi dari dirinya saya belajar untuk yakin pada sebuah pilihan…
“apa ragu bisa jadi alasan?” tanya saya
dan kawan saya pun tertawa dan berkata “alasan tetaplah alasan toh alasan tidak membutuhkan alasan untuk menjadi sebuah alasan” ucapnya
 
Rasa marah dan gembira
Antara datang dan kini pergi
Begitu hidup warna dirimu
Terima kasih kau pernah mau”
 
untuk yang di Utara, terimakasih pernah mengisi hari-hariku dan menggandeng tanganku untuk berdiri lagi…terimakasih kau pernah mau….
 
PS: Untuk Aufa…kau asu sekali malam ini!!!
 
*lagu Libarani dari The Panas Dalam
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s