saya tidak tau ternyata Alina tidak pernah mencintai Sukab

suatu hari saat saya sedang sibuk merapikan barang-barang selepas pameran “senja, secangkir teh dan sepinggan gorengan” selama 3 hari kemarin, sebuah pameran yang bisa dikatakan adalah bentuk pelepasan segala perasaan yang saya rasakan saat harus mengakhiri hubungan saya dengan kekasih saya; laki-laki november saya…

*tiba-tiba saya meracau*

suatu hari itu kawan saya Sita Magfira  mengirim pesan singkat yang intinya ingin bertemu dan mewawancarai saya untuk blog-nya. sedikit lama saya pun membalas pesannya dan kemudian kami sepakat akan bertemu di sebuah kedai kopi baru di daerah jakal; Philokopie

sita pun mewawancarai saya, itu dua hari yang lalu…dan hari ini saya melihat tulisannya di blog pribadinya http://kadangdalamhidup.blogspot.com/2013/02/sepotong-senja-dari-irine.html 

tulisan sita memang selalu menarik…kali ini tulisan dia menyinggung saya..sita berkata bahwa saya adalah Sukab dan mantan kekasih saya adalah Alina…

saya tidak pernah tahu bahwa Alina tidak pernah mencintai Sukab…

sama seperti Sukab, mungkin saya saja yang selalu berpura-pura bahwa Alina juga mencintai saya….

setidaknya tulisan ini sama dengan apa yang banyak orang katakan kepada saya, tentang saya, tentang saya dan lelaki saya, tentang lelaki saya dan tentang hubungan saya…

dan sama saja, saya mungkin sama seperti Sukab yang bodoh mencintai Alina….

Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. Kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. (Alina)

Alina…Alina…mengapa dia tidak pernah mencintai Sukab?

dan sekali lagi, mungkin hanya saya saja yang terus berpura-pura untuk tetap berpura-pura menganggap kekasih saya mencintai saya sama seperti Sukab mencintai Alina…

Sit..SIta…saya tidak pernah tahu bahwa Alina tidak pernah mencintai Sukab….

Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu. (Alina)

sepertinya saya harus berkemas, bersiap untuk lari lagi karena saya sudah mencuri senja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s