puisi #3 – perbincangan rindu

“pernahkah kau salah mengirimkan pesan yang dititipkan pada rinai-rinaimu?” tanyaku pada hujan sore ini

“huh? apa maksudmu?” tanya salah satu rintik dengan sedikit marah

“tidak, saya tidak bermaksud apa-apa, cuma mengapa tidak ada pesan yang sampai pada saya sampai sekarang, saya pikir kamu mungkin tersesat, saya tidak pernah mengganti alamat”

“kau berharap pesanmu datang tepat waktu, tapi kau tak pernah tau apakah dia menuliskan pesan untukmu tepat waktu?” hardik rintik yang lain

seorang penyair pernah berkata: 

“ ….. Aku ingin kursimu yang tenang itu. Kalau kau mau, tukarlah dengan kursimu yang sekarang sedang kududuki. Jangan biarkan aku membenci diriku terus-menerus. Jangan biarkan. Aku hanya ingin sedikit sembuh, dari dunia yang sakit ini. Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya. Sesungguhnya, aku hanya ingin kebahagiaan yang sederhana. Sesederhana membangunkan seseorang dari tidurnya di pagi hari, dan kemudian bercinta. ….”Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’’ by Puthut EA
 

saya duduk menatap tiap rintik yang jatuh ke tanah, suaranya bising; memecahkan gendang-gendang telinga. saya melihat genangan yang penuh dengan air…

“orang tidak akan tahu bahwa itu jalan yang berlubang, air menutupinya” ucap saya pelan. dan rintik masih saja jatuh, suaranya masih saja bising.

“mungkin bukan tidak tepat waktu, mungkin saja dia tersesat mencari jalannya, saya tidak pernah mengganti alamat. mungkin bukan tidak tepat waktu, hanya lelah diperjalanan dan beristirahat sebentar…mungkin bukan tidak tepat waktu, mungkin….” kata saya pada rintik yang masih saja sibuk berisik

lalu satu rintik menghampiri saya

“sudah selesai? apa ada yang mau kau titipkan? kami sudah selesai disini..” tanyanya

“yaa…tolong tanya pada senja, apa ada salam yang dititipkan dari timur untuk saya?” ucap saya…

dan rintik pun pergi, berarak-arak seperti serdadu perang….

“tolooong, katakan pada yang di Timur, saya rindu!!” teriak saya. dan rintik berlalu

senja kapan datang? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s