perempuan yang masih (saja) merajut masa lalu

untuk lelaki yang ingin menjadi peternak kucing dan hobi menanam wortel

saya menulis ini saat langit tak memerah, entah kemana senja kali ini mungkinkah mendung ini adalah isyarat darimu, isyarat bahwa kamu terluka? saya menulis barisan kata ini sambil bertanya “apa kabarmu?” pertanyaan naif yang tidak perlu kau jawab.

saya hanyalah perempuan yang masih bertahan menanti masa lalu, merajut setiap jengkal kenangan yang coba saya selesaikan, hingga akhirnya kamu datang dan menemani saya, berbincang, menemani saya.

untuk lelaki yang ingin menjadi peternak kucing dan hobi menanam wortel

saya menulis ini untuk meminta maaf padamu atas kekacauan yang saya timbulkan, atas badai yang kini memporak-porandakan hatimu, yang membuatmu hancur seperti….seperti debu….

demi Tuhan (aiih entah sudah berapa kali saya menyebut nama agung itu) saya tidak bermaksud menggodamu dengan senyum ini, dengan wujud perempuan ini. apa Tuhan harus disalahkan atas kuasanya menciptakan manusia dengan wujud yang disebut perempuan ini? jika iya, terlambat sudah, dan kita tahu sejarah pun menorehkan bahwa perempuan ditakdirkan sebagai makhluk “penghancur” dengan pesonanya.

Hawa adalah perwujudan dari nafsu Adam, Helen penyebab kehancuran Troya, Cleopatra membuat Mark Anthony bertekuk lutut..aahh perempuan….

jika pun sanggup, saya akan menuntut Tuhan agar tak menjejali saya, perempuan, dengan pesona itu, pesona yang kini membuatmu kini tenggelam dalam kekacauan. percayalah saya akan menuntut Tuhan.

saya benar-benar tidak mengira bahwa kamu menjelma menjadi satelit dan mengikuti gerakan-gerakan saya, saya tidak mengira bahwa kamu….kamu menaruh hati pada perempuan yang masih saja merajut masa lalu.

bagaimana bisa kamu mecintai perempuan yang bahkan tak sedikit pun menatapmu saat berbicara, yang bahkan tak menggerakkan kakinya dari genangan kisah lalu, yang bahkan saat tertawa adalah sisa dari tawa masa lalu.

bagaimana bisa?

untuk lelaki yang bercita-cita menjadi peternak kucing dan hobi menanam wortel, 

kamu menarik, iya menarik dengan kecerdasanmu, saya aahh bukan saya saja yang mengakuinya tapi juga mereka, kawanmu, kawan kita. saya menerka akan seperti apa perempuan yang bersanding disampingmu, seperti apakah perempuan yang beruntung itu? dan perempuan itu akan menjadi perempuan beruntung itu karena kamu hebat, pintar dalam banyak hal. ya kamu hebat.

tapi mengapa saya, perempuan yang kau pilih untuk menjadi perempuan beruntung itu? sedang kau tahu pasti saya hanya punya satu kenangan yang masih ingin saya rajut, kenangan bersama lelaki november, kenangan yang namanya tiap saat saya sebut layaknya dzikir.

mengapa saya? sedang kau tahu dengan pasti saya menjalani hari-hari saya, mengitari orbit saya mencoba mendekati lelaki dari masa lalu saya.

“hanya perempuan bodoh yang menolak laki-laki sepertimu..dan itu saya”

itu yang saya tuliskan kemarin, dan kau bertanya “mengapa kamu memilih untuk menjadi perempuan bodoh?”

“saya memilih menjadi perempuan bodoh yang menanti pujaan hati saya kembali, menantinya dalam kesendirian, menanti bayang lelaki saya berwujud kembali, menantinya meski harus terluka”

ya saya bodoh, dan memilih untuk menjadi bodoh demi menyelesaikan rajutan kisah lalu saya. percayalah saya yang bodoh bukan kamu.

dia, laki-laki itu tidak seperti kamu yang hebat dalam banyak hal, mungkin dia tidak bisa bermain musik selihai kamu, dan bisa jadi selera musiknya tidak sebagus selera musik kamu yang benar-benar membuat saya kagum. mungkin (dan saya yakin ini) dia tidak sepintar kamu, dia tidak mengerti siapa itu Roland Barthez atau Ferdinand De Saussure,dia pasti bingung jika kita berbicara soal semiotika dan fenomenologi.  saya juga yakin dia tidak paham apa yang dibicarakan oleh Derrida atau Foucault, dan dia tidak akan mengenali siapa itu Hannah Arendt, filusf perempuan yang saya idolakan.

dia tidak akan mengerti, tidak pernah bisa mengerti apa-apa yang kita bicarakan…

karena dia bukan kamu…

meski kita berbincang dalam ranah yang sama, meski kita dipupuk oleh idealisme yang sama, saya memiliihnya, yang beda…karena dia saya temukan luka dalam matanya, torehan ketakutan dipundaknya, kerapuhan yang coba dia jabarkan dalam diamnya…dia sesederhana nasi hangat dengan sambal yang bagi saya cukup mengenyangkan.

sedang kamu? begitu istimewa, melebihi jangkauan pikiran saya, mungkin jika saya bersandingan denganmu larutlah saya dalam pijarmu..karena kamu begitu  indah, keindahan yang bahkan tidak pernah saya harapkan meski dalam mimpi

untuk laki-laki yang bercita-cita menjadi peternak kucing dan hobi menanam wortel, 

saya menulis ini sekali lagi untuk meminta maaf, maaf atas ketidakpekaan saya. saya hanyalah perempuan yang masih saja merajut masa lalu…
”belum selesai, belum sampai dititik akhir” kata saya.
saya hanya perempuan yang masih saja merajut masa lalu, sambil menanti senja yang entah kapan akan datang.

semoga, semoga jika kelak kau membaca ini kau bisa menyadari betapa hebatnya kamu dan tolong berhentilah menyalahkan dirimu. karena sayalah orang yang membuat semua ini menjadi kacau.

semoga kamu mau memaafkan saya…

salam,

dari perempuan yang masih akan terus merajut kenangan masa lalu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s