perempuan yang belajar berjalan dan ingin berlari

I once had a girl, or should I say, she once had me… OST Norwegian Wood

perempuan yang sedang merajut itu berhenti sejenak, dilihatnya kearah pintu berharap mendengar suara ketukan di daun pintu memecah sendirinya, berharap yang mengetuknya adalah laki-laki november yang masih saja dinantinya.

perempuan yang sedang merajut itu masih saja menanti, menanti kedatangan laki-laki novembernya.

“tak apalah sekedar bayang, yang penting saya tahu dia baik-baik saja” ujarnya pada angin yang selama ini menjadi kawannya.

rajutannya adalah detik-detik kerinduan yang dia kumpulkan menjadi sebuah jalinan puisi, mulutnya pun tak berhenti berdzikir menyebut nama lelaki yang dinanti. saat senja datang dia pun membuat dua cangkir teh dan duduk diberanda pondoknya, menanti lelaki november datang… dua cangkir teh dingin yang tak pernah dia sentuh, dua cangkir teh dan senja yang larut dalam pekat.

saat gelap dia pun meneruskan rajutannya, duduk berhadap-hadapan dengan pintu karena dia percaya kelak lelakinya datang dan yang pertama dilihatnya adalah senyum perempuan itu yang dia ukir. hatinya bernyanyi, melagukan penantian, serupa dermaga yang menanti tiap-tiap perahu datang dan membawa pesan dari lelaki yang dinantinya.

“berhentilah menanti, dia takkan kembali” kata angin sambil bergelayut di daun-daun jendela

dan perempuan itu masih saja merajut kisah-kisah lalu yang masih saja dia hidupi, perempuan itu hidup dalam kenangan…

what happens when people open their hearts? they will get better _Norwegian Wood-Haruki Murakami_

pintu pondoknya diketuk, ada yang datang…dipersilahkanlah tamu itu masuk dan mereka  pun berbincang, tamu itu, laki-laki itu memintanya berdiri dan berjalan disisinya. namun perempuan itu masih saja merajut, menegaskan dia masih ingin menanti lelaki novembernya datang….

“saya hanya rindu dia, entah dengan alasan apapun…” ujar perempuan itu…

“saya perempuan bodoh yang menanti bayangan” ucap perempuan itu lagi

dan mereka; perempuan dan tamu itu pun diam, sesekali perempuan menatap nanar kearah pintu berharap ada suara langkah dari lelaki yang dinantinya.

saat tamu itu diam, perempuan itu jengah, detak waktu memekakkan telinganya ditatapnya tamu itu, hatinya…tak ada detak tak berdetak. matanya terpejam dan yang didapatinya hanya bayang laki-laki november yang mulai samar. saat perempuan itu membuka mata

“saya ingin menjadi perempuan yang beruntung untuk berdiri disampingmu” ucap perempuan kepada tamu yang duduk dihadapannya.

ada goresan luka yang makin dalam, lubang yang menganga semakin lebar…kehampaan mengisinya. dia sadar tangannya berhenti merajut, mengulurkan tangannya yang bergetar pada tamu yang ada dihadapannya….

apakah ini saatnya dia berhenti merajut? perempuan itu menatap angin yang masih saja bergelut dengan daun-daun jendela, dilihatnya purnama yang menggantung dilangit.

“gantungkan saja rindumu pada purnama, karena saya pasti melihatnya” ucap laki-laki november dulu sebelum dia pergi.

….karena kita pasti selalu melihat ke purnama yang sama…. suara lelaki november terngiang ditelinga perempuan itu

perempuan itu berhenti merajut kini, dia belajar berjalan bersama tamu yang kini menggandeng tangannya, perempuan itu ingin berlari

no longer empty spaces in my hands, but the emptiness still…….i just want to learn how to walk and will run away soon…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s