kisah si Tumpi part 2

kucing kecil saya namanya Tumpi, saya pernah menulis tentang Tumpi sebelumnya (bisa dibaca disini) saat ini Tumpi sudah bukan kucing kecil lagi, dia sangat lincah dan hobinya tidak lagi bergulat dengan sapu lidi, melainkan bermain petak umpet dan dengan bahagianya melihat saya panik mencarinya.

seminggu lalu Tumpi kedatangan seorang kucing kecil milik kawan saya; Sita Magfira, namanya Midah (terinspirasi dari tokoh perempuan disalah satu novel Pram). Midah kucing kecil yang diadopsi oleh Sita dari kawan saya juga yang bernama Matias namun akrab disapa Mamet. Tiga saudara Midah yang lain sudah damai bersama kematian karena mereka terkena semacam virus yang bernama “Palenkopenia”.

Selama seminggu Midah dan Tumpi berbagi ruang di rumah kontrakan saya, mengacaukan kamar saya dan berebut mencari perhatian saya. Midah menginvasi tempat makan dan pasir milik Tumpi, dan Tumpi sering menjahili Midah dengan cakar dan tendangannya. Tumpi dan Midah sering berbagi taman belakang, layaknya anak kecil mereka sering bermain petak umpet dan Tumpi sering bermain curang dengan menjahili Midah.

Sering Tumpi cemburu pada sikap Midah yang manja, dan jika Midah sedang bermanja-manja di pangkuan saya, maka Tumpi akan melancarkan serangannya tidak hanya pada Midah saja, namun cakar dan gigitannya pun mendarat ditangan saya.

Hari ini Midah kembali ke pangkuan pet shop eh ke pangkuan pemiliknya Sita Magfira. Tumpi tak sempat mengucapkan salam perpisahan (entah apa kucing bisa melakukannya) karena seharian ini Tumpi dan Midah saya tempatkan di ruang yang terpisah. setelahnya saya lihat sikap Tumpi menjadi murung, dia selalu berlari ke arah pintu ruang tamu, berlarian di taman belakang seolah mencari sesuatu, juga mengitari kamar saya. kadang dia juga duduk diam menatap tempat makan Midah yang berwarna merah dan kini kosong, mengendus pasir Midah dan kemudian berlari lagi kehalaman. sepertinya Tumpi merasa kehilangan atas kepergian Midah. seminggu lamanya mereka berbagi ruang bersama, dan kini Tumpi kembali sendiri. saya merasa meski Tumpi dilimpahi kasih sayang tapi dia pasti merindukan Midah, kawan kecilnya.

*ditulis sambil mengamati tingkah laku Tumpi yang sedang tidur didekat pintu kamar

Advertisements

2 thoughts on “kisah si Tumpi part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s