ini tulisan yang mungkin tak akan pernah kamu baca..

saya menulis tulisan untuk kamu yang mungkin tidak akan pernah kamu baca…

ingatan…ya tulisan ini sekedar ingatan saya tentang kamu dan ya Tuhan betapa saya rindu untuk menyapamu…menyapamu dari hari-hari saya yang biasa saja.

mari berandai-andai; andaikan saya bisa menyapamu, bertanya “hai apa kabar?” apa kau akan membalas pesanku itu? apakah kita pun bisa kembali berbincang tentang hari yang sudah kita lalui?

saya akan bercerita tentang kuliah, tentang marah atas perasaan gagal, tentang kawan, tentang pekerjaan, tentang buku yang saya baca saat ini, tentang lelaki yang ingin menempati ruang untukmu; tenang saja kamu tak terganti…

dan saya berharap mendengar cerita tentang kamu, apa yang kau temui di penjelajahanmu, tentang harimu, matahari yang sudah membakarmu…

tentang sakit…ya kita akan berbicara tentang sakit

sakit yang saya rasakan saat menyepakati keputusan untuk menghentikan hubungan kita, sakit yang sudah cukup mampu mengeringkan air mata, sakit yang bahkan membuat saya menganggapnya karib…

tentang sakit, tentang sakitmu…

saya jadi ingat saat pertama kali kita bercumbu, apa yang saya cumbu adalah luka, bibirmu seolah tergores kata yang tak mampu kau ucapkan, kata yang kau simpan di sudut bibir yang saya cumbu malam itu..yang saya cumbu adalah luka

dan saat saya rebah di dadamu, detak jantungmu melagukan irama sendu yang pernah saya dengar, irama yang melagukan semua cerita tentang lukamu, dan matamu pun menceritakan banyak hal tentang kosongnya perasaanmu….

saat itu saya sadar kita begitu jauh……

apa kabar?

pertanyaan yang sebenarnya saya sudah tahu jawabnya; kamu baik-baik saja…aiihh alam begitu baik pada kita, padamu…alam melindungimu, dan alam masih saja memberi saya kesempatan untuk melihatmu dari jauh….

melihatmu dari jauh,

hanya itu yang mampu saya lakukan, jangan pikir kalau saya berharap untuk melihatmu lebih  dekat..tidak, harapan itu tidak ada, lebih tepatnya sudah tidak ada…bersamamu saya belajar untuk tidak berharap, tiap harap tumbuh saya langsung memangkasnya..

saya bohong, bohong jika saya tidak pernah berharap padamu, bukankah rindu itu serupa harap juga, maka tiap saya merindukanmu maka saya memelihara harap untuk jumpa

sudah hampir pukul tiga pagi, saya masih saja berkutat dengan rangkaian kata-kata yang ingin saya tulis untukmu, meski saya tahu kau takkan pernah membacanya….

mari berbicara tentang…..

benda kotak yang menyiarkan tayangan yang itu-itu saja, tentang klakson yang bunyinya masih saja bikin pekak telinga, tentang riuhnya orang yang berteori, tentang politisi busuk, tentang….tentang apa saja selama kita bisa berbincang, berbincang sampai besok, besoknya lagi, besoknya besok….

sudah pukul tiga pagi, tulisan ini belum juga selesai, masih banyak yang ingin saya tuliskan, masih banyak tulisan ‘pengandaian’ yang ingin saya tuliskan, andainya kita bisa bertemu, andainya saya bisa menyelamimu lagi, mencumbuimu lagi…ah mari kita berandai-andai saja…

sekedar berandai-andai karena saya tau tulisan ini tidak akan pernah kamu baca…

tapi merindukanmu itu bukanlah sebuah pengandaian….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s