laki-lakiku tak menyukai hujan

*How can I release my pain All my world will lost in vain
If the rain will not to fall
In the sky of July

530773_10200192224277661_1842283297_n

hujan datang tergesa-gesa, disela-sela panas yang membakar, masuk ke celah awan….hujan datang tergesa-gesa karena ini sudah bulan juli, sudah bulan juli yang seharusnya basah..berkata hujan pada matahari

“ini waktuku, maaf sudah menunggu lama….” dan matahari bergeser ke belahan bumi lain, menepati janji yang kali ini tak bisa ditepati tepat waktu.

“maaf terlambat” ucap hujan pada bumi….

bumi hanya diam, meranggas…..dan hujan pun turun mengisi celah-celah kering bumi yang mulai retak

di sudut bumi lain;

“laki-lakiku tak pernah menyukai hujan, karena sendunya, karena rintik hujan serupa kenangan yang selalu mengiris memorinya, karena hujan dia melepaskan perempuannya” gumam seorang perempuan yang duduk disamping jendela, menikmati hujan dan secangkir teh yang sudah dingin dan tak pernah disentuhnya….

“laki-lakiku membenci hujan, yang disukainya hanyalah suara gemericik air dari kran yang bocor, talang-talang pipa yang beradu dengan aliran air, bukan suara rintik hujan” ucap perempuan itu sambil menatap nanar genangan air di tanah kering…

hujan sudah datang, perempuan itu pun berdiri berjalan menuju teras depan rumahnya, lama dia terdiam….air hujan pun perlahan masuk mengaliri teras rumahnya, membasahi kaki telanjangnya, dia menunduk ada pilu menghantam didadanya…

“laki-lakiku tak menyukai hujan karena dia terlalu mencintai perempuannya, perempuannya yang menyukai hujan dan menjelma menjadi hujan. laki-lakiku tak menyukai hujan karena suara hujan serupa dengan suara perempuannya..” gumam perempuan itu

perempuan itu pun lalu mengulurkan tangannya ke arah rintik hujan, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam  rintik hujan. lalu dipetiknya rinai-rinai hujan dengan jari-jari tangannya, dia kemudian kembali ke teras rumahnya, badannya kuyup tapi tak dihiraukannya..

rinai-rinai hujan yang sudah dipetiknya kemudian dirajut, tangannya saling beradu dengan jarum-jarum waktu, meski tak jarang membuat jarinya berdarah dan mengaduh. dia harus menyelesaikan rajutannya sebelum hujan pergi ketempat lain. disampingnya ada setoples senja yang sudah diambil kemarin sore, saat langit lengah dan merah belum pudar.

rajutannya pun selesai, rinai hujan tak lagi berwarna kelabu, ada pendar merah disekelilingnya. perempuan itu pun kembali ketengah-tengah hujan dan menggantungkan rajutannya pada hujan.

“mampirlah sebentar dikotanya, sampaikan rajutan buatanku pada lelakiku, disana dingin…” ucap perempuan itu

“hanya ini?” tanya hujan

“ya, dia akan tahu bahwa aku yang membuatnya..” jawab perempuan itu.

hujan pun bersiap untuk pergi,

“mungkin akan butuh waktu lama untuk aku mampir di kotanya” ucap hujan

“tidak masalah” ujar perempuan itu

“kamu mau menunggu?” tanya hujan lagi

perempuan itu mengangguk

hujan pun pergi…..

perempuan itu tersentak, menyadari bahwa ada yang tertinggal, dia pun berlari mengejar hujan sayang hujan terlalu cepat menguap….

tolong katakan padanya, bahwa rajutan ini adalah rinduku yang aku pintal saat sore datang, tolong katakan padanya ada jalan pulang lewat rajutan itu, bahwa dia akan selalu menemukan rumah yang menanti kepulangannya.

perempuan itu pun kembali masuk kedalam rumah kecilnya, menanti hujan entah di bulan apa lagi yang akan datang membawa pesan dari lelakinya.

“meski aku tidak pernah menjadi perempuannya” bisik perempuan itu

*Lyric : Rain of July – The Monophones

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s