dokter hanya dokter bukan Tuhan

ketika dokter memvonis tentang betapa parahnya penyakit saya dalam hati saya hanya berkata ‘aahh perasaan dokter saja” karena memang saya tidak merasa rasa sakit yang menyerang bahu saya ini ternyata parah, sehingga butuh penanganan khusus.

sakit di bahu saya ini bukan yang pertama, sudah lama tapi kali ini rasa sakitnya luar biasa sodara-sodara, sampai-sampai kadang saya merasa tidak bisa melakukan apa-apa dengan tangan kanan saya…ya rasa sakitnya menjalar sampai di tangan kanan saya sehingga saya tidak bisa menggunakan tangan (dan bahkan) anggota badan sebelah kanan..dan kalau sakitnya mulai menyerang leher saya dan kepala juga ikut-ikutan berkonspirasi melengkapi penderitaan saya.

tapi ini sekedar rasa sakit biasa kok, sampai akhirnya dokter mengatakan bahwa satu-satunya jalan adalah operasi, tapi operasi pun tidak serta-merta menghilangkan rasa sakit, “hanya meringankan saja” kata dokter. haaassshh percuma dong yaa!

kemungkinan berhasilnya atau tidaknya operasi pun sama aja dampaknya; sama-sama akan mengalami kelumpuhan karena rasa sakit ini juga diakibatkan saraf dari leher saya yang terjepit, dan butuh beberapa kali operasi….”yakali dok badan kok dioperasi melulu, mending hati saya aja yang dioperasi; udah remuk redam ini hati” batin saya.

dokter hanya dokter bukan Tuhan; dan saya amat sangat tahu batas kemampuan diri saya menahan sakit. jadi saya membuat perjanjian dengan diri saya sendiri bahwa saya mau dioperasi jika:

1. saya sudah lulus S1, diwisuda, dapat gelar S.s (Sarjana Sastra)

2. pergi ke india; kuliah S2 —> harus ini wajib hukumnya!

3. mengenakan sabuk hitam paling gak dapat gelar Dan 3 – lah di taekwondo :p

4. ikut kejuaraan taekwondo internasional sampai akhirnya bisa dapat medali —> amiiinn

5. punya galeri seni sendiri di Manado….

itu 5 poin yang harus saya dapatkan sebelum dioperasi, bukan apa-apa sih cuma saya masih ingin menikmati anugrah Tuhan dengan semua susunan tubuh yang diberikan kepada saya. kalo saya dioperasi sekarang, besok atau nanti sebelum semua yang saya inginkan tercapai dan operasinya gagal gimana coba? mending nanti-nanti aja sekalian nabung ongkosnya dan yang lebih penting nabung ‘mental’ meski dokter hanyalah dokter dan bukan Tuhan, tapi keberlangsungan hidup saya di meja operasi itu cuy!

saat-saat seperti ini harus berteman karib dengan pain killer dan rajin-rajin ke terapis biar tangan kanan saya tetap berfungsi apa adanya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s