kehilangan…

And I wonder if you know
How it feels to let you go?

mengutip kalimat dari salah satu buku yang saya sukai “ketika kita membawanya segala sesuatu akan menjadi berat, tapi ketika melepasnya semua akan menjadi ringan” (Ajhan Chan). kenyataannya melepaskan tidak pernah segampang itu, tidak segampang mengikhlaskan dompet yang hilang, IPK yang jelek, atau segampang mengucapkan ‘sampai ketemu’. bagaimana ada orang yang bisa dengan kuat menerima konsep kedatangan dan kepergian dalam hidup mereka? saya ingat dengan jelas ketika nenek saya meninggal, ibu saya tak berhenti menangis; di minggu-minggu awal bahkan sampai beberapa hari kemarin ketika dia melihat foto nenek saya masih ada titik-titika air di matanya; tapi kemudian ibu saya kembali menjalani hidupnya. saya ingin bertanya apakah dia merasa kehilangan?

setiap orang pasti mengalami masa-masa ‘hai’ dan ‘selamat tinggal’; ditinggalkan dan meninggalkan adalah siklus yang pasti, entah dengan cara apa akan kita lewati. seseorang pernah berkata: hidup itu cuma satu, datang dan pergi sudah itu saja, cuma bagaimana kita memaknainya.

kehilangan itu, hal yang tak pernah bisa temui lagi. seandainya kita tahu bahwa kelak kita tak pernah bisa saling jumpa apakah kehilangan itu akan hadir? apakah kehilangan itu akan memilki makna?

So change your mind
And say you’re mine.
Don’t leave tonight
Stay.

apakah kehilangan itu hanya milik bagi mereka yang ditinggalkan? apa yang dirasakan oleh mereka yang meninggalkan?

aah saya terlalu drama ini, hey bukankah hidup itu drama?

saya bukan orang yang dengan gampang menerima konsep datang dan pergi, saya orang yang sangat gampang merasa kehilangan, karena saya ceroboh, ya ceroboh sekali, saya akan selalu terkenang apapun dan siapapun yang pernah hadir dan berkata ‘hai’ dalam hidup saya….

jika saja saya tahu akan kehilanganmu malam itu, saya tidak akan memintamu mengobrol, tidak akan menceritakan semua yang saya rasakan bersamamu; saya akan menyimpannya sendiri. seandainya saya tahu….

bodoh! itulah kebodohan saya, ketika malam itu kamu mengatakan “selesai” saya pun dengan mudahnya berkata “oke”, tanpa mencoba bertanya. bodoh karena saya berpegang pada prinsip ‘tidak butuh alasan untuk melakukan sesuatu’ ya bodoh!

But I could never find the words to say
Stay, stay.

saya tidak pernah mencoba menahanmu, menahanmu berjalan menjauh. saya bahkan tidak menangis saat kita berpisah kemarin. karena kamu memintaku untuk tidak menangis.

selepas kepergianmu, saya menertawakan sakit ini, jangan khawatir saya baik-baik saja; seperti yang kamu pikirkan selalu bahwa saya akan baik-baik saja. saya pun merayakan kehilanganmu, selalu di tiap detiknya saya merayakannya, karena tak adil jika kehilangan harus ditangisi.

satu-satunya hal yang tidak pernah bisa saya lakukan adalah, melepaskanmu…..itu saja!

Lyrics: Hurts-Stay

ketika saya kembali mengingatmu seperti hari-hari kemarin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s