menunggu senja di pagi yang muram

Dan kau gelisah menunggui fajar dan mati di setiap sore menuju senja. Tapi kau memilih mengakhirinya di awal hari. Pagi yang muram (Is)

sudahkah kau minum teh hari ini? oh ya saya lupa bertanya apa kabarmu? di kota ini cuaca sedang tidak menentu, panas tapi lebih sering dingin yang datang bertamu. bagaimana kotamu? masih bisingkah selepas liburan kemarin? bagaimana hari-harimu? pekerjaanmu?

deretan-deratan kalimat standard yang sebenarnya tidak lebih penting dibandingkan keinginan saya yang ingin sekali berbincang denganmu; seperti hari-hari yang pernah kita lalui, saat senja terperangkap malam.

dan pagi yang muram akan datang, seperti alur statis yang sudah diatur; seperti kita yang hidup dan mati, yang tinggal berputar-putar dalam ruang takdir.

sudahkah kau minum secangkir teh hari ini di pagi yang muram?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s