kenanganmu tertinggal saat kau bergegas pergi

“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.”

(Haruki Murakami_Kafka on the Shore)

kau mampir lagi, di setiap detik-detik yang jatuh di jalan sendiriku. sebenarnya kau tidak pernah pergi tapi anggap saja kau pergi…yaa kau pergi tapi kenanganmu ketinggalan.

entah apa yang kau pikirkan saat kau dengan tergesa-gesa pergi sampai kau tidak pernah sadar kenanganmu tertinggal. kenanganmu meringkuk didepan jendela kamarku, diantara rak-rak buku seolah menanti kapan kau datang. kadang kenanganmu menyelinap dibalik selimutku dan rebah diatas bantalku; mungkin dia kedinginan…

saya pernah mengajak kenanganmu mampir di stasiun kereta, duduk diruang tunggu melihat mereka yang datang, yang pergi (meski aku tidak tahu manakah yang benar-benar datang dan pergi), para penjual sibuk diluar peron, tak diijinkan mereka masuk ahh stasiun ini tak ramah, wajahnya suram dan cemberut. kenanganmu kaget saat mendengar saya memaki; rupanya pertama kali dia mendengar rentetan makian keluar dari mulutku.

saya menatap kenangan, gelisah sekali dia, pandangannya liar menatapi satu persatu orang dan kadang pandangannya mampir dimataku. mungkin dia bertanya untuk apa kita kesini? atau bisa jadi dia tidak menyukai tempat yang penuh dengan kata “sampai jumpa”.

bodoh! umpat saya dalam hati, memaki kebodohan saya mengajak kenangan ditempat terakhir kau meninggalkannya dan sekali lagi kenanganmu menatapku dalam seolah-olah bisa membaca kata umpatan yang saya ucapkan diam-diam. saya tertawa dan kemudian mencoba membuatnya tidak gelisah dengan bercerita tentang kamu, tentang kita…

ini kebodohan kesekian yang saya lakukan, bisa-bisanya saya menceritakan hal-hal yang sudah sangat diketahui oleh kenangan. jadi untuk apa coba saya menceritakan kenangan tentang kita?

kereta terakhir telah lewat, kereta terakhir yang menuju kotamu. aku melihat kenanganmu berdiri di garis batas peron. “tinggalkan saja dia, tinggalkan saja, kau pulanglah..” suara-suara itu menyerangku seperti suara kereta yang bising. saking bisingnya saya pun berlari keluar menuju parkiran meninggalkan kenanganmu sendirian, biar saja biar habis dimakan dingin.

biar saja biar habis dimakan dingin

sayalah yang habis dimakan dingin, saya melihat kenanganmu masih saja berdiri ditempatnya, tak beranjak.. saya menghampirinya, mengajaknya kembali pulang, pulang keruangan yang sama, yang masih saja menanti kedatanganmu; kembali

kenanganmu diam, berjalan mengikuti langkahku pulang, kami; aku dan kenanganmu pulang

saya dan kenangamu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s