Ruang-ruang pada ruang karya Leo

ditulis untuk dipublikasikan dalam web Biennale Jogja XII

seniman itu selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya

leo-ft syair kedua 1
Leonardiansyah Allenda

Di suatu siang 23 Agustus 2013 lalu seniman asal Bandung yang akan memarken karyanya di Biennale Jogja XII; Leonardiansyah Allenda yang akrab disapa Leo membagi cerita tentang dirinya dan proses berkesenian yang sudah lama digelutinya. Lulusan seni rupa ITB ini mengatakan bahwa ketertarikan dia untuk mengeksplorasi ruang dalam setiap karyanya tidak terlepas dari lingkungan keluarga, dimana hampir semua keluarganya bergelut dalam bidang konstruksi dan menjadi arsitek sebenarnya adalah cita-cita masa kecil Leo.

Namun selepas SMA, Leo memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Insititut Teknologi Bandung fakultas Seni Rupa program studi patung. Disinilah Leo memulai karir keseniannya, baginya di masa-masa perkuliahannya banyak belajar sesuatu tentang ruang; bagaimana dia membuat anatomi tubuh manusia hingga ke detail terkecil sehingga mirip dengan yang asli. Baginya, tubuh juga adalah sebuah ruang yang berinteraksi dengan sekitarnya, seperti alam atau bangunan, bagaimana tubuh merespon gejala-gejala yang muncul akibat dari interaksi tersebut.

Leo kemudian mengibaratkan bahwa ada sesuatu yang tak terdefinisikan dalam sebuah ruang; adanya ruang negatif dan ruang positif. “ruang negatif itu adalah ruang kosong yang berada ditengah-tengah tembok atau benda yang mengelilinginya yang merupakan ruang positif” ujar Leo. Dia juga beranggapan bahwa sekarang ini masyarakat cenderung terjebak pada ruang-ruang yang dianggap indah namun sebenarnya itu palsu, sebagai contoh Leo kemudian menunjukkan foto salah satu karyanya yang berjudul “Syair Kedua”, dalam karya tersebut Leo membuat sebuah jendela dengan latar belakang matahari yang tenggelam. Dalam karya tersebut Leo mencoba mengkritisi tentang sebuah keindahan yang ramai diperebutkan dan diprivatisasi oleh masyarakat urban yang kemudian keindahaan itu lama-lama menjadi tidak ada artinya. “sesuatu yang diprivatisasi, yang terus menerus kita nikmati lama-kelamaan akan kehilangan maknanya”. Ujar Leo.

Obrolan siang ini dengan Leo banyak menggali hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi manusia dan bagaimana manusia itu berproses dalam setiap karyanya, banyak hal yang selalu dipertanyakan, hal-hal yang selalu membutuhkan jawaban. Sama halnya dengan seniman, “seniman itu selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya”. Ungkap Leo diakhir perbincangan.

selepas obrolan itu, saya kemudian mempertanyakan eksistensi saya sebagai manusia………

Foto oleh: Benny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s