di kotamu….di hari itu….

dan apakah saya sanggup berhadap-hadapan denganmu?

selepas pertandingan taekwondo sabtu sore itu, saya pun bersiap-siap menuju stasiun kereta. namun mungkin karena saya yang terlalu sering menggampangkan segala hal, saya pun masih menghabiskan waktu dengan kawan-kawan atlet dari negara lain. dan ya bisa ditebak saya pun ketinggalan kereta.

kereta itu telah lewat sepuluh menit lalu, suara nyaringnya tertinggal di jejak-jejak rel; tergores roda besi tua….kereta menuju kotamu telah lewat sepuluh menit yang lalu. saya pun berlari menuju ke stasiun berikutnya, berharap masih bisa mengejar kereta yang seharusnya membawa saya kekotamu, sayang itu sia-sia. kereta itu tetap melaju angkuh meninggalkan saya dengan segala penyesalan.

saya lalu menghubungi seorang kawan yang kemudian menyarankan saya untuk pergi ke terminal mencari bis dengan jurusan ke kotamu. jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih, agak ragu apakah ada bis malam ini menuju ke bandung? tanya saya pada diri sendiri. saya tetap meyakinkan diri bahwa harus malam ini saya berangkat ke bandung, selain demi sebuah janji untuk kawan (kita) di hari bahagianya, juga untuk berjumpa denganmu setelah hampir dua tahun, ya dua tahun sejak pertemuan kita dan juga sejak perpisahan kita…

apa kau tau keping-keping waktu saya kumpulkan , menghitung setiap detiknya demi melihat kesempatan kapankah bisa bertemu denganmu….

bis malam itu dan saya yang terus bergelut dengan segala tanya, “bagaimana jika saya tak bisa bertemu denganmu?” “apa yang harus saya ucapkan jika nanti bertemu denganmu?” “bagaimana…..apakah…?” aahh segala kata tanya dan bodohnya saya mencoba mereka-reka tentang pertemuan kita, mencoba menggambarkannya dalam imaji.

10 jam lebih berada di bis menuju kotamu membuat saya takjub dan memuji diri sendiri, jujur saya tidak pernah tahan dengan perjalanan darat yang lebih dari 3 jam, tapi kali ini sedikit pun tak ada rasa kantuk, saya hanya tidak sabar untuk bertemu denganmu.

pukul 07.40 saya pun tiba di terminal cicaheum, saya yang bukan orang sunda merasa tergelitik saat mengucapkannya. lidah sulawesi saya membuat saya merasa konyol saat mengucapkan sebuah kata dengan bahasa daerah yang jelas-jelas memiliki ‘keseksian’ sendiri…bahasa itu seksi jendral!

saya lalu menunggu kawan saya datang menjemput. saya memintanya untuk tidak memberitahukanmu tentang kedatangan saya; saya hanya tidak ingin memberitahumu, mungkin saya yang terlalu takut jika nantinya dari kita saling menghindar. aahh bodoh saya hanya terlalu ragu tentang apa yang ada dipikiranmu jika kamu tau tentang kedatanganku.

waktu berjalan lambat, lambat sekali..saya hanya tidak sabar untuk berjumpa denganmu….tapi saya menunggu tiap-tiap detik pergeseran waktu dan saya menikmatinya, seperti hari-hari biasa saat saya berkawan dengan waktu menanti hari ini…

dirimu berdiri didepanku, berjarak hanya sekian langkah… Ya Tuhan dia berdiri didepanku dan tidak ada yang berubah….

saat kita saling sapa, berjabat tangan dan saat kau mencium tangan dan pipiku saya….

suaramu masih sama, tanganmu dingin, dan kecupanmu hangat..kau masih sama, masih mampu membuat saya kehilangan kemampuan verbal saya.

jika saja saya tidak mengontrol diri, mungkin saya akan berteriak sekencang-kencangnya, karena bertemu denganmu membutuhkan seribu kali keberanian. bahwa untuk berdiri dihadapanmu saya harus melawan rasa takut saya sendiri.

karena didirimu termaktub semua rasa manusiawi yang Tuhan ciptakan, saya menyimpan semua rasa yang inginnya saya simpan sendiri dalam wujud dirimu.

saya pernah berkata bahwa pertandingan terhebat saya bukanlah di arena pertandingan taekwondo, melainkan harus berdiri dihadapanmu. semua kekuatan saya luruh, berlebihan memang, tapi ini yang saya rasakan. ucap saya saat itu pada pelatih saat saya dan kamu memutuskan berpisah.

dikotamu, saya menikmati semuanya…apa-apa tentangmu. saat kau berjalan, berbicara (meski dengan bahasa yang tidak saya pahami), caramu tertawa, dan…apakah kau sempat memandangiku? mungkin saya saja yang terlalu percaya diri bahwa kau memandangiku dari ujung matamu.

hari berlalu begitu cepat, tapi kali ini saya tak lagi memaki waktu, karena sudah berbaik hati memberi kesempatan pada saya bertemu denganmu. apalagi yang paling indah selain akhirnya saya bisa menikmati senja dikotamu, disampingmu, bercerita tentang banyak hal, mendebatkan hal-hal sepele…

saya menyerahkan bingkisan coklat padamu, bingkisan ulangtahun yang mungkin tidak lagi jadi hadiah yang istimewa, karena datang terlambat.

sore, ketika duduk berdua denganmu, sungguh saya hanya ingin memiliki waktu sedikit lebih banyak lagi denganmu, jangan datang gelap..jangan datang gelap, karena saya tau kamu harus pergi saat gelap datang. sungguh saya rindu dengan tangan dingin dan kecup hangatmu, jika saja saya memiliki keberanian lebih saya ingin berbisik ditelingamu; saya rindu…..

dan saya pun kembali pulang menuju kotaku, jogja, yang selalu ramai dengan pendatang. saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan; menikmati senja dan berbincang denganmu, dikotamu. sudah itu cukup bagi saya.

saya pulang menyimpan segala hal tentangmu, tentang apa yang diceritakan oleh sahabatmu, tentang firasatmu akan kedatanganku. saya pulang menyimpan segala bentuk tentangmu, tentang dirimu. ini adalah hari terbaik.

*untuk Tuhan, terimakasih atas waktunya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s