perempuan yang bergegas karena hari ini terlalu singkat

She’s not coming home tonight, she says that she’s left forever…and you’re staying in the house where she’s going to live forever.

saya sudah merapikan semua yang akan saya bawa, koper coklat sudah siap. warna biru yang pertama yang akan saya masukkan kedalam koper. warna biru bukan seperti biru langit hanya biru, biru saja. biru yang akan saya bawa, sudah rapih terlipat didasar koper coklat.

merah pun menanti untuk dirapihkan. warna merah yang akan saya lipat dan tempatkan diatas biru, lalu hitam yang terakhir yang akan saya bawa. mungkin ada sebuah perayaan hingga hitam yang pertama yang akan saya kenakan, lalu merah yang bisa mengingatkanmu akan sebuah lelucon dan biru sebagai pelengkap di ujung hari.

saya sudah siap, hari ini terlalu singkat saya harus bergegas meski kereta tak mungkin mampir disini, dan tak ada bis yang bisa mengantar saya ke…..hmmm….ke….saya hanya harus bergegas…bergegas pergi.

saya mungkin akan pergi untuk waktu yang lama, hingga nanti ketika kembali saya akan menemukanmu dengan rambut putih bergelantungan dikepalamu, dengan kacamatamu yang semakin tebal, dan kau akan berbicara pelan dan terbata-bata.

seberapa renta kita saat berjumpa nanti?

mungkin tanganmu tak lagi kosong, ada warna dari dalam rumahmu (yang jujur saja sempat saya impikan menjadi rumah kita). ada tawa nyaring dari meja makannmu, ada marah menyeruak dari dapurmu dan pastinya ada mimpi bertebaran dikasurmu.

seberapa renta kita nantinya? dan seberapa banyak yang kita lupakan?

perjalanan saya akan panjang, kelak saya mungkin akan bertemu orang lain yang tidak berbau lumut seperti kamu, tidak dingin sepertimu. mungkin badannya akan berdebu dan tubuhnya kering seperti pohon di padang tandus. dan mungkin saja, kamu yang lebih dulu menemukan orang lain yang lebih lembab aromanya, yang lebih gelap tatapannya, yang lebih……….yang pasti tidak seperti saya.

jika kau datang ke ruangan ini, tolong lihat jam yang tergantung di dinding. lihat baik-baik debunya. jika kau memiliki waktu tolong bersihkan agar waktunya bisa berjalan lagi. seperti katamu “waktu tak berhenti”. saat kau mengibas-ibas debunya, saat itu mungkin kita mulai berjalan masing-masing…bodoh! saya saja yang baru berjalan setelah sekian lama hanya diam dalam ruangan ini, menghidupinya dengan cerita-cerita, cerita kemarin tentang lengkungan senyum yang kau tinggalkan saat berlari juga tentang bahu yang memanggul luka…

While you’re waiting for the sun, the space around you is very quiet. So you breath in, close your eyes you can feel her warmth inviting you to dance…

saya harus bergegas karena hari ini terlalu singkat, tapi tunggu dulu ada hal yang ingin saya tanyakan. apa yang kita ingat tentang kehilangan? tidak ada dari kita yang bisa menjawab tentang ingatan atas kehilangan…..

kau akan tau rasanya kehilangan saat kehilangan berada persis sejengkal denganmu.

saya harus bergegas, sebelum matahari pergi ke barat, sebelum senja datang….dan aahh sial, saya lupa untuk  membawa’ini’, hmm bisakah saya menyebutnya benda sedangkan ‘ini’ tak berwujud. bagaimana bisa saya membawanya, saya terlalu malas untuk membuka lagi koper coklat dan menata kembali isi didalamnya sehingga ‘ini’ yang tak berwujud bisa muat dalam koper coklat itu. kau tau khan saya bukan orang yang ahli dalam menata sesuatu, apalagi saya harus bergegas karena hari ini terlalu singkat.

lalu dimana saya seharusnya menyimpan ‘ini’? sesuatu yang tak memiliki wujud seharusnya disebut sebagai apa? saya bingung. jika saya menyimpan ‘ini’ dalam koper, akan jadi berat nantinya, karena ‘ini’ akan membebani saya terus-terusan, bagaimana saya bisa berjalan jika koper terlalu berat untuk dibawa? dan bayangkan saja jika saya harus menggenggamnya betapa repotnya saya, tangan tak lagi bebas karena menggenggam ‘ini’ yang tak berwujud. saya tak bisa bebas menggenggam angin.

tunggu! bisa saja saya meletakkannya diatas tempat tidur ini, kelak kau bisa melihatnya saat kau menyalakan lampu kamar. atau mungkin saya meletakkanya diatas meja makan supaya menemanimu mengadu sendok dan garpu.

saya bingung, dimana seharusnya menyimpan ‘ini’? di ruang tamu kah? tidak, di kamar mandi? ah apalagi tempat lembab macam itu. atau teras? bagaimana kalau nanti ‘ini’ mampus dihabisi kecoak?

saya harus bergegas, meski kereta tak mampir, dan bus tak ada disini…saya harus bergegas dan bagaimana dengan ‘ini’?

sudahlah karena saya harus bergegas jadi ‘ini’ akan saya bawa, meski tidak mungkin saya simpan dalam dompet, kau tau betapa teledornya saya menyimpan benda yang disebut dengan dompet. saya akan membawa ‘ini’, menyimpannya di saku baju sebelah kiri. ‘ini’ akan berjalan bersama saya.

menyimpan ‘ini’ di saku baju sebelah kiri, sangat dekat dengan degup kehidupan…di tiap detik di ribuan degup ‘ini’ akan terus mengikuti saya….

karena ‘ini’ yang tersisa dari kamu, yang saya kumpulkan dari remah-remah waktu, yang pernah saya gantung di jarum-jarum mimpi. karena ‘ini’ adalah kumpulan tentangmu, saya membawanya, menyimpannya di saku sebelah kiri agar terus hidup.

and the memory is cruel, it reminds there’s no one new, time is nothing but a lie, if she’s not coming home tonight.
And your sleep will never be as good as it used to be….when the one you love is gone, when the one you love is gone.

saya harus pergi, bergegas pergi….oh ya saya menyimpan kunci di bawah keset kaki di depan pintu depan, mungkin kau akan datang…..

 

dengarkanlah lagu Russian Red – The Memory is Cruel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s