tiba saatnya

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting bagian yang tak kuingin. (Sajak saat Hujan_Aan Mansyur)

tiba saatnya, saat kau berlalu dan aku menanti gerimis yang manis di ujung jalan, membersihkan debu-debu sisa kenangan semalam.

sudah tiba saatnya, saat kau berjalan melewati pintu dan menutupnya perlahan agar tak membangunkanku, agar aku bisa selalu terlelap dalam mimpi; menanti ketika kau pulang kemudian mencium keningku.

sudah tiba saatnya, hari dimana kau meninggalkan sebuah kunci di antara perdu yang tumbuh dari jejak waktu, memaksaku tiba-tiba berlari sekedar untuk tidak kehilangan punggungmu

tiba hari dimana aku benar-benar membenci hujan karena tau kau lupa membawa jas hujan dan kotak bekal yang mulai dingin yang sengaja kau tinggalkan.

sudah tiba harinya dimana aku mencoba mengingat-ingat lagi apa-apa yang sudah terlewat, sekedar menghidupi waktu sembari berharap langkah-langkah dari kejauhan adalah langkah kakimu yang berat kembali pulang

sudah tiba saatnya aku pun keluar saat gerimis datang, tanaman perdu mulai merona, berwarna hijau dan aroma lumut membawa ingatanku tentang kamu yang pergi ke ujung jalan.

dan aku mengingatmu, melihatmu diantara lubang-lubang dijalan yang sengaja kuhindari agar tak jatuh, aku mengingatmu dengan jelas yang pelan-pelan kemudian mungkin akan pudar, seperti warna kuning yang mungkin akan layu

tiba-tiba aku ingat kamu diujung jalan saat yang terlihat hanyalah punggungmu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s