Ibu, apa itu rindu?

“ibu apa itu rindu?” tanya saya pada ibu yang sedang sibuk menampi beras. ayam-ayam liar berebutan remah-remahnya. ibu tak menjawabnya, matanya menatap butir-butir beras yang jatuh di sela-sela jari keriputnya. sepertinya dia sedang mencari jawaban atas pertanyaan saya.

sampai kemudian beras itu tanak, ibu belum juga memberi jawaban. “ibu apa itu rindu?”

malam datang bertamu, tak ada cahaya dirumah kecil ini, tidak semenjak bapak pergi. entah kemana dia. saya banyak mendengar jika nelayan tak pernah pulang ketika melaut, ketika ombak pasang. tapi bapak bukanlah nelayan, dia tak pernah melaut. dia pergi, pergi begitu saja. mungkin sebelumnya dia sempat berpamitan pada ibu, tapi pamit seperti apa itu saya pun tak tau. saya hanya ingin bertanya nanti padanya; “apa itu rindu?”

keesokan harinya, ibu kembali menampi beras, dan saya masih saja penasaran ingin mencari tau apa artinya rindu.

tapi seperti yang sudah-sudah; ibu pasti tak menjawabnya, dia hanya sibuk menampi beras kemudian memilih bulir-bulirnya. apakah ada jawaban diantara beras itu?

hari selalu sama, dan ibu selalu menampi beras tanpa kata tanpa suara, hanya suara ayam liar yang ribut berebut bulir beras yang jatuh

ibu tidak pernah menjawabnya, dia hanya menampi beras kemudian menanaknya, menaruh sesendok nasi panas dan duduk di dipan depan, matanya nanar menatap beras yang telah tanak menjadi nasi.

ibu tak pernah menjawab, mungkin bagi dia rindu adalah rutinitas menampi beras dan menanaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s