Catatan seorang anak tentara ….

Catatan ini saya buat untuk mengingat lagi bahwa saya adalah anak dari seorang tentara yang telah menghabiskan sebagian hidupnya untuk ‘negara’

Saya anak kedua dari seorang perwira Angkatan Darat, lahir dan besar di lingkungan militer membuat saya yakin dan semakin bangga terhadap profesi bapak saya.
Tiap hari saya selalu menyaksikan gagahnya para prajurit latihan; dengan seragam loreng, muka coreng – moreng, derap sepatu lars, dan kerasnya mars yang dinyanyikan oleh para prajurit menambah kekaguman saya terhadap tentara. Ya mereka pasukan yang siap mati demi negara, demi ibu pertiwi.

Demi negara…demi ibu pertiwi

Saya, anak perempuan dari seorang perwira Angkatan Darat yang mungkin secara tidak sadar telah kehilangan hal-hal sederhana tentang bapak – yang lebih memilih mengabdi pada negara.

Apakah orang yang menghujat tentara itu pernah merasakan apa yang saya dan saudara-saudara saya rasakan sebagai anak yang selalu berharap agar bapaknya bisa menghabiskan waktu selayaknya keluarga lain?

Apakah yang menghujat tentara itu pernah merasakan apa yang ibu saya rasakan saat suaminya pergi tugas dan resiko menjadi janda itu sudah pasti?

Apakah kalian yang menghujat tentara itu tau rasanya saat bapak memelukmu mungkin itu pelukan yang terakhir?

Saya anak perempuan dari seorang perwira Angkatan Darat yang dari kecil dididik tentang nasionalisme, tentang konsep NKRI adalah harga mati!

Saya adalah seorang anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa tentara adalah orang baik, patriot sejati dan sekali lagi apa yang mereka lakukan adalah untuk melindungi negara dan rakyatnya.

Saya, anak dari seorang perwira Angkatan Darat yang pernah duduk berhadap-hadapan dengan seorang anak Fretilin; kelompok pemberontak dan pengacau keamanan yang menuntut kemerdekaan Timor-Timur.
Saya duduk berhadapan dengannya yang kemudian bercerita tentang apa yang terjadi pada keluarganya, tentang bagaimana dia kehilangan bapaknya pada peristiwa Santa Cruz, tentang siksaan yang dia dan orang-orang Dili alami demi sebuah kemerdakaan.

Kami duduk berhadap-hadapan dan dari matanya ada dendam yang berkarat.

pak, saya duduk berhadap-hadapan dengan musuhmu…ya musuh sedarah pak…

Apakah bapak saya membunuh bapaknya? Apa bapak saya membuatnya jadi yatim? Apa bapak yang menyiksanya? Apa bapak pergi tugas hanya untuk membuat tanah jadi merah karena darah?

Saya anak perempuan dari seorang perwira Angkatan Darat, pernah disuatu waktu saya diajak oleh seorang kawan untuk bertemu dengan seseorang; seseorang yang dituduh komunis dan yang telah melalui banyak siksaan yang dilakukan oleh tentara.

Saya duduk dan makan bersama petani yang berjuang mempertahanka tanahnya, yang tiap saat harus berhadap-hadapan dengan pasukan loreng hijau lengkap dengan senapan dan sepatu larsnya.

Saya berkenalan dengan anaknya Wiji Thukul, anak yang dipaksa menjadi yatim karena hingga kini bapak mereka tidak diketahui keberadaannya.

Saya anak perempuan dari seorang perwira Angkatan Darat yang…..yang demi apapun itu merasakan ketakutan jika militer kembali berkuasa akan banyak anak-anak tentara seperti saya tumbuh dalam kebanggaan palsu, kebanggaan yang lahir dari darah orang lain.

Akan lebih banyak lagi tentara yang dipaksa menodongkan senjatanya di pelipis saudaranya agar lekas pulang, mencuci tangan dan bercanda dengan keluarganya.

Akan ada lebih banyak lagi sepatu lars yang tidak menapak di tanah melainkan didada orang yang dianggap pembangkang demi apa yang mereka sebut pengabdian pada negara.

Saya anak perempuan dari seorang tentara yang merasakan ketakutan yang amat sangat jika militer berkuasa, negara tak lebih dari moncong senjata, diam menjadi satu-satunya pilihan agar nyawa masih bisa menyatu dengan raga.

Saya takut jika negeri ini kembali dipimpin oleh militer…oleh orang yang membuat anak-anak menjadi yatim, oleh orang yang membuat seorang ibu berdiri bertahun-tahun hanya untuk mencari jawaban siapa pelaku pembunuhan anaknya? Saya takut jika kemudian entah bapak atau tentara lain pergi bertugas lalu kembali kekeluarganya tapi ada keluarga lain yang melolong kehilangan.

Saya takut, sebagai anak tentara saya takut…demi apapupn itu saya takut kehilangan kawan diskusi, takut berhadap-hadapan dengan anak yang menuntut kembalinya bapaknya…

Saya ingin negeri ini dipimpin oleh orang baik, oleh orang yang tidak menggunakan tangan bapak saya dan tentara lainnya menarik pelatuk senjata mereka atas nama pengabdian, tidak menggunakan sepatu lars bapak untuk menindas saudaranya.

Saya anak perempuan dari seorang perwira Angkatan Darat menulis catatan ini, berharap kelak tentara adalah benar-benar sebagai pelindung negara….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s