ingatan seperti apa….

jika kelak kau membaca deret-deret huruf yang merangkai kata-kata ini, ingatan seperti apa yang muncul dibenakmu? apakah kau membutuhkan sekian detik waktu untuk merangkai ingatan itu ataukah akan seperti kilat yang datang sekejap kemudian hilang dan hanya suara yang menggeletar tanda hadirnya?

sebagian mungkin berusaha untuk meneruskan perjalanan selepas perpisahan; sebagian kecil mungkin masih diam, menerka jalan seperti apa yang harus dilalui, dengan hati yang baru saja menghadapi perpisahan, dengan mata yang sibuk menahan lajunya air – dan saya; masih berdiri ditempat sama – menunggu.

kau memintaku untuk berbahagia. yakinlah bahwa kini saya bahagia, terlalu bahagia hingga saya membaginya pada setiap detik-detik waktu yang terus saja membawa bayangmu.

pernah ada satu masa, waktu begitu murah hati; membawa kamu yang nyata berdiri sekian detik dihadapanku – diantara banyak orang dan lampu-lampu, saya melihatmu ditengah keramaian. Layaknya bayang-bayang; kehadiranku mungkin tidak pernah kau sadari; seperti yang sudah-sudah, kau mungkin tidak akan pernah sadar. Saya masih ingat dengan jelas bahwa kau tidak bisa merasakan hadirku – entah siapa yang menjauh, saya atau dirimu?

ketika kau membaca barisan-barisan kalimat ini, ingatan seperti apa yang hadir dibenakmu? ataukah tak ada sama sekali?

saya masih mengingat dengan jelas sudut-sudut kota yang pernah kita lalui, lagu-lagu yang sering kita bicarakan, buku yang kita perdebatkan, dan…bagaimana kau menciumku – lembut dan manis.

ahh bukan, bukan sekedar ingatan seperti itu saja. Tapi ingatan tentang kamu yang memberi segala hal, segala hal yang sering saya tuliskan dalam larik-larik puisi, pada lengkung senyum akibat sapamu di pagi hari dan detak jantung yang belajar menahan rasa asing dan rasa sakit.

sebagian mungkin – selepas perpisahan – mulai berjalan, menyusun lagi apa-apa yang harus dilakukan ketika sunyi dan sendiri datang. Saya pun yakin bahwa kamu sudah berjalan jauh dengan peta yang kau buat atas dirimu – sedang saya seringkali mengunjungi tempat dimana kita berpisah. Tenang saja, saya tetap meneruskan hidup; menggambar peta perjalanan (dan tentu saja meletakkan kisah kita didalamnya). Katakan saja saya pengecut, pengecut untuk menghadapi kenyatan bahwa kita tak lagi seiring. Tapi percayalah setiap dari kita punya cara masing-masing untuk bahagia; dan ini cara saya bahagia…menunggu.

saya menunggu untuk melihatmu bahagia, melabuhkan hidup pada wanita yang akan melahirkan anak-anak lucu yang terus berlarian disekitarmu. melihatmu bahagia dengan satu per satu mimpi yang terwujud, bahagia dengan sederhana dan indah. saya menunggu meski tak ada bagian untuk saya dalam bahagiamu. Seperti yang saya katakan tiap orang memiliki jalan masing-masing untuk bahagia.

kelak ketika kau membaca tulisan-tulisan ini, tolong katakan ingatan seperti apa yang hadir dibenakmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s