Maafkan saya…

Sore ini, saat saya masuk ke ruang redaksi online selepas mengobrol dengan Pak bos, Farid Gaban, mengenai dunia seorang kuli tinta, Redaktur Pelaksana saya tiba-tiba menyuruh saya untuk mencari tahu  alamat seseorang. “Cek email kamu, saya ingin kamu cari tahu tentang dia dan keluarganya,” ujar Redpel saya.

Saya lalu mengecek email dan menemukan tautan ke laman berita, cek disini.

Ada perasaan yang tiba-tiba menghantam saya dan membuat saya berpikir bahwa kematian dari seseorang yang dituduh sebagai begal, akibat dikeroyok masyarakat, merupakan kematian dari rasa kemanusiaan kita.

Orang yang dituduh begal itu, saat ini sedang terbaring kaku dikamar jenazah sebuah Rumah Sakit di Jakarta. Istrinya tak mampu membawanya pulang dan menguburkannya dengan layak, karena tidak ada uang. Dia, yang dituduh begal, pamit ke istrinya untuk mencari duit bagi anak mereka yang sakit.

Bagi saya, ini merupakan kejahatan kolektif, bahwa ada orang yang melakukan tindak kejahatan karena lapar, miskin dan tertekan secara ekonomi, adalah karena kita, karena sistem. Kita pun penjahat.

Malam ini saya ditugaskan pergi ke Rumah Sakit tempat dimana dia dibaringkan dalam ruang pendingin. Saya hanya tidak tahu harus bersikap apa, dan seperti apa menghadapi sebuah keluarga yang baru saja kehilangan sosok ayah, akibat dikeroyok masyarakat.

Saya merasa, saya pun turut membunuh ayah mereka. Maafkan saya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s