Saat Malam Takbiran

“You know that you missing home when you are away”

KRI Banjarmasin 592, 17 Juli 2015 pukul 02.42 WIB

Kumandang takbir menggema melalui pengeras suara berukuran kecil di geladak Heli, KRI Banjarmasin 592. Setelah hampir 3 bulan kapal milik TNI – AL ini mengarungi samudra dan mengelilingi hampir separuh bumi. Sempat terbersit kekhawatiran jika kami harus melewati perayaan Idul Fitri di negara orang. Untung saja itu tidak terjadi. Kini kapal telah bersandar di pelabuhan Belawan, Medan.

Meskipun telah berada di tanah air, saya tetap tidak bisa merayakan idul fitri bersama keluarga. Dan ini pengalaman pertama saya.

Saya tahu banyak dari kita memutuskan untuk tidak mudik dengan alasan masing-masing. Saya pun yakin mereka paham dengan konsekuensinya, tidak ada ketupat lebaran, opor ayam, dan ritual sungkeman. Sendiri menikmati perayaan kemenangan.

Saya tidak sendiri merayakan hari kemenangan. Saya bersama paara tentara yang telah terlatih menahan rindu pada keluarga dan beberapa wartawan yang selama 3 bulan ini telah menjadi karib saya.
Definisikan apa itu rindu?

Melalui media sosial saya tahu -seperti biasanya- arus mudik yang membuat macet beberapa ruas jalan, Jogja yang mulai ramai dengan para pemudik, foto opor ayam dan ketupat, jokes ‘kapan nikah’ mulai memenuhi timeline saya. Dan rasa rindu pun memenuhi dada saya saat ini. (Saya mulai mewek)

Saya rindu bukan pada opor ayam, ketupat, atau jejeran toples yang penuh dengan kue kering. Tapi saya rindu saat-saat membersihkan rumah menjelang lebaran, merapihkan koleksi kerang yang saya dan saudara-saudara saya kumpulkan saat masih kanak-kanak.

Saya rindu mengelap kaca jendela rumah menggunakan koran basah, mengepel lantai dengan ampas kelapa, mengganti korden, dan saya hanya rindu rumah.

Saya rindu ingin merasakan kembali saat-saat harus menahan kantuk sambil membuat kastangels. Saya kini bertanya-tanya apakah kue coklat yang hanya dibuat saat saya dan saudara-saudara saya berkumpul saat malam lebaran, tersaji kali ini. Kue yang tahun ini dibuat tanpa saya.

“Jangan sedih, kita semua pasti melewati masa-masa seperti ini. Lama-lama terbiasa,” ujar salah seorang anggota TNI – AL pada saya.

Meskipun saya anak seorang tentara, dan bukan tipikal anak rumahan, tapi lebaran kali ini membuat saya sedikit cengeng.

Mencoba untuk biasa. Saya yakin masa-masa seperti pasti terulang lagi. Memang, yang pertama selalu berat.

Belajarlah menahan rasa rindu. Karena rindu itu membahagiakan.

Selamat Lebaran bagi para perindu…

image
Sejadah telah siap di hanggar heli
image
malam takbiran dan belah (se)buah duren
image
nongkrong di hanggar heli saat takbiran
image
suasana pasar kota Belawan
image
speaker yang mengumandangkan takbir
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s