Firasat

Jika firasat ini bisa membawaku padamu, bawalah sekarang juga

Kita tidak pernah bisa membedakan apakah rasa yang datang tiba-tiba adalah sebuah firasat – pertanda akan sesuatu hal atau hanya perasaan cemas saja. Saya pernah merasakan sebuah perasaan yang saat itu saya terjemahkan sebagai sebuah firasat. Perasaan yang membuat saya tidak bisa tidur selama berhari-hari.

Saat itu saya merasa saya harus menghubungi keluarga di rumah. Apa daya hal itu tidak mungkin saya lakukan karena berada di tengah lautan, tidak ada sinyal. Saya sampai memberikan kata kunci akun email dan social media saya kepada seorang perwira AL yang bertugas di bagian komunikasi untuk setidaknya mengecek jika saja keluarga saya mengirim pesan.

Saya hanya bisa menangis. Menangis karena tidak bisa menahan segala hal yang saya rasakan. Ya, saat itu saya menjadi sangat cengeng sekali. Jauh dari keluarga itu tidak masalah, namun segala macam rasa membentuk hal yang kemudian saya terjemahkan sebagai sebuah ketakutan membuat saya sebagai seorang yang cengeng

Saat kapal berlabuh, saya pun bergegas menghubungi kedua orang tua dan saudara-saudara saya. Jika saja mereka melihat saya saat itu pastilah mereka tidak percaya bahwa anak perempuan yang selama ini selalu jauh dari keluarga bisa mengucurkan airmata hanya karena mendengar suara mereka dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Ibu, saya sayang ibu dan bapak..

Bisik saya sesaat setelah percakapan dengan orang tua saya berakhir. Ternyata perasaan yang membuat saya tidak bisa tidur dan menjadi cengeng adalah perasaan rindu.

Kali ini rasa itu datang lagi. Perasaan yang membuat saya kembali menjadi perempuan cengeng. Saya tiba-tiba memikirkan dia yang entah saat ini berada dimana. Terkutuklah teknologi yang bahkan secanggih apapun tidak bisa menjangkaunya.

Yang bisa saya lakukan kali ini mencari bintang yang selalu ditunjukkan kepada saya. Bintang berbentuk layang-layang yang dengan nada bangga dia mengatakan  sejak kecil setiap melihat ke langit formasi bintang itulah yang dia lihat.

“Rin, kalau liat bintang bentuk layang-layang, ingat saya ya, harus sebut nama saya,” ujarnya.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

“Karna bintang itu tidak akan membuat saya tersesat. Jadi kalau kamu tersesat liat bintang itu dan ingat saya, semua pasti lancar,” jawabnya dengan senyum khas.

Perasaan-perasaan itu saya coba terjemahkan menjadi sebuah rasa takut. ketakutan akan hal yang sepatutnya tidak perlu saya takutkan. Ini hanya sebuah firasat biasa, firasat dari seseorang yang tak sempat mengucapkan rindu.

“Jika kau rindu, katakan. katakan agar dia tahu bahwa kau rindu,”

Malam ini saya akan mencoba menerjemahkan setiap perasaan yang datang bertubi-tubi, membentuk tanya, yang kelak akan terjawab entah kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s