Tersesat

Kalau kau tersesat, lihatlah ke langit ada bintang aku disana. Kau pasti menemukan jalanmu.

Suatu malam saya melihatmu duduk sendiri, menikmati debur ombak samudera Hindia. Saya pun datang menghampirimu.

“Wooo, kok melamun?” tanya saya.
“Eh malah ngagetin, sini lho duduk sini,” ujarmu sambil menggeser posisi duduk agar ada ruang untuk saya duduk.

Sambil memasang headset agar terhubung dengan ponsel, saya menyodorkan sekotak susu coklat.

“Nih mas, susu, biar sehat. Kalau gak sehat kamu mati nanti.”

Kamu pun tertawa.

Saat itu kita duduk bersisian namun tidak saling berbicara; saya sibuk melihat hasil jepretan saya seharian tadi sambil mendengarkan musik, dan kamu yang hanya diam memandang langit. Sesekali kamu menarik napas dalam-dalam.

“Apa kamu pernah tersesat Rin?” tanyamu tiba-tiba.

“Tersesat? Seringlah, saya tipe orang yang gak bisa baca peta,” jawabku.

Kau kembali diam. Saya tidak tahu berapa lama kita terdiam. Cukup lama sepertinya. Tiba-tiba kau melepaskan headset yang menempel ditelingaku sambil berkata “kamu lihat bintang itu gak?” sambil menunjuk ke satu arah di langit.

“yang mana? yang terang itu?” tanya saya.

“Iya, coba hitung ada berapa bintang yang terang?” ujarmu.

“Banyak, semuanya terang,” ucap saya sekenanya.

“Serius lho Rin, kalau kamu bisa hitung kamu bisa lihat bintang-bintangnya jadi bentuk khas,” ucapmu.

“Maksudmu rasi bintang?” tanya saya sambil terus memperhatikan bintang-bintang yang kau tunjukkan.

“Udah keliatan belum?” tanyamu penasaran.

“Udah, kayak bentuk layang-layang, apa rasi bintang layang-layang ya? tapi kalau layang-layang tuh kayak salib, bukan persegi trus ada ekornya gitu,” ucapku.

“Emang kamu tau rasi bintang?” tanyamu tidak yakin.

“Tau dong, saya suka astronomi, pernah selo banget nongkrong di Boscha cuma buat liat bintang-bintang,” kataku.

“Kayaknya itu bukan layang-layang, saya lupa, tapi kayaknya rasi bintang ursa major deh, eh gak tau, saya lupa,” ucapku sambil terus memperhatikan ke arah bintang-bintang yang dimaksud.

“Itu ursa major. Saya tahu namanya waktu masih pendidikan, ada kelas astronomi. Padahal saya sering melihat bintang-bintang itu sejak kecil, tapi gak tau namanya, rasi bintang itu selalu muncul. Kemana pun saya pergi, rasi itu selalu ada ” ujarmu.

Kamu menarik napas dalam-dalam, seolah ada beban yang ingin kau lepaskan. Kau pun melanjutkan cerita.

“Waktu kecil hidupku susah, yaa..sampai sekarang sih, tapi setiap lihat bintang itu saya jadi tenang, pikiran yang ruwet bisa lepas gitu aja,” ujarmu.

Sekali lagi kita terdiam.

“Rin, kalau kamu tersesat, lihat ke langit, cari rasi bintangku. Kamu pasti nemuin jalan yang kamu cari,” ujarmu.

Kita kembali terdiam, melihat bintang-bintang di langit, menikmati debur ombak di tengah lautan luas. Kita hanya menikmati sunyi.

******

Jakarta, November 2015

Hujan mengguyur kota yang telah lama meranggas. Bau tanah yang dirindukan datang seperti kenangan yang tiba-tiba menerobos ingatan.

Apakah malam ini kau bisa melihat bintangmu? Karena saat ini tak ada bintang dilangit, tak pernah ada bintang di kota ini. Apakah ini yang membuat aku tersesat? menjauh dari kamu? Tolong beri petunjuk kemana aku harus mencarimu, mencari bintangmu. Aku tersesat. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s