Laki-laki dan Permohonan untuk Jatuh Cinta

Aku hanya ingin jatuh cinta lagi Rin. Jatuh cinta kepada perempuan yang bisa selalu membuatku tertawa, jatuh cinta tanpa syarat. 

“Kau tau apa yang aku minta di depan Ka’bah?” tanyamu.

“Tunggu, jawabannya agak lama karena saya harus bertanya sama Tuhan dulu soal doamu,” ucap saya setengah bercanda sambil mengisi botol air mineral dengan air zam-zam.

“Udah penuh nih, yuk balik ke rombongan,” ajak saya.

“Aku mau jatuh cinta Rin. itu doaku,” ucapmu tiba-tiba.

Saya merasa ada yang bergetar di dada, sedikit perasaan takut dan bertanya-tanya mengapa doa seperti itu yang kau panjatkan? Apakah Tuhan telah memberi tahu perempuan seperti apa yang akan membuatmu jatuh cinta?

Saya menatapmu, laki-laki yang berdiri didepanku penuh dengan luka masa lalu.

“Ayo,” ujarku sambil berjalan mendahuluimu.

****

“Aku pernah terluka, meninggalkan seseorang tanpa alasan. Sekarang aku menyesal,” ujarmu di suatu malam.

“Apa kau pernah jatuh cinta Rin?” tanyamu.

Cukup lama aku terdiam. Mencoba berpikir jika hubungan yang aku jalin di masa lalu bisa diartikan bahwa aku pernah jatuh cinta. Seperti apa rasanya? apakah jatuh cinta itu adalah perasaan aneh yang menjalar, menggelitik seluruh tubuh? Apakah seperti itu.

“Pernah,” jawabku singkat.

“Dan tidak bertahan lama, entah dia atau aku yang memutuskan pergi. Aku tidak nyaman di sebuah hubungan,” jelasku.

“Wah..kamu kacau juga,” ujarmu.

Aku cuma tertawa.

Kau lalu bercerita, mengenai masa kecil yang menurutmu tidak menyenangkan, mengenai cita-cita yang tak terwujud, tentang dendam yang kau rasa masih menganga di dada, hingga perasaan bersalah pergi dari kehidupan seorang perempuan yang telah menunggumu. Pergi begitu saja.

Siapakah kita? Dua pesakitan yang sedang berbincang mengenai luka, tentang lalu dan ketakutan tak beralasan.

****

“Aku ingin jatuh cinta Rin,” ucapmu.

“Saat aku berdoa untuk jatuh cinta, ternyata aku jatuh cinta pada masa laluku,” lanjutmu.

Kali ini aku menatapmu tajam, seolah-olah apa yang baru saja kau katakan hanya sekedar lelucon. Lelucon yang ingin sekali aku tertawakan, tapi tidak bisa.

“Temui dia, katakan apa yang dari dulu ingin kau katakan,” ucapku.

Ada rasa sakit menjalar, hingga membuatku merasa berat untuk bernafas.

“Tidak mungkin,” ucapmu lagi.

“Temui dia, ucapkan maaf, kamu laki-laki tidak boleh jadi pengecut. Temui dia,” tegasku.

Kamu menatapku dalam. “Aku mohon untuk bisa jatuh cinta, tapi tidak mengira seperti ini,” katamu lirih.

“Temui dia, katakan apa yang mau kamu katakan. Kau bisa berjalan lebih tenang,” ujarku.

Lama kita diam, angin malam semakin tidak ramah, membuatku menggigil.

“Temui dia, tapi ingat apa pun keputusanmu, layaknya api, kau akan terbakar didalamnya.” ujarku sambil beranjak berdiri.

“Kamu tinggal memilih, api seperti apa yang membakarmu, tapi jangan pernah menyesal.”

Aku meninggalkanmu terdiam di malam itu. Entah kau sadar atau tidak, api yang kau pilih telah membakarku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s