Marah

Saya tidak pernah semarah ini, bahkan tidur dalam keadaan marah pun selalu saya hindari. Tapi sekarang keadaan berubah. Malam dilalui dengan perasaan marah yang melelahkan hingga pagi tiba saya harus berusaha untuk menganggap semua baik-baik saja.

Saya menjadi seorang yang membenci dengan hebat, memiliki dendam yang kuat, hingga perasaan itu menjadikan saya sebagai seorang pemarah.

Saya benci pada orang yang menulis banyak hal tentang kemanusiaan tapi nyatanya mereka lebih busuk dibandingkan bangkai. Ingin sekali menampar wajah mereka!

Ketika saya bilang ” saya dilecehkan,” dan mereka hanya berkata “itu hanya becanda saja, jangan berlebihan,” saat itu saya ingin sekali memotonng lidah mereka, menyayat tangan mereka dan mencongkel mata mereka agar tak lagi berbicara, menulis, dan melihat hal-hal yang sebenarnya tak pernah mereka bela dan yakini.

Anjing, bahkan makian tersebut terlalu baik bagi pengecut macam mereka. Anjing masih berani untuk membela apa yang mereka yakini, yang mereka jaga, sedang pengecut hanya sembunyi dibalik topeng ketenaran.

Saya marah. Marah hingga dada ini mau meledak..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s