Wis, Indonesia Jo

Ngana so rupa orang Jawa do sekarang,” ucap seorang kawan. Saya bingung, seperti orang Jawa bagaimana yang dia maksud.

ngana bicara bahasa Manado, mar depe logat Jawa, Manado murtad,” jelasnya lagi sambil tertawa. (Kamu berbicara dengan bahasa Manado tapi logatnya Jawa).

Kami pun tertawa.

Setelah hampir 11 tahun tinggal di Semarang, pastinya cara saya berbicara berubah; meski dirumah masih berbicara dengan bahasa Manado.

Saya dan saudara-saudara saya merupakan ‘produk’ dari dua budaya yang berbeda; bapak berasal dari Jawa, ibu yang campuran Manado-Makassar. Bisa dibayangkan betapa gado-gadonya keluarga kami.

Selain budaya yang berbeda, dirumah pun agama kami beragam. Mulai dari Islam, Kristen hingga kepercayaan ala orang Manado. Setiap tahun pasti kami merayakan lebaran dan natal, ada ketupat disamping pohon natal so biasa.

Indonesia itu ada di keluarga kami. Saya juga yakin ada di keluarga-keluarga lain, karena jika berbicara mengenai Indonesia tidak melulu soal Jawa, tapi juga Papua. Tidak hanya Islam, tapi juga Kristen bahkan aliran kepercayaan.

Tidak semua orang bisa menerima keberagaman dan perbedaan. Saya ingat, sewaktu saya pindah ke salah satu SMA negeri di Semarang, salah seorang guru bertanya asal saya. Saya pun menjawab Manado, karena saya pindah dari kota itu.

“oh kamu orang Manado,” tegas guru saya.

“Bukan, saya orang Indonesia yang berasal dari Manado,” jawab saya.

“Manado itu, kok kamu ngeyel,” ucap guru saya dengan mata melotot.

lha bapak saya Jawa kok. Jawa, Manado itu Indonesia, jadi saya Indonesia,” ucap saya juga sedikit marah. Sedikit saja marahnya, mengingat status yang masih menyandang ‘anak baru’ di sekolah itu.

“bocah kok ngeyelan, muleh kono neng kampungmu,” kata guru saya dengan menggunakan bahasa Jawa yang tidak saya pahami.

Meskipun bapak saya Jawa, dirumah kami tidak pernah berbicara dengan bahasa Jawa. Satu-satunya bahasa Jawa yang kami gunakan adalah dalem yang kami ucapkan jika dipanggil oleh bapak atau ibu.

Teman sebangku saya pun mengartikan kata-kata guru saya. Setelahnya saya pun beranjak berdiri menuju meja guru dan berkata: “Ngana jo pigi jauh nyanda usah bale nyanda bae ngana pe cara jadi guru.”

Guru saya terlihat bingung dan bertanya apa yang saya maksud. Saya pun bilang kepadanya cari tahu sendiri, karena seperti yang dia bilang sebelumnya, guru itu maha tahu.

Keberagaman itu ada disekitar kita. Sayang sekali jika dari tempat yang dianggap bisa membuat kita jadi generasi penerus bangsa, mendidik dengan cara seperti yang guru saya lakukan.

Konflik antar agama dan suku yang kian marak merupakan tanda gagalnya mental kita yang tidak siap dengan perbedaan. Kita sering melihat agama kita yang paling benar, suku kita yang paling unggul. Saya pun berpikir, Hitler udah pindah ke Indonesia ya?

Sudahlah, berhenti bertanya “apa agamamu?” “asalmu darimana?”
Cukup jawab wis Indonesia jo!

Karena Indonesia itu bukan kamu, bukan kulo, atau ngana, atau beta. Indonesia itu bukan Islam dan Jawa saja. Indonesia terlalu luas dan susah didefinisikan, karena Indonesia itu beragam.

Oleh Irine Wardhanie, Mahasiswa Sanata Dharma Jogjakarta.
Ditulis untuk diikutsertakan dalam lomba menulis kreatif, Festival Media AJI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s