My First Fellowship

Setelah cerita mengenai tawas yang disita petugas bandara Juanda dan nasib ketek yang untuk sementara harus rela pakai deodoran, saya mau cerita tentang fellowship yang untuk pertama kali saya dapatkan…yeaaayyyyy….

AJI bekerjasama dengan British Council mengadakan workshop science journalism..duuh topiknya berat yaak…tapi saya mengumpulkan niat dengan penuh tekad untuk ikutan workshop ini, karena jujur penasaran banget dengan hal-hal yang berkaitan dengan sains. 

Sebagai seorang jurnalis harus banyak tahu, gak melulu soal teroris karena saya sudah cukup terteror dengan kamu iyaaa kamuuuu..*lirik foto mantan* Setelah menunggu cukup lama, bahkan saya sampai lupa, tiba-tiba ada email masuk, pas dibaca yeeeaaahh lolos ikut workshopnya yang diadakan di Surabaya. 

Flashback ke awal-awal mendaftar, saya sampai nanya ke mantan yang lulusan Biologi (uhuuukk) soal berita apa aja yang biasanya dibaca oleh anak-anak sains. Saya bahkan minta pendapat ke rekan kerja soal usulan liputan sebagai syarat ikutan workshop. Dua-duanya tidak memuaskan, binguuuung euy…sampai akhirnya si ide nyantol..oke saya lalu kontak salah seorang kenalan yang memang berkecimpung dibidang tersebut. Corat – coret, baca bolak-balik segala hal sampai baca jurnalnya dan makin mantap saya mendaftar dengan ide ini. Apa idenya? rahasia, karena ketika workshop berlangsung, kami para peserta dianjurkan untuk menggunakan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang dihadirkan di workshop tersebut. Jadiiiii usulan yang saya ajukan mau tidak mau saya simpan jadi ‘tabungan’ liputan.

Sampai di Surabaya dan Workshop dimulai.​

Hari pertama, para peserta diperkenalkan mengenai segala hal tentang sains. Meskipun sudah melalui banyak proses, jurnalis tetap harus bersikap skeptis dan kritis terhasap hasil penelitian bahkan peneliti itu sendiri kalo gak mau kejebak dengan pseudoscience.

Hari kedua kami berkeliling secara berkelompok untuk berbincang-bincang dengan peneliti sambil menggali hal-hal yang bisa diajukan dalam presentasi nanti.

ketika bertemu dan berbincang dengan para peneliti

Setelah berbincang-bincang dengan para peneliti, yang jujur bikin saya mumet banget karena harus segera dibuat draft penelitiannya, akhirnya saya ambil salah satu topik mengenai TKW. Ini merupakan hasil penelitian peneliti dari Univ. Brawijaya, yang membahas soal left behind children. Subject penelitannya di Ponorogo dan Malang, dan untuk liputan ini saya ajukan ke Kupang, karena kondisi TKW disana jauh lebih miris karena rata-rata pergi merantau dengan status ilegal. Kalau ditanya sebelah mana unsur sainsnya? lhaaa ini khan sosial sains jadi masih ada dong hubungannya :p 

Waktu presentasi draft liputan

Mumet bikin draft liputan

Setelah presentasi, para juri yang terdiri dari AJI, Society of Indonesia Science Journalist (SISJ), dan British Council – Newton Fund, mengadalan rapat kecil untuk memutuskan siapa yang berhak dapat fellowship.

Setelah menunggu dengan dag dig dug….gak ding, saya sih nunggu sambil ngunyah lemper, klappertart, pie buah dll, yang disediakan panitia; akhirnya diumumkanlah para penerima fellowship. 

and when they called my name, it surprised me …

Karena saya merasa saya belum mempresentasikan dengan baik dibandingkan teman-teman jurnalis lainnya. Tapiiiii….seneng juga soalnya baru pertama dapat fellowship….

Foto bareng dulu

Sekarang waktunya perbaiki TOR dan nunggu pengumuman siapakah mentor saya…..

How lucky I’m

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s