menghapus kamu

tanda titik telah tiba, tanda yang seharusnya sudah aku sematkan di hari ketika kau memutuskan untuk sudah…

Di tanggal yang sama lima tahun lalu tepatnya seminggu selepas kau memilih untuk berjalan sendiri, aku sibuk menyeka air mata, mempersiapkan pameran patah hatiku, yang kupikir bisa jadi penyembuh luka, yang kukira bisa menjadi penawar duka; nyatanya tidak. Selepas pameran, aku masih saja berusaha untuk melipat jarak agar bisa bertemu denganmu. 

Lima tahun setelahnya, kita kembali jumpa. Aku merasa menjadi perempuan paling bahagia di muka bumi, semesta mengabulkan doaku, doa yang kurapal ditiap pergantian hari, “aku ingin sekali lagi bertemu dengannya.” Meski kemudian aku harus menahan rasa sakit, aku meminta pada hati ini agar sedikit lebih kuat dari yang seharusnya, sedikit lebih sabar dari yang semestinya, karena aku tau pertemuan ini tak ubahnya sebagai pelengkap patah hatiku. Aku tau kau tak lagi sendiri, tapi saat itu aku hanya meminta waktu lebih bermurah hati karna pertemuan ini yang aku nanti selama lima tahun, meski aku harus terluka meski harus menahan tangis, dan hati yang mungkin sudah terlatih akan patah hati; bertemu denganmu adalah hal yang paling aku inginkan. 

8 Oktober 2017, 

Aku mengumpulkan segala keberanianku, tidak memperdulikan rasa takutku, ketakutan bahwa setelah hari ini aku tak bisa lagi bertemu denganmu. 

Aku tak berani menatapmu dan aku tak mampu menahan air mata yang selama ini aku tahan agar tidak mengalir ketika bertemu denganmu. 

terimakasih, terimakasih Ung telah datang dan mengisi hari-hariku, meski hanya sebentar. Ung adalah kado dari semesta untuk aku, agar bisa jadi lebih baik, agar menghargai hidup dengan baik. Terimakasih. 

Bumi perkemahan Sukamantri, 11 November 2017, 

Ung apa kau ada diantara kerlip lampu kota dibawah sana? apa kau sedang tidur sekarang? 

Sudah lama tidak merasakan tidur dibawah bintang, merasakan kedinginan, meresapi sunyi di belantara. Malam ini dari kaki gunung Salak, aku melihat lampu-lampu kota Bogor, dan aku mengira-ngira dari sekian ribu kerlip lampu itu, yang manakah lampu yang malam ini menemani tidurmu. 

Hujan mulai turun membasahi tendaku, aku merapatkan jaket dan kemudian larut dalam irama hujan; irama yang membawaku memutar kembali segala hal yang sudah aku lewati dan segala hal yang aku lewatkan. Aku mengingat lagi hal-hal tentang kamu Ung, dan kemudian aku menyadari sesuatu, hal yang selama ini aku abaikan atau mungkin aku coba abaikan. 

Selama kita bersama, kita tak pernah benar-benar menjadi kita. Bahwa aku yang berusaha untuk menjadi kita, sedang kau hanya diam. Kita tak pernah memiliki kenangan-kenangan, hanya puisi-puisi hambar, email-email yang dingin, pesan-pesan yang tak bermakna. Segala hal yang aku pikir memiliki arti ternyata tak berarti bagi kamu. Segala hal yang kusimpan sebagai kenangan, ternyata bukan kenangan untuk kamu. Aku menghidupi kenangan itu, aku membawanya selama ini karna aku takut kehilangannya, karna didalamnya ada kamu. 

Aku tidak pernah sadar, atau mungkin aku yang tidak mencoba untuk menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi seseorang untukmu Ung. Aku adalah masa lalumu yang tak pernah ada. 

Jakarta 12 November 2017, 

Hujan sore ini. Aku lupa kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati hujan, tanpa keluhan, tanpa khawatir. Tapi sore ini aku benar-benar menikmati hujan, berjalan dibawah rintik hujan hingga kuyup. Aku benar-benar menikmati hujan sore ini. 
Aku memutuskan, ini saatnya menghapus semua tentang kamu, aku akan menghapus semua jejak-jejak tentangmu. Satu-satunya yang tak bisa aku hapuskan adalah ‘kamu yang membuat aku menjadi seperti sekarang, membuat aku menjadi orang yang kembali percaya kepada mimpi dan berusaha keras untuk mewujudkannya.’

Jika aku pernah mengatakan bahwa aku akan menukar apa yang aku miliki sekarang agar bisa kembali denganmu, aku menarik kembali ucapan itu karna yang tepat adalah ‘aku akan menjaga apa yang aku punya, apa yang aku capai sekarang, karna itu adalah hal terbaik yang kau ajarkan kepadaku, menjadi orang yang lebih baik.’ 
people came into our life for a lesson and a reason, and for me, you were both Ung, you taught me how to appreciate life and how to live my life even you were not aware of it, and you were not realize how it means so much for me. 

Selama ini aku mengira jika aku yang kehilanganmu, nyatanya, kaulah yang kehilanganku. Atau mungkin yang tepat adalah, kita tak benar-benar saling kehilangan, karna akulah yang selama ini menghidupi kenangan itu, karna kau tak pernah benar-benar menginginkan hadirku. Akulah yang hidup dalam kehilangan itu. 

Bersama hujan sore ini, aku larung segala hal tentangmu, kau tak ada lagi Ung, meski aku harus akui bahwa kau masih menghuni ruang di perasaan ini, tapi ruang itu tak lagi kukunjungi. Aku menutup ruang itu rapat-rapat, aku jadikan ruang itu sebagai kuil tua yang kelak akan lapuk seiring waktu. Aku bersepakat dengan waktu dan berjanji pada pemilik semesta untuk berbahagia!

Karena aku tak pernah ada didirimu, dihari-harimu, aku tak pernah jadi masa lalumu. Tanda titik pun tiba di akhir kalimat. 

Advertisements

Insecure

Kalau kata temen sih ada dua hal yang banyak sekali terdapat dalam tubuh manusia yaitu ego dan lemak.

Jujur pas dengar apa yang dia katakan itu antara bikin ketawa dan tertampar, yang akhirnya saya sadar bahwa memang dalam diri manusia ego itu sangat tinggi sekali dan ego itu benar-benar membahayakan sifatnya negatif seperti yang sekarang saya rasakan.

Akhir-akhir ini saya merasa sangat insecure tapi ini bukan masalah asmara karena kalau masalah itu udah selesai saya sudah tahu harus jalan kemana. Insecure yang saya rasakan saat ini menyangkut soal pekerjaan. Jujur saya menikmati pekerjaan saya, saya menikmati profesi sebagai seorang jurnalis disebuah TV besar. Tapi kemudian ada beberapa hal yang kemudian membuat saya bertanya, sudah puaskah saya? 

Puas itu memang bagian dari ego, ego saya memang lagi tinggi-tingginya, saya tidak tahu sudah berbuat apa? berkontribusi apa? sudah membuat karya apa? semua pertanyaan itu muncul dan saya tiba-tiba merasa tidak berguna. 

Perasaan tidak berguna itu muncul karena saya merasa terasing, merasa teralienisasi (jelas soalnya saya masih manusia, kalo udah jadi alien pasti merasa ‘termanusiasi’), Itu hal yang paling membuat saya merasa insecure saat ini.

Oke let me explain, jadi saya bergabung di sebuah desk (istilah didunia kewartawanan yang berhubungan dengan fokus liputan) yang cukup aktif berdiskusi, sayangnya karena saya jarang mendapat penugasan yang berkaitan dengan desk tersebut saya merasa tertinggal, gak tau apa-apa dan ujung-ujungnya merasa tidak berguna karena tidak berkontribusi apa-apa. 

Sempat saya dipasangkan dengan salah satu koresponden yang sangat aktif dalam satu liputan, tema liputan yang spesifik lebih tepatnya karena saya juga memiliki ketertarikan yang sama. Sayangnya setelah itu saya tidak pernah mendapat penugasan yang sama, saya sering ditempatkan di tempat-tempat lain yang ujung-ujungnya saya mengeluh dalam hati, selalu mengeluh dan jujur mengeluh itu tidak enak, lebih ke berdampak negatif ke diri sendiri. Keluhan saya karena saya tidak menyukai liputan yang lain selain desk yang saya inginkan,  saya tidak mengerti ekonomi, saya tidak mengerti tentang olahraga tapi saya meliputi hal-hal tersebut yang menurut saya membosankan. 

Jujur banget pengen balik lagi meliput hal-hal yang saya senangi, tapi setelah saya ngobrol dengan kawan saya malam ini, dia mengatakan bahwa ini masalah ego, mungkin saja kantor menilai saya harus belajar di tempat lain dulu sebelum kemudian balik lagi ke desk yang saya inginkan, mungkin saja saya harus memang berpindah-pindah ke desk yang lain untuk upgrade skill, upgrade ilmu saya, upgrade isu-isu yang lain. Dan mungkin ini salah satu cara untuk keluar dari zona nyaman, karena menurutnya zona nyaman itu adalah bahaya laten. Kita jadi tidak tahu hal-hal lain diluar kita, hal-hal lain disekitar. Memang itu bahaya sih karena sebagai wartawan harusnya kita tahu banyak hal, selain hal yang kita senangi. 

Sial tiba-tiba saya menangis gara-gara ini, karena memang saya tidak ingin mengerjakan hal-hal yang tidak saya sukai. Saya masih bertanya kenapa saya harus menjalani ini sedang yang lain ‘ditanam’ di satu isu sampai matang, jadinya saya merasa jadi ‘produk setengah matang’ and it sucks! 

Kawan saya mengatakan zona nyaman itu bahaya laten dan lagi-lagi ini adalah masalah ego saya, hanya pikiran saya saja. Jadi harus tetap berpikir positif. Kita bisa menilai diri kita sendiri, tapi ada orang lain yang juga bisa menilai diri kita dari apa yang mereka lihat. Sedikit banyak saya sadar, setelah ngobrol dengan kawan saya itu, bahwa kita bekerja dengan orang lain dan ada banyak pertimbangannya, tidak selamanya kita terus menerus mengerjakan hal-hal yang kita inginkan, kecuali kita bosnya!

 Ada banyak hal positif  yang bisa saya ambil dari ini semua, salah satunya bisa dapat fellowship dan ini menjadi tantangan juga buat diri saya sendiri untuk membuktikan bahwa saya mampu kok jika dipindah ke desk lain.  Nah! saya sudah bisa bilang bahwa saya mampu untuk ada di desk lain. 

Perjalan masih panjang, baru 2 tahun aja di sini udah ngeluh kayak gini, padahal mungkin ini adalah tantangan dari kantor, yang tidak pernah saya sadar jika kantor ingin melihat saya jauh lebih maju. Setidaknya kelak ketika saya bertemu dengan orang lain dan kita berbincang hal-hal diluar apa yang saya senangi, saya mampu untuk menjawab jadinya tidak malu-maluin diri sendiri khan, masak wartawan bego sih!

Walaupun dalam diri sendiri masih ada perasaan tidak rela sih, namanya juga manusia ya pasti ada perasaan tidak rela. Perasaan tidak rela itu yang menimbulkan rasa negatif sih sebenarnya dan balik lagi, ego kita menutupi hal-hal positif, ego kita itu menutupi hal-hal baik yang disiapkan semesta. Orang-orang di sekitar kita adalah orang-orang yang dikirimkan oleh semesta buat bantu kita untuk mencapai apa yang harusnya kita capai.

Poin dari panjangnya tulisan ini adalah “Kill your ego and keep your positive attitude!”

Thank you Mbak Sisim for a great conversations tonight 😛 

di balik pintu

Di balik pintu itu,

sebuah ruang yang kering meranggas terbakar terik hari, senja tak jua datang

ruang yang menanti hujan, agar teduh bisa dirasakan barang sejenak

ruang yang entah diberi nama apa, ada di balik pintu itu

ruang yang lengang, yang angkuh menjulang diantara menara-menara lain

ruang yang berubah menjadi suar bagi yang sesat di belantara tanya

Di balik pintu,

tak ada apa-apa pun tak ada siapa-siapa yang tinggal

meski kisah tertoreh di dinding di balik pintu, penulisnya telah larut dalam rindu yang membunuhnya pelan-pelan, mengubahnya menjadi sarang laba-laba yang ditenun waktu

jika kau berkenan, berbaliklah dan berbicaralah apa yang telah kau lalui di hari kemarin, tentang musim dingin di senja yang abu-abu, tentang hujan di negeri pelangi.

berbaliklah dan ingat lagi, percakapan di pagi yang menggigil, dan tentang kota yang terburu-buru,

di balik pintu itu,

hanya ada rasa dingin yang menyeruak, dan seorang asing yang menanti hingga dia berubah menjadi laba-laba.